Pasang Surut Tim Kepelatihan PSIS Semarang di Tengah Ancaman Degradasi: Sejak Awal Butuh Pelatih Sekaliber Arsitek Persebaya Bernardo Tavares  

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SEMARANG –Di tengah riuh kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026 yang kian memasuki fase penentuan, PSIS Semarang justru dihadapkan pada satu realitas yang tak pernah benar-benar diinginkan oleh tim mana pun: kehilangan nakhoda di saat kapal masih berlayar di perairan yang bergelombang.

Pagi itu, Rabu (15/4), kabar mengejutkan menyeruak dari internal Laskar Mahesa Jenar. Sosok yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi penopang stabilitas tim, Andri Ramawi, secara resmi memilih mundur dari kursi pelatih kepala. Keputusan ini bukan sekadar pergantian biasa, melainkan sebuah titik balik yang membuka kembali pertanyaan lama: apakah sejak awal PSIS memang membutuhkan figur pelatih dengan kapasitas dan pengalaman sekelas Bernardo Tavares untuk mengarungi musim yang penuh tekanan?

Secara angka, kepergian Andri terasa janggal. Dalam enam laga terakhir, PSIS menunjukkan grafik yang relatif stabil—dua kemenangan, tiga hasil imbang, dan hanya satu kekalahan. Bukan catatan spektakuler, tetapi cukup untuk menjaga tim tetap berada dalam jalur aman dari jurang degradasi. Dalam atmosfer kompetisi yang ketat, stabilitas seperti ini sering kali menjadi fondasi utama untuk bertahan.

Namun sepak bola, seperti juga kehidupan, tidak pernah hanya soal angka.

Di balik performa yang terlihat cukup menjanjikan, terdapat dinamika internal yang jauh lebih kompleks. Keputusan mundur Andri disebut tak lepas dari komitmen profesionalnya terhadap Angel Alfredo Vera—figur penting yang lebih dulu meninggalkan klub. Ada semacam loyalitas yang tidak kasat mata, tetapi terasa kuat. Sebuah ikatan profesional yang melampaui sekadar kontrak kerja, dan pada akhirnya menuntut konsekuensi: pergi, meski tim masih membutuhkan.

Menariknya, Andri tidak serta-merta meninggalkan tim saat Vera hengkang. Ia memilih bertahan sejenak, membantu PSIS melewati fase krusial, memastikan tim tidak terjerembab lebih dalam di papan klasemen. Ada kesan bahwa ia ingin menutup tugasnya dengan rapi—meninggalkan tim dalam kondisi yang masih bisa dikendalikan, bukan dalam kekacauan.

Namun pada akhirnya, keputusan tetap harus diambil.

Dan ketika keputusan itu datang, ia membuka babak baru yang penuh ketidakpastian.

Manajemen PSIS merespons dengan nada yang relatif tenang. Tidak ada polemik terbuka, tidak ada drama yang berlarut. Sebaliknya, apresiasi justru mengemuka—sebuah pengakuan bahwa di tengah segala keterbatasan, Andri telah memberikan kontribusi yang tidak kecil. Ia menjaga tim tetap kompetitif, menjaga harapan tetap hidup, meski tekanan datang dari berbagai arah.

Sebagai langkah darurat sekaligus strategis, tongkat estafet kepelatihan sementara diberikan kepada Anang Dwita. Sosok yang sebelumnya berada di balik layar, kini harus tampil di depan, memikul beban yang tidak ringan. Dalam situasi seperti ini, peran pelatih caretaker sering kali lebih dari sekadar pengisi kekosongan—ia menjadi penjaga ritme, penenang ruang ganti, sekaligus penghubung antara strategi dan psikologi tim.

Tantangan yang dihadapi jelas tidak sederhana.

Pergantian pelatih di fase akhir kompetisi selalu membawa efek domino. Dari sisi taktik, perubahan pendekatan bisa terjadi, meski waktu untuk beradaptasi sangat terbatas. Dari sisi mental, pemain dituntut untuk tetap fokus, menahan gejolak yang mungkin muncul akibat perubahan mendadak. Dalam kondisi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi PSIS.

Dengan hanya menyisakan tiga pertandingan, setiap poin menjadi krusial. Tidak ada lagi ruang untuk eksperimen. Tidak ada waktu untuk mencoba-coba. Yang dibutuhkan adalah konsistensi—sesuatu yang justru mulai terbentuk di bawah kepemimpinan Andri, namun kini harus dijaga oleh tangan yang berbeda.

Situasi ini sekaligus membuka ruang refleksi yang lebih luas. Dalam kompetisi yang semakin kompetitif, keberadaan pelatih dengan pengalaman dan rekam jejak kuat sering kali menjadi pembeda. Sosok seperti Bernardo Tavares, misalnya, dikenal mampu membangun sistem permainan yang solid sekaligus menjaga mentalitas tim dalam tekanan tinggi. Pertanyaannya, apakah PSIS sejak awal telah memiliki fondasi kepelatihan yang cukup kuat untuk menghadapi musim seberat ini?

Jawabannya mungkin tidak sederhana.

Sepanjang musim, PSIS memang menunjukkan potensi. Namun potensi tanpa arah yang jelas kerap berujung pada inkonsistensi. Dan dalam liga yang menuntut stabilitas dari awal hingga akhir, inkonsistensi adalah kemewahan yang terlalu mahal.

Kini, semua kembali pada bagaimana tim merespons situasi ini.

Para pemain menjadi aktor utama. Profesionalisme mereka akan diuji—apakah mampu tetap tampil maksimal tanpa terpengaruh dinamika di luar lapangan, atau justru kehilangan arah di tengah perubahan. Di sisi lain, Anang Dwita harus mampu memainkan peran ganda: sebagai pelatih dan sekaligus motivator.

Di tengah segala ketidakpastian ini, satu hal yang pasti: perjalanan PSIS musim ini belum selesai.

Kepergian Andri Ramawi mungkin menjadi salah satu episode paling dramatis dalam kisah mereka musim ini. Namun justru dari titik inilah, karakter sebuah tim sering kali terbentuk. Apakah mereka akan runtuh di bawah tekanan, atau justru bangkit dan menutup musim dengan kepala tegak?

Jawabannya akan ditentukan dalam tiga laga terakhir—tiga kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa di balik pasang surut, PSIS masih memiliki arah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tema dan Logo HUT ke-74 Kopassus, Ini Ucapan yang Bisa Diunggah di Sosial Media
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Mendagri Apresiasi Program Bedah Rumah Tidak Layak Huni di Wilayah Papua
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Arab Saudi bidik kolaborasi budaya lebih erat dengan Indonesia
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Kuliah Umum Unhas Bahas Pendekatan Kreatif dan Partisipatif dalam Riset
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Pramono Anung Lantik 11 Pejabat Tinggi Baru, Salah Satunya Wali Kota Jakarta Selatan
• 2 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.