Di tengah kota Medan, berdiri sebuah bangunan berarsitektur khas perpaduan Tionghoa, Melayu, dan Eropa yang masih terjaga hingga kini. Area depannya yang dipenuhi tanaman hijau dan bunga berwarna-warni menghadirkan suasana sejuk.
Bangunan itu adalah Museum Tjong A Fie, rumah peninggalan seorang filantrop yang kini bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah dengan nilai ekonomi. Dahulu, rumah ini merupakan kediaman Tjong A Fie, tokoh penting dalam perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya Kota Medan pada masa kolonial.
Mirza, salah satu pemandu wisata di museum tersebut, menjelaskan bangunan ini mulai dibangun pada 1895 dan rampung sekitar 1900. Ia juga menuturkan desain rumah mengusung nuansa Melayu Peranakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Kesultanan Deli yang memiliki hubungan dekat dengan Tjong A Fie.
“Dinuansakan nuansa Melayu karena untuk menghormati Kesultanan Deli. Kesultanan Deli sama Tjong A Fie itu adalah berteman dekat dan sampai sekarang masih menjalani hubungan keluarga,” kata Mirza kepada awak media di Tjong A Fie Mansion, Medan, Selasa (14/4).
Struktur bangunan dirancang simetris, dengan total sekitar 40 ruang yang terdiri dari 25 kamar dan 15 ruangan. Area lantai atas dulunya digunakan sebagai tempat tinggal anak dan cucu keluarga, sementara bagian bawah diperuntukkan bagi para pekerja.
Di dalamnya, nuansa sejarah masih terjaga kuat. Sejumlah furnitur tetap dipertahankan dalam kondisi asli, termasuk perabotan yang didatangkan langsung dari Eropa lebih dari satu abad lalu.
“(Sebagian furnitur) masih asli peninggalan dari Tjong A Fie, satu set dari Eropa. Masih asli, masih original, sudah 100 tahun lebih,” ucap Mirza.
Tarif Rp 35.000 per Orang
Di balik nilai historis tersebut, museum ini juga menjalankan fungsi ekonomi. Mirza menyebutkan, tarif tiket masuk ditetapkan sebesar Rp 35.000 per orang, dengan jumlah kunjungan harian berkisar antara 50 hingga 100 orang. Arus kunjungan ini menjadi sumber utama pemasukan yang menjaga operasional museum tetap berjalan.
Selain mengandalkan penjualan tiket, museum ini juga memperoleh pemasukan tambahan dari penjualan cinderamata. Produk yang ditawarkan antara lain kartu pos, pembatas buku, hingga gantungan kunci dengan ilustrasi khas rumah Tjong A Fie, yang dipasarkan dalam kisaran harga Rp 100.000 hingga Rp 300.000.
Meski demikian, pengelolaan bangunan bersejarah ini tidak lepas dari tantangan, terutama tingginya biaya perawatan. “Jadi bantuan pemerintah itu ya hanya seadanya. Jadi dihitung sama yayasan keluarga saja,” lanjut Mirza.
Rumah ini juga tak luput dari dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera beberapa waktu lalu. Mirza mengatakan, air sempat masuk ke area bangunan hingga mencapai ketinggian sekitar betis atau di atas mata kaki, menggenangi sebagian ruang di dalam museum yang berusia lebih dari satu abad tersebut.
Kondisi ini memaksa pengelola menutup sementara operasional museum selama kurang lebih satu pekan untuk melakukan pembersihan pembersihan pun dilakukan secara menyeluruh mulai dari lantai, furnitur, hingga area-area yang terdampak kelembapan.
“(Air banjir) sampai tembuslah ke belakang dan sebetis atau seatas mata kaki. (Ditutup) seminggu,” tutur Mirza.





