Restoran ayam goreng memang bukan hal baru di Jakarta. Namun, kehadiran Ayam Goreng Kampung Pak Pri di kawasan Office 8 Senopati bisa menjadi pilihan baru yang menawarkan bukan sekadar soal rasa, tapi juga cerita keluarga yang dibawa ke meja makan.
Baru buka sekitar akhir Februari 2026, tepatnya tiga hari sebelum Ramadan, tempat makan ini mengusung konsep sederhana dengan menu yang tidak terlalu banyak, Ayam Goreng Kampung Pak Pri fokus pada satu hal konsistensi rasa masakan khas rumahan.
Resep Keluarga yang Diangkat ke PublikPutra Prianto, selaku Manager Operasional, menjelaskan bahwa seluruh menu di sini berasal dari resep turun-temurun keluarga. Nama “Pak Pri” sendiri diambil dari sang ayah yang menjadi sumber utama ilmu memasak di keluarga mereka.
“Ilmu masak kita dari beliau. Jadi kita pakai nama bapak supaya tetap bisa dikenang oleh khalayak luas,” ujarnya kepada kumparanFOOD, saat berbincang di restorannya, Selasa (14/4).
Bukan sekadar branding, nilai emosional ini juga tercermin dalam cara mereka mengolah makanan. Filosofinya sederhana, masakan harus dibuat dengan perasaan, seperti yang diajarkan sang ayah.
“Karena bapak juga ketika masak, bapak itu mencurahkan semua perasaannya dia, semua rasanya dia di makanannya itu. Bapak setiap masak dia selalu bilang, 'Kalian suka enggak? Enak enggak? Kalau enak bapak buatin lagi'. Terus kalau misalnya enggak enak, kalau kita bilang, 'ah kurang', raut muka pertama dia sudah sedih, karena dia ngerasa kayak, 'aduh makanan gue kayak enggak enak, nih'. Tapi inilah yang kita mau coba sampaikan, yang mau kita coba kasih ke para konsumen yang ada di sini,” tambahnya.
Ayam Goreng Jogja dengan Ciri Khas KetumbarDi tengah menjamurnya ayam goreng dengan berbagai gaya, Pak Pri hadir dengan ciri khas sajian Jawa, khususnya Jogja–Magelang di mana menjadi kampung halaman dari keluarga mereka. Ciri utamanya ada pada bumbu ketumbar yang kuat, terutama di bagian kremesan.
Ketumbar ini bukan hanya memberi aroma, tapi juga menghadirkan rasa "manis-legit" yang khas. Ditambah lagi, mereka menggunakan ayam kampung segar yang tidak melalui proses pembekuan. Ayam kampungnya tetap empuk, meski tidak dipresto.
Ayam diolah dengan teknik ungkep selama sekitar 40–45 menit. Kemudian baru digoreng dalam minyak panas. Di tengah proses menggoreng, dimasukkan pula sisa bumbu ungkep dengan limpahan ketumbar yang turut digoreng. Di sinilah, menghasilkan kremesan grindil ketumbar yang renyah.
Menggunakan bahan ayam kampung bukan tanpa risiko. Selain harganya yang relatif mahal, teksturnya juga lebih alot dibanding ayam boiler. Namun, Putra mengaku menemukan supplier yang konsisten, sehingga kualitas bahan baku tetap terjaga.
Tantangan lain datang dari proses meracik bumbu. Putra mengungkapkan sempat melalui banyak trial and error, mulai dari ayam gosong hingga bumbu yang terlalu pahit karena ketumbar berlebih.
“Tapi dari situ akhirnya ketemu racikan yang pas,” katanya.
Selain ayam goreng, ada beberapa menu pendamping yang juga punya cerita kuat. Misalnya asam-asam daging, yang juga menjadi menu wajib keluarga Prianto.
Sementara resep bacem dari sang nenek dengan rasa manis dan ada gurih yang seimbang. Sambal terasi keluarga ini juga turun-temurun, dengan gaya 'sambal mentah' dan segar. Tidak terlalu pedas, namun cukup menambah kekayaan rasa pada sajian ayam yang manis-gurih.
Tak kalah unik adalah nasi wangi. Nasi putih sedikit ada rasa asin tapi berbeda dengan nasi uduk karena tanpa santan, dimasak dengan tambahan serai dan daun salam, memberikan aroma harum.
Untuk yang baru pertama kali datang, menu paket dengan potongan 1/4 ayam (paha atau dada) bisa jadi pilihan paling praktis. Dalam satu paketnya, sudah mendapatkan ayam, nasi, sambal, dan baceman.
Soal harga, satu ekor ayam goreng kampung ala Pak Pri dibanderol Rp 250 ribu. Sedangkan menu paketnya dibanderol Rp 60 ribu.
Menyasar Pekerja KantoranPemilihan lokasi di Office 8 Senopati bukan tanpa alasan. Target utama mereka adalah pekerja kantoran yang mencari makan siang praktis tanpa harus keluar jauh dari gedung.
Meski berada di area dengan banyak pilihan makanan, Pak Pri percaya produknya tidak "tabrakan" dengan tenant lain.
“Kita bawa warna ayam yang berbeda,” jelas Putra.
Fokus pada Satu DNA RasaKe depan, Ayam Goreng Kampung Pak Pri belum berencana memperluas menunya, mereka memilih untuk tetap fokus pada hidangan ayam goreng sebagai identitas utama.
“Kalau terlalu banyak, takutnya malah enggak konsisten dan DNA-nya hilang,” pungkas Putra.
Dengan pendekatan ini, mereka ingin membangun positioning yang jelas, yakni tempat makan dengan hidangan ayam goreng Jawa rasa rumahan yang autentik.





