Cerita Pilu Korban Banjir di Bandar Lampung, Istri Meninggal dan Rumah Porak-Poranda

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung, Lampung, Selasa (14/4/2026) malam, menjadi awal petaka bagi keluarga Andri Sepdianto (35). Malam itu, banjir menerjang dan menghancurkan rumahnya. Bencana itu juga merenggut nyawa sang istri, Dewi Melani (31).   

Andri menatap nanar ke arah rumahnya yang hancur akibat diterjang banjir, Rabu (15/4) siang. Kini, rumah di Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumiwaras, Bandar Lampung, itu hanya tersisa sebagian, tepatnya bagian loteng yang berada di bagian belakang. Adapun bangunan utama rumah porak-poranda diterjang air bah.

Hampir seluruh perabotan rumah Andri hilang terseret banjir. Beberapa barang, seperti televisi dan lemari, tampak masih tergeletak di dekat atap rumah yang ambruk.

Selama ini, rumah semi permanen itu ditinggali oleh delapan anggota keluarga. Selain Andri, istri, dan kedua anaknya, ibu Andri juga menetap di sana. Keluarga kakak dan adik bungsunya juga tinggal bersama mereka.

Rumah tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari Sungai Garuntang. Di sisi sungai, terdapat tanggul penahan air setinggi tiga meter yang kini sudah ambruk. Belasan pohon pisang yang ada di pinggir sungai pun roboh akibat banjir.

Andri masih mengingat jelas dahsyatnya arus air yang tiba-tiba menghantam tembok rumahnya. Malam itu, hujan deras memang mengguyur sebagian besar Kota Bandar Lampung.

Ayah dua anak itu sebenarnya sudah menduga akan terjadi banjir. Selama ini, tempat tinggalnya memang daerah rawan banjir. Berulang kali rumah Andri terendam banjir saat hujan deras mengguyur cukup lama.

Selepas magrib, Andri menyuruh Miko (10), anak sulungnya, untuk mengungsi lebih dulu ke rumah tetangga bersama sang nenek dan adiknya.

Baca JugaBanjir Bandar Lampung, Satu Warga Tewas dan 100 Dievakuasi

Sementara itu, Andri bersama istri, kakak, dan anak bungsunya masih berada di rumah untuk menyelamatkan perabotan rumah ke atas loteng. Andri lebih dulu membawa sang bungsu, Aqila (6), ke atas loteng.

Namun, tanggul sungai yang berada di dekat rumah mereka tiba-tiba jebol dan air bah menghantam tembok rumah dengan sangat keras. Seketika, ia terseret air dan semuanya menjadi gelap gulita.

“Saya dan istri terpental ke ruang tamu, jaraknya sekitar lima meter. Saya sempat berusaha menyelamatkan istri. Bahkan, saya mencari keberadaan istri saya. Cuma terkendala karena kondisi gelap dan terhalang air dan barang. Posisi saya juga tidak bisa melihat dan air juga cukup tinggi,” kata Andri.

Menurut Andri, kakak iparnya selamat karena masih bisa berpegangan pada tangga. Demikian pula Andri yang berusaha menyelamatkan diri dengan berenang dan berpegangan pada benda apapun yang ada saat itu. Sayangnya, sang istri terlepas dari gengangammnya.

Andri menceritakan, dia bertahan di lokasi banjir untuk mencari sang istri. Di tengah kondisi gelap gulita, Andri menyelam untuk mencari keberadaan istrinya di area dapur.

“Saya tahu istri saya masih di dalam (rumah) dan saya masih berusaha mencari istri. Saya menyelam dan merogoh tangan. Saya kira sampah, ternyata rambut istri saya. Saya angkat dan menjerit. Saya jatuh pingsan di tempat kejadian. Saya tidak kuat lagi melihat istri. Untungnya, personel Basarnas (Badan SAR Nasional) sudah memberikan bantuan rompi pelampung sehingga saya tidak tenggelam dan dibantu dengan orang-orang yang ada,” ungkap Andri.

Saat ini, tak ada barang berharga apa pun yang tersisa selain pakaian yang Andri kenakan dan beberapa perabotan kecil yang sempat dibawa ke atas loteng. Banjir kali ini tidak hanya menghacurkan rumah, tetapi juga membuat kedua anak Andri, Miko dan Aqila, seketika menjadi anak piatu karena kehilangan sang ibu.

Andri mengatakan, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana juga datang menemui keluarganya pada Selasa malam. Selain menyampaikan duka cita dan memberikan uang santunan, Eva berjanji akan membantu memperbaiki rumah Andri yang hancur. “Nanti katanya aka nada program bedah rumah, tapi enggak tau kapan,” ucapnya.

Andri yang lahir dan tumbuh besar di daerah itu hafal betul bahwa tempat tinggalnya di Kelurahan Garuntang merupakan salah satu daerah rawan banjir di Bandar Lampung. Di sana, mengalir Sungai Garuntang yang lokasinya berada di kawasan hilir.

Saya dan istri terpental ke ruang tamu, jaraknya sekitar lima meter. Saya sempat berusaha menyelamatkan istri. Bahkan, saya mencari keberadaan istri saya. Cuma terkendala karena kondisi gelap dan terhalang air dan barang

Saat kawasan hulu Kota Bandar Lampung hujan deras, bisa dipastikan banjir akan mengalir ke Sungai Garuntang yang ada di sisi rumah Andri. Air seharusnya mengalir ke muara sungai dan laut di kawasan pesisir Bandar lampung yang tak jauh dari situ. Namun, sungai kecil itu tidak mampu menahan debit air yang sangat besar hingga tanggul jebol dan banjir menerjang.

Dewi juga bukan satu-satunya warga Bandar Lampung yang meninggal akibat banjir. Sebelumnya, dua warga meninggal akibat terseret arus banjir pada pada Jumat (6/3/2026). Adapun sepanjang tahun 2025, sebanyak delapan nyawa warga Bandar Lampung melayang akibat banjir dan longsor (Kompas.id, 21/4/2025)

21 Titik

Kelurahan Garuntang bukanlah satu-satunya wilayah yang dilanda banjir di Bandar Lampung. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, setidaknya ada 21 titik banjir di Bandar Lampung yang tersebar di sejumlah kecamatan.  

Berbagai rekaman video yang direkam warga juga memperlihatkan situasi banjir yang cukup parah. Tak hanya merendam permukiman warga, banjir sempat melumpuhkan sejumlah jalan-jalan utama di Bandar Lampung.

Salah satunya adalah Jalan Teuku Umar yang merupakan jalan protokol utama di Bandar Lampung. Bahkan, sejumlah kendaraan yang nekat menerjang banjir akhirnya mogok. Banjir juga merendam sejumlah fasilitas publik, seperti area parkir supermarket dan area parkir rumah sakit.  

Pada Selasa tengah malam hingga Rabu dini hari, tim SAR gabungan juga mengevakuasi korban banjir di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Way Halim, Kedamaian, dan Bumi Waras.

Di Kelurahan Jagabaya I, Kecamatan Way Halim, misalnya, tim SAR gabungan mengevakuasi 109 warga yang terjebak banjir. Di lokasi tersebut, ketinggian banjir mencapai 1,2 meter sehingga warga yang masih berada di dalam rumahnya tidak bisa menyelamatkan diri.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Lampung Deden Ridwansah mengatakan, evakuasi warga akhirnya dapat berjalan lancar meskipun sempat menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Menurut dia, banyaknya titik banjir serta akses jalan yang terhambat membuat petugas kesulitan menjangkau lokasi.

“Banyaknya lokasi terdampak membuat waktu tempuh tim menjadi lebih lama. Selain itu, akses menuju lokasi juga cukup sulit karena beberapa ruas jalan tertutup banjir,” kata Deden.

Dia menambahkan, operasi SAR dihentikan dan dinyatakan selesai pada Rabu pukul 02.25 WIB. Operasi tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain Tim Rescue dari kantor SAR Lampung, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandar Lampung, BPBD Kota Bandar Lampung, personel Sabhara Polda Lampung, Forum Rescue Relawan Lampung, serta masyarakat setempat.

Cuaca ekstrem

Koordinator Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung Rudi Harianto mengatakan, berdasarkan dinamika atmosfer dan pengamatan permukaan, hujan deras disertai petir dan angin kencang yang mengakibatkan banjir di Bandar Lampung itu dipicu beberapa faktor.

Pertama, adanya pola sirkulasi siklonik di Samudera Hindia di barat daya Lampung yang menyebabkan belokan angin dan konvergensi yang terpantau di wilayah Lampung. Kondisi ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan secara signifikan.

Baca JugaBanjir di Lampung Lagi-lagi Makan Korban, Tiga Tewas

Kedua, suhu muka laut di sekitar perairan Lampung yang relatif hangat turut mendukung peningkatan suplai uap air pada atmosfer di wilayah Lampung.

”Berdasarkan data analisis kelembaban udara tanggal 14 April 2026 pukul 00.00 UTC, massa udara di wilayah Lampung cukup lembab pada lapisan 850 hingga 500 milibar, yaitu 70 persen-100 persen, yang mendukung pembentukan awan konvektif di wilayah Kota Bandar Lampung,” papar Rudi.

Kondisi itu membuat pertumbuhan awan hujan yang terbentuk secara lokal pada sore hari dari arah tenggara Kota Bandar Lampung. Awan-awan hujan itu mulai bergabung sehingga memicu hujan yang cukup deras.

Pada Selasa malam, BMKG mengeluarkan peringatan dini banjir dan longsor. Di sejumlah lokasi, curah hujan yang mengguyur Bandar Lampung pada Selasa malam mencapai lebih dari 70 milimeter.

Baca JugaLampung Masih Susah Payah Hadapi Banjir, Apa Solusinya?

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung Irfan Tri Musri mengatakan, banjir yang terus berulang di Bandar Lampung bukan lagi sekadar persoalan cuaca ekstrem atau curah hujan tinggi. Peristiwa ini adalah bukti nyata kegagalan Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam mengelola ruang hidup serta bentuk kejahatan ekologis yang dibiarkan terjadi secara sistematis.

”Setiap tahun, masyarakat dipaksa menanggung kerugian yang sama, rumah terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, dan keselamatan warga terancam. Ini terulang secara terus-menerus tanpa ada penyelesaian terhadap substansi akar permasalahan yang menyebabkan banjir selama ini terjadi,” kata Irfan.

Menurut Irfan, Bandar Lampung menghadapi berbagai persoalan lingkungan, salah satunya alih fungsi kawasan resapan air menjadi permukiman dan kawasan komersial. Perusakan wilayah perbukitan dan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kota juga terus terjadi.

Selain itu, terjadi penyempitan dan pencemaran sungai akibat lemahnya pengawasan serta pembiaran pembangunan di kawasan rawan bencana ”Kondisi ini bukan terjadi tanpa sebab, melainkan akibat dari kebijakan pembangunan yang eksploitatif dan minim kontrol,” katanya.

Pada Rabu siang, banjir bandang yang menerjang Kota Bandar Lampung memang sudah surut. Namun, hujan deras yang mengguyur kota ”Tapis Berseri” itu akan terus menjadi momok bagi warganya selama akar persoalan banjir belum dituntaskan.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berkas Perkara Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Pengadilan Militer Kamis Besok
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Sadis! Siswa Remaja Berusia 13 Tahun Tembak Mati 4 Temannya dan 20 Luka di Sekolah Turki
• 2 jam laludisway.id
thumb
Belanja Makin Mudah dan Hemat di Era Digital, Voucher Jadi Solusi Praktis Favorit Masyarakat
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Mulai Blokade Selat Hormuz, Pakar Militer-Intelijen UI: Iran Bukan Negara yang Mudah Diancam
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Menko IPK tekankan kolaborasi SDM dan infrastruktur di Kalimantan
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.