"Healing" hingga "flexing": Bahasa gaul yang jadi industri

antaranews.com
10 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (ANTARA) - Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi oleh kemunculan istilah-istilah, seperti healing, flexing, gas, hingga anjay. Kata-kata ini tidak hanya beredar di media sosial, tetapi juga meresap ke dalam percakapan sehari-hari dan perlahan membentuk cara generasi muda memahami diri serta realitas di sekitarnya.

Fenomena ini kerap dianggap sebagai kreativitas linguistik semata. Hanya saja, jika ditelaah melalui perspektif Analisis Wacana Kritis, khususnya dengan pendekatan Norman Fairclough, bahasa tersebut tidak pernah benar-benar netral. Ia adalah praktik sosial yang sarat kepentingan.

Dalam kerangka Fairclough, bahasa bekerja pada tiga level: teks, praktik wacana, dan praktik sosial.

Pada level teks, kata healing, misalnya, maknanya bergeser dari "penyembuhan" dalam ranah medis menjadi "rekreasi" atau "melarikan diri sejenak dari tekanan hidup".

Pergeseran ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung perubahan cara pandang: dari proses pemulihan yang kompleks menjadi aktivitas konsumtif yang instan.

Meskipun demikian, analisis tidak berhenti pada makna. Pada level praktik wacana, penting untuk melihat bagaimana istilah tersebut diproduksi dan disebarkan.

Kata healing tidak menjadi populer secara kebetulan. Ia diperkuat oleh pemengaruh, konten media sosial, dan industri pariwisata yang secara konsisten mengaitkan kebahagiaan dengan perjalanan, kafe estetik, dan pengalaman visual yang dapat dibagikan. Dalam konteks ini, bahasa tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi ikut mengonstruksinya.

Masuk ke level praktik sosial, terlihat bahwa healing telah menjadi bagian dari logika kapitalisme gaya hidup. Kesehatan mental, yang seharusnya menjadi isu serius dan kompleks, direduksi menjadi aktivitas konsumsi. Istilah ini secara halus menggeser solusi dari refleksi atau penanganan profesional menjadi pembelian pengalaman. Dengan kata lain, peduli pada diri tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah dikomodifikasi menjadi produk.

Fenomena serupa dapat dilihat pada istilah flexing. Secara tekstual, ia merujuk pada tindakan memamerkan kekayaan atau pencapaian. Dalam praktik wacana, istilah ini sering digunakan di media sosial untuk mengomentari gaya hidup tertentu. Pada level praktik sosial, flexing berperan dalam membentuk norma baru tentang kesuksesan: bahwa pencapaian perlu ditampilkan agar diakui.

Bahkan, kritik terhadap flexing, sekalipun, justru memperkuat visibilitas praktik tersebut. Dalam logika ini, baik pelaku maupun pengkritik sama-sama terjebak dalam sistem yang sama.

Gasskeun

Istilah lain, seperti gas atau gasskeun, mencerminkan dorongan untuk bertindak cepat dan tanpa banyak pertimbangan. Dalam konteks budaya digital yang serba instan, bahasa ini memperkuat nilai impulsivitas dan urgensi semu.

Sementara itu,kata anjay sempat menjadi perdebatan nasional di Indonesia. Kata ini awalnya populer di kalangan anak muda sebagai ekspresi spontan untuk menunjukkan kekaguman, keterkejutan, atau emosi tertentu. Dalam penggunaannya, anjay sering dianggap sebagai versi yang "lebih halus" dari kata kasar yang sudah lebih dahulu dikenal dalam bahasa gaul.

Pada tahun 2020, istilah ini tiba-tiba menjadi polemik nasional. Perdebatan muncul ketika sebagian pihak menilai bahwa kata anjay tetap memiliki kedekatan makna dengan bentuk kata kasar, sehingga dianggap tidak pantas digunakan, terutama oleh anak-anak. Polemik ini bahkan melibatkan tokoh publik dan memicu diskusi luas di media massa.

Dalam perspektif Analisis Wacana Kritis, polemik ini menunjukkan bagaimana bahasa tidak pernah netral. Istilah anjay dapat dilihat sebagai bentuk nomination, yaitu penciptaan label baru untuk menggantikan kata lama yang dianggap kasar.

Hanya saja, makna yang melekat padanya tetap diperdebatkan, sehingga memunculkan konflik interpretasi di masyarakat. Di sinilah terjadi pertarungan makna: apakah anjay dapat diterima sebagai ekspresi netral atau tetap membawa muatan negatif dari asal katanya?

Negara, melalui Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, turut merespons polemik ini. Pada saat itu, muncul wacana untuk mengkaji penggunaan kata anjay dari perspektif perlindungan anak dan etika berbahasa.

Bahkan, sempat muncul usulan agar penggunaan kata tersebut dapat dikenai sanksi jika terbukti mengandung unsur penghinaan.

Hal yang sering luput disadari adalah bahwa penyebaran bahasa tidak lepas dari relasi kuasa baru di era digital. Jika dahulu kuasa banyak dimonopoli oleh institusi formal, kini ia tersebar melalui algoritma, platform, dan figur publik. Kata-kata menjadi viral bukan karena paling tepat secara makna, tetapi karena paling sering direproduksi.

Repetisi inilah yang, dalam istilah Fairclough, membentuk "kewajaran" baru—sesuatu yang diterima tanpa lagi dipertanyakan.

Fenomena penggunaan istilah bahasa gaul, seperti healing, flexing, gaskeun, dan anjay di Indonesia menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan praktik sosial yang membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Bahasa bukan hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga secara aktif membentuk cara berpikir, bertindak, dan menilai dunia.

Oleh karena itu, kita sebagai pengguna bahasa harus bersikap kritis terhadap istilah baru dengan mempertanyakan apa maknanya, siapa yang menyebarkan, nilai apa yang dibawa, serta memahami konteks penggunaanya, apakah digunakan dalam situasi formal atau informal agar fungsi sosial bahasa tetap terjaga.

Sikap tidak antiperubahan, tetapi tidak latah, juga harus kita miliki agar dapat memberikan ruang yang sehat terhadap perkembangan, sekaligus penjagaan terhadap bahasa kita.

Karena itu, kita harus menyadari bahwa kita tidak hanya menggunakan bahasa, tetapi juga sedang dibentuk olehnya—dan di situlah pentingnya kesadaran kritis dalam setiap kata yang kita pilih.





*) Teguh Setiawan dan Efa Yulianti adalah mahasiswa S2 Program MPd, Dr Nensy Megawati Simanjuntak adalah dosen Pascasarjana Universitas Dr Soetomo, Surabaya.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalur 6 hingga 8 Stasiun Bogor Ditutup Sementara Mulai Hari Ini
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Bertemu Presiden Macron di Paris, Bahas Pengadaan Alutsista hingga Energi
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Cegah Haji Ilegal Lolos ke Tanah Suci, Kemenhaj Resmi Gandeng Kemenimipas
• 1 jam laludisway.id
thumb
Satu Korban Hanyut di Banjaran Ditemukan Tewas, Satu Masih Dicari
• 23 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Banjir Landa Kota Solo, 109 Warga Mengungsi
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.