PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat pertumbuhan kinerja signifikan sepanjang 2025, dengan laba bersih meningkat 28,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 1,47 triliun.
Direktur Perseroan, Tingning Sukowignjo, menjelaskan peningkatan produksi menjadi salah satu faktor utama yang menopang kinerja perusahaan.
Sepanjang 2025, produksi CPO meningkat 6 persen secara tahunan menjadi sekitar 1,24 juta ton. Sementara, produksi kernel juga tumbuh 8 persen menjadi 252 ribu ton.
"Perseroan membukukan kenaikan produksi CPO sebesar 6 persen year on year menjadi 1,24 ton dan produksi kernel 8% year-on-year menjadi 252 ribu ton pada tahun 2025," kata Tingning dalam agenda public expose di Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4).
Seiring dengan meningkatnya produksi, volume penjualan juga mengalami pertumbuhan. Total penjualan CPO dan produk turunannya naik 13 persen yoy menjadi sekitar 1,8 juta ton.
"Hal tersebut ikut menopang volume penjualan CPO dan turunannya sebesar 13 persen yoy menjadi 1,8 juta ton pada tahun 2025," lanjutnya.
Perseroan juga mencatat pendapatan sebesar Rp 28,7 triliun pada 2025 atau naik 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, menyebut kinerja perseroan tak terlepas dari dinamika industri global, khususnya pergerakan harga CPO.
"Pergerakan harga CPO, kita bisa melihat bahwa Perseroan menghadapi berbagai tantangan struktural dan dinamika ekonomi yang mempengaruhi industri kelapa sawit," jelas Djap.
Djap menjelaskan sejumlah faktor global turut memengaruhi kondisi industri, seperti fluktuasi nilai tukar, harga energi, hingga situasi geopolitik dunia.
Meski menghadapi berbagai tantangan, harga CPO global justru mengalami kenaikan pada 2025. Harga CPO Rotterdam tercatat naik dari USD 1.084 per ton pada 2024 menjadi USD 1.222 per ton pada 2025.
Permintaan global yang tetap kuat, termasuk dari kebijakan biodiesel di Indonesia, katanya turut menopang harga.
“Faktor suplai dan demand global menjadikan katalis utama yang mendorong harga dikena sankasi produksi minyak kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir," ungkap dia.
“Harga beranjak naik seiring kuatnya permintaan global, termasuk dorongan kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia yang turut mendorong menopang harga domestik," sambung Djap.
Lebih lanjut, saat ini perusahaan mengelola total lahan perkebunan sawit seluas 280.325 hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Dari total, sekitar 74 persen merupakan kebun inti seluas 208.063 hektare, sedangkan 26 persen merupakan kebun plasma seluas 72.262 hektare.
Perseroan juga didukung oleh 32 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas total 1.655 ton tandan buah segar (TBS) per jam, serta dua pabrik penyulingan dengan kapasitas 3.000 ton CPO per hari.
Untuk menjaga produktivitas, perusahaan mempercepat program peremajaan (replanting) tanaman sawit. Dalam dua tahun terakhir, luas replanting meningkat dari rata-rata 4.000 hektare per tahun menjadi 5.000 hektare. Pada 2026, perseroan menargetkan minimal 6.000 hektare dengan ambisi mencapai 8.000 hektare.
"Dan untuk rencana replanting tahun ini, kita juga akan melakukan percepatan replanting dengan minimum kita akan melakukan 6.000 hektare tapi dengan tetap berambisi untuk mencapai luas replanting sebesar 8.000 pada akhir 2026," papar Djap.
Selain itu, perusahaan meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk mendukung ekspansi dan efisiensi operasional. Pada 2026, capex dianggarkan sebesar Rp 1,4 triliun, naik 79 persen dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 782 miliar.
Perseroan juga membagikan dividen dengan total Rp 458 per saham atau setara Rp 881,5 miliar dari laba bersih tahun buku 2025.
Sebelumnya, dividen interim sebesar Rp 123 per saham telah dibayarkan pada Oktober 2025. Sementara sisa dividen sebesar Rp 335 per saham akan dibagikan pada 13 Mei 2026.





