Jakarta (ANTARA) - Jakarta memproklamirkan diri sebagai Kota Global dan Berbudaya.Proklamasi ini bukan tanpa alasan, melainkan merupakan upaya kuat untuk menggabungkan modernisasi dengan budaya lokal Betawi.
Suku Betawi merupakan penduduk asli Batavia—kini Jakarta— dan sekitarnya, yang memiliki beragam warisan budaya seperti kesenian, tarian tradisional, makanan khas, busana, tradisi, dan lain-lain.
Beberapa kesenian ikonik khas Betawi di antaranya Ondel-ondel, Lenong, Tanjidor, dan Gambang Kromong. Selain itu Betawi juga memiliki makanan khasnya yang tersohor yaitu Kerak Telor, Soto Betawi, serta Gabus Pucung.
Busana khas Betawi meliputi kebaya encim yang dikenakan oleh perempuan, serta baju sadariah untuk laki-laki. Selain itu, terdapat pula tradisi palang pintu yang masih sering dijumpai dalam berbagai acara khas Betawi.
Budaya Betawi merupakan identitas masyarakat DKI Jakarta. Oleh karena itu, identitas ini harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak hanya menjadi dongeng bagi generasi mendatang.
Pelestarian budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pendidikan kepada generasi penerus, pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, serta dukungan program dari pemerintah.
Salah satu upaya melestarikan budaya Betawi adalah melalui perhelatan Lebaran Betawi. Acara tahunan yang digelar setelah Idulfitri ini memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan masyarakat sekaligus meneguhkan identitas budaya Jakarta sebagai kota global yang berakar kuat pada tradisi lokal.
Pelestarian budaya Betawi tidak cukup dilakukan hanya melalui pertunjukan seni atau festival semata. Pelestarian membutuhkan upaya berkelanjutan untuk menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat identitas, serta menanamkannya kepada generasi muda sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, mengenal dan melestarikan budaya Betawi merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga Jakarta.
"Budaya Betawi adalah identitas utama yang harus terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri pembukaan Lebaran Betawi, Sabtu (11/4).
Pada 2008, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menggagas Lebaran Betawi sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi antarwarga setelah perayaan Idulfitri.
Pada awal penyelenggaraannya, Lebaran Betawi hanya berlangsung selama satu hari. Namun, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, perayaan tersebut kemudian diperpanjang hingga tiga hari.
Lebaran Betawi yang telah ditetapkan sebagai agenda tahunan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu terus dilestarikan karena memiliki beragam kegiatan budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berperan dalam menjaga tradisi.
Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Riano P. Ahmad, menyatakan bahwa Lebaran Betawi menjadi momen penting untuk menjaga silaturahmi sekaligus melestarikan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Lebaran Betawi bisa jadi program pariwisata unggulan Jakarta
Nilai tersebut juga tercermin melalui simbol penghormatan antara generasi tua dan muda, salah satunya dalam prosesi simbolis para wali kota dan bupati yang membawa hantaran kepada Gubernur DKI Jakarta.
Selain itu, terdapat pula berbagai pertunjukan budaya, sajian kuliner, serta hiburan yang seluruhnya mencerminkan kekhasan Betawi.
Pelestarian budaya
Jakarta yang telah mempromosikan diri sebagai Kota Global dan Berbudaya terus berupaya menciptakan ruang-ruang kreasi. Tempat-tempat strategis seperti Bundaran HI, Monas, kawasan Kota Tua, dan lainnya menjadi wadah bagi para pelaku seni budaya untuk berkreasi.
Ajang-ajang budaya pun terus digaungkan. Pentas berskala besar kini mulai rutin diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seperti Jakarta Dalam Warna yang digelar di Bundaran HI, di mana ribuan pesilat dan penari dari berbagai perguruan serta sanggar diberi kesempatan untuk tampil.
Selain itu, pementasan seni dan budaya juga rutin digelar di berbagai tempat, seperti Kampung Budaya Setu Babakan, Museum Wayang, Museum Bahari, serta sejumlah lokasi lainnya.
Tidak hanya pementasan, pada Maret hingga November 2026, kawasan Perkampungan Budaya Betawi juga menyelenggarakan Workshop Seni Budaya Betawi yang menghadirkan berbagai kegiatan pembelajaran interaktif bagi masyarakat.
Workshop tersebut dirancang untuk memperkenalkan sekaligus mengajarkan berbagai bentuk seni tradisional Betawi, mulai dari tari, musik, hingga kerajinan khas daerah.
Program itu memberikan kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya mengenal teori, tetapi juga langsung mempraktikkan seni budaya tersebut bersama para pelaku seni dan pengajar berpengalaman.
Dengan konsep edukatif dan partisipatif, workshop ini diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Betawi.
Suasana Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (11/4/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan bahwa seni dan budaya bukan sekadar hiburan atau peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan, di kota-kota besar dunia, seni dan budaya menjadi fondasi dalam membangun kreativitas, identitas dan kesejahteraan warganya.
"Jakarta sedang bertransformasi menjadi kota global yang berbudaya, bukan hanya lewat infrastruktur atau teknologi, tetapi juga dengan menempatkan seni dan budaya sebagai jiwa kota," kata Rano.
Baca juga: Lebaran Betawi 2026 hadirkan ruang edukasi budaya bagi pengunjung
Butuh konsistensi
Lebaran Betawi yang telah diselenggarakan merupakan bentuk konsistensi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merawat kebudayaan di tanah Betawi. Lebaran Betawi bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga langkah nyata untuk melestarikan tradisi.
Beragam kegiatan disuguhkan bagi masyarakat yang memadati kawasan Lapangan Banteng, mulai dari parade ondel-ondel, penampilan tradisi palang pintu, sajian kuliner khas Betawi, hingga tarian tradisional.
Seluruh upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini membutuhkan konsistensi agar pelestarian budaya di ibu kota tidak hanya menjadi seremoni, tetapi benar-benar meresap dalam kehidupan masyarakat Betawi.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menyatakan bahwa upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya memerlukan konsistensi dari para pemangku kebijakan, terutama di sektor kebudayaan.
Pelestarian budaya tidak hanya sebatas penampilan, tetapi juga membutuhkan pelatihan yang memadai. Ia mencontohkan, jika pemerintah ingin menjaga suatu kesenian, maka pelatihannya tidak cukup dilakukan satu kali, melainkan harus berjenjang, dari tingkat pemula hingga mahir.
Workshop yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Kebudayaan, perlu dilakukan secara konsisten agar tujuan pelatihan dapat tercapai secara optimal.
Selain itu, pelestarian kebudayaan juga membutuhkan pendidikan sejak dini. Oleh karena itu, sekolah-sekolah di Jakarta perlu memasukkan kebudayaan Betawi sebagai salah satu mata pelajaran wajib, bukan sekadar muatan lokal.
"Problemnya sekarang itu adalah kuantitas yaitu jumlah dari pelatihan itu bukan kualitas," ujar Wakil Ketua Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi itu.
Budaya lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berbudaya. Di tengah laju modernisasi, budaya Betawi harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Bukan hanya sebagai jejak masa lalu, tetapi sebagai napas yang mengalir dalam kehidupan hari ini.
Dengan demikian, warisan leluhur itu tidak akan berhenti sebagai cerita sejarah, melainkan tetap hidup, tumbuh, dan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.
Baca juga: Ketum Bamus sebut Lebaran Betawi 2026 maknai budaya jadi pemersatu
Baca juga: Hari terakhir, Lebaran Betawi di Lapangan Banteng dipadati warga
Baca juga: Tradisi hantaran Lebaran Betawi simbol bakti dan kekayaan kuliner
Suku Betawi merupakan penduduk asli Batavia—kini Jakarta— dan sekitarnya, yang memiliki beragam warisan budaya seperti kesenian, tarian tradisional, makanan khas, busana, tradisi, dan lain-lain.
Beberapa kesenian ikonik khas Betawi di antaranya Ondel-ondel, Lenong, Tanjidor, dan Gambang Kromong. Selain itu Betawi juga memiliki makanan khasnya yang tersohor yaitu Kerak Telor, Soto Betawi, serta Gabus Pucung.
Busana khas Betawi meliputi kebaya encim yang dikenakan oleh perempuan, serta baju sadariah untuk laki-laki. Selain itu, terdapat pula tradisi palang pintu yang masih sering dijumpai dalam berbagai acara khas Betawi.
Budaya Betawi merupakan identitas masyarakat DKI Jakarta. Oleh karena itu, identitas ini harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak hanya menjadi dongeng bagi generasi mendatang.
Pelestarian budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pendidikan kepada generasi penerus, pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, serta dukungan program dari pemerintah.
Salah satu upaya melestarikan budaya Betawi adalah melalui perhelatan Lebaran Betawi. Acara tahunan yang digelar setelah Idulfitri ini memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan masyarakat sekaligus meneguhkan identitas budaya Jakarta sebagai kota global yang berakar kuat pada tradisi lokal.
Pelestarian budaya Betawi tidak cukup dilakukan hanya melalui pertunjukan seni atau festival semata. Pelestarian membutuhkan upaya berkelanjutan untuk menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat identitas, serta menanamkannya kepada generasi muda sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, mengenal dan melestarikan budaya Betawi merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga Jakarta.
"Budaya Betawi adalah identitas utama yang harus terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri pembukaan Lebaran Betawi, Sabtu (11/4).
Pada 2008, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menggagas Lebaran Betawi sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi antarwarga setelah perayaan Idulfitri.
Pada awal penyelenggaraannya, Lebaran Betawi hanya berlangsung selama satu hari. Namun, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat, perayaan tersebut kemudian diperpanjang hingga tiga hari.
Lebaran Betawi yang telah ditetapkan sebagai agenda tahunan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu terus dilestarikan karena memiliki beragam kegiatan budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berperan dalam menjaga tradisi.
Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Riano P. Ahmad, menyatakan bahwa Lebaran Betawi menjadi momen penting untuk menjaga silaturahmi sekaligus melestarikan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Lebaran Betawi bisa jadi program pariwisata unggulan Jakarta
Nilai tersebut juga tercermin melalui simbol penghormatan antara generasi tua dan muda, salah satunya dalam prosesi simbolis para wali kota dan bupati yang membawa hantaran kepada Gubernur DKI Jakarta.
Selain itu, terdapat pula berbagai pertunjukan budaya, sajian kuliner, serta hiburan yang seluruhnya mencerminkan kekhasan Betawi.
Pelestarian budaya
Jakarta yang telah mempromosikan diri sebagai Kota Global dan Berbudaya terus berupaya menciptakan ruang-ruang kreasi. Tempat-tempat strategis seperti Bundaran HI, Monas, kawasan Kota Tua, dan lainnya menjadi wadah bagi para pelaku seni budaya untuk berkreasi.
Ajang-ajang budaya pun terus digaungkan. Pentas berskala besar kini mulai rutin diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seperti Jakarta Dalam Warna yang digelar di Bundaran HI, di mana ribuan pesilat dan penari dari berbagai perguruan serta sanggar diberi kesempatan untuk tampil.
Selain itu, pementasan seni dan budaya juga rutin digelar di berbagai tempat, seperti Kampung Budaya Setu Babakan, Museum Wayang, Museum Bahari, serta sejumlah lokasi lainnya.
Tidak hanya pementasan, pada Maret hingga November 2026, kawasan Perkampungan Budaya Betawi juga menyelenggarakan Workshop Seni Budaya Betawi yang menghadirkan berbagai kegiatan pembelajaran interaktif bagi masyarakat.
Workshop tersebut dirancang untuk memperkenalkan sekaligus mengajarkan berbagai bentuk seni tradisional Betawi, mulai dari tari, musik, hingga kerajinan khas daerah.
Program itu memberikan kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya mengenal teori, tetapi juga langsung mempraktikkan seni budaya tersebut bersama para pelaku seni dan pengajar berpengalaman.
Dengan konsep edukatif dan partisipatif, workshop ini diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Betawi.
Suasana Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (11/4/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan bahwa seni dan budaya bukan sekadar hiburan atau peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan, di kota-kota besar dunia, seni dan budaya menjadi fondasi dalam membangun kreativitas, identitas dan kesejahteraan warganya.
"Jakarta sedang bertransformasi menjadi kota global yang berbudaya, bukan hanya lewat infrastruktur atau teknologi, tetapi juga dengan menempatkan seni dan budaya sebagai jiwa kota," kata Rano.
Baca juga: Lebaran Betawi 2026 hadirkan ruang edukasi budaya bagi pengunjung
Butuh konsistensi
Lebaran Betawi yang telah diselenggarakan merupakan bentuk konsistensi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merawat kebudayaan di tanah Betawi. Lebaran Betawi bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga langkah nyata untuk melestarikan tradisi.
Beragam kegiatan disuguhkan bagi masyarakat yang memadati kawasan Lapangan Banteng, mulai dari parade ondel-ondel, penampilan tradisi palang pintu, sajian kuliner khas Betawi, hingga tarian tradisional.
Seluruh upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini membutuhkan konsistensi agar pelestarian budaya di ibu kota tidak hanya menjadi seremoni, tetapi benar-benar meresap dalam kehidupan masyarakat Betawi.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menyatakan bahwa upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya memerlukan konsistensi dari para pemangku kebijakan, terutama di sektor kebudayaan.
Pelestarian budaya tidak hanya sebatas penampilan, tetapi juga membutuhkan pelatihan yang memadai. Ia mencontohkan, jika pemerintah ingin menjaga suatu kesenian, maka pelatihannya tidak cukup dilakukan satu kali, melainkan harus berjenjang, dari tingkat pemula hingga mahir.
Workshop yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Kebudayaan, perlu dilakukan secara konsisten agar tujuan pelatihan dapat tercapai secara optimal.
Selain itu, pelestarian kebudayaan juga membutuhkan pendidikan sejak dini. Oleh karena itu, sekolah-sekolah di Jakarta perlu memasukkan kebudayaan Betawi sebagai salah satu mata pelajaran wajib, bukan sekadar muatan lokal.
"Problemnya sekarang itu adalah kuantitas yaitu jumlah dari pelatihan itu bukan kualitas," ujar Wakil Ketua Pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi itu.
Budaya lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berbudaya. Di tengah laju modernisasi, budaya Betawi harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Bukan hanya sebagai jejak masa lalu, tetapi sebagai napas yang mengalir dalam kehidupan hari ini.
Dengan demikian, warisan leluhur itu tidak akan berhenti sebagai cerita sejarah, melainkan tetap hidup, tumbuh, dan dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.
Baca juga: Ketum Bamus sebut Lebaran Betawi 2026 maknai budaya jadi pemersatu
Baca juga: Hari terakhir, Lebaran Betawi di Lapangan Banteng dipadati warga
Baca juga: Tradisi hantaran Lebaran Betawi simbol bakti dan kekayaan kuliner




