Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 sebesar USD 437,9 miliar atau sekitar Rp 7.505,6 triliun (kurs Rp 17.140 per dolar AS), tumbuh 2,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Posisi ULN tersebut juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2025 sebesar 1,7 persen (yoy). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik.
“Peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Senin (16/3).
Posisi ULN Pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 215,9 miliar atau secara tahunan tumbuh 5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 5,6 persen (yoy).
Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut utamanya dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.
Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah. Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia (BI) didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,6 persen) juga Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).
ULN Swasta
Posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar USD 193,7 miliar atau secara tahunan tercatat turun 0,7 persen (yoy). Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, juga Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.
“ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta. Struktur ULN Indonesia sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” imbuh Denny.
Kondisi ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8 persen juga dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen dari total ULN.
Denny memastikan, BI dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN untuk menjaga agar struktur ULN sehat.
‘Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” tutup Denny.





