Bisnis.com, JAKARTA – Para analis menilai prospek emiten menara moncer didukung oleh model bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi. Tak hanya itu, kontrak sewa jangka panjang untuk menara juga mempertegas daya tahan perusahaan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan emiten menara masih memiliki daya tarik karena bisnisnya relatif berkelanjutan dengan margin tinggi, didukung biaya operasional yang rendah, serta kontrak sewa jangka panjang atau umumnya hingga 10 tahun.
“Konsolidasi operator justru mendorong kolokasi, yang tetap menguntungkan bagi emiten menara,” ucap Nafan, Selasa (14/4/2026).
Namun, lanjutnya, tantangan bagi emiten menara datang dari sisi suku bunga tinggi karena kebutuhan refinancing utang, sehingga beban bunga sangat bergantung pada arah suku bunga acuan dan dinamika global.
“Untuk pertumbuhan organik, memang sudah mulai mendekati titik jenuh, tetapi masih ada ruang ekspansi, terutama di luar Jawa melalui pembangunan infrastruktur digital, pemerataan jaringan, serta proyek pemerintah,” kata Nafan.
Selain itu, kata dia, pertumbuhan juga didorong oleh fiberisasi atau fiber to tower, dan pengembangan 5G yang masih belum merata, sehingga tetap menjadi potensi mesin pertumbuhan baru.
Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dan Belva Monica dalam risetnya menjelaskan pihaknya memberikan rekomendasi hold untuk TBIG, buy untuk TOWR, dan buy untuk MTEL.
Aurelia dan Belva menjelaskan untuk TBIG, pihaknya menyarankan investor untuk berhati-hati karena dampak merger XL-Smartfren belum sepenuhnya tercermin, yang berpotensi menjadi risiko penurunan kinerja, mengingat portofolio TBIG yang besar di Pulau Jawa dan eksposur pendapatan yang signifikan terhadap grup tersebut.
Meski demikian, katalis positif bagi TBIG menurutnya datang dari kemenangan spektrum 1,4 GHz oleh PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) dan MyRepublic yang dapat menjadi katalis positif.
Lalu untuk TOWR, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli didukung prospek pertumbuhan yang moderat.
“Katalis positif mencakup pesanan menara dari operator (MNO) yang lebih tinggi dari ekspektasi serta percepatan implementasi FWA,” tulisnya.
Adapun untuk MTEL, Indo Premier Sekuritas memperkirakan EBITDA MTEL akan tumbuh, dengan margin yang pulih. Menurutnya, perbaikan margin akan didorong oleh peningkatan tenancy ratio menara serta normalisasi kontribusi bisnis terkait menara telekomunikasi.
Di sisi lain, Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan dalam risetnya memberikan rekomendasi buy untuk TOWR dan MTEL.
Steven menuturkan TOWR mencatat kinerja kuartal IV/2025 yang solid, dengan percepatan monetisasi bisnis fiber yang mendorong momentum laba, sementara ketahanan margin dan biaya pendanaan yang lebih rendah menopang laba bersih yang lebih baik dari ekspektasi.
Adapun untuk MTEL menurut Steven mencatat kinerja 2025 yang solid dengan momentum kuartalan yang terus membaik, dengan prospek 2026 ditopang oleh percepatan monetisasi fiber dan permintaan kolokasi yang tetap kuat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





