Pelemahan Rupiah Tekan Industri Reasuransi, Biaya Retrosesi Berpotensi Naik

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah, yang menembus Rp17.000 per dolar AS berpotensi memberi tekanan pada industri reasuransi nasional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memberikan tekanan terhadap biaya retrosesi. Retrosesi adalah pelimpahan risiko dari perusahaan reasuransi kepada perusahaan reasuransi lain, atau sederhananya retrosesi adalah reasuransi dari suatu reasuransi.

Perusahaan reasuransi melakukan retrosesi sebagai bentuk manajemen risiko, terutama jika suatu risiko memiliki cakupan di atas kapasitas proteksinya.

“Mengingat sebagian kapasitas reasuransi masih berasal dari pasar internasional yang berdenominasi valuta asing,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Rabu (15/4/2026).

Dalam hal itu, kata Ogi, OJK terus mendorong penguatan kapasitas reasuransi domestik guna meningkatkan ketahanan industri terhadap volatilitas eksternal.

Lebih lanjut, dia turut menyampaikan berdasarkan data terbaru, kinerja industri reasuransi menunjukkan perkembangan yang relatif stabil dengan beberapa indikator yang membaik.

Baca Juga

  • Jurus Asuransi Kejar Pertumbuhan Premi 2026, Cari Celah Tantangan Daya Beli
  • Mengenal Asuransi Parametrik, Proteksi Besar dengan Jaminan Klaim Cepat

“Total aset perusahaan reasuransi tercatat sebesar Rp43,53 triliun, relatif stabil dengan sedikit penurunan 0,3%,” ucapnya.

Dari sisi premi, industri reasuransi mencatatkan Rp5,84 triliun, tumbuh 6,90% (year on year/YoY), sementara nilai klaim tercatat sebesar Rp1,90 triliun, menurun 19,55% YoY.

“Ini mencerminkan perbaikan profil risiko dan pengelolaan klaim,” tutur Ogi.

Sependapat, pengamat asuransi Wahyudin Rahman menilai pelemahan rupiah berdampak langsung dalam meningkatkan biaya retrosesi berbasis valuta asing, terutama pada treaty maupun fakultatif dengan kapasitas global. Wahyudin pun membeberkan biasanya lini usaha yang terdampak adalah energi, aviasi, marine hullengineeringliability seperti Cyber, D&O, serta property risiko besar (industrial/commercial).

“Namun, ini sudah diperhitungkan dalam risiko kurs jadi dapat diantisipasi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).

Dia mengatakan saat ini sudah mulai terlihat kecenderungan optimalisasi kapasitas domestik/regional untuk menekan biaya ke reasuradur luar negeri. Namun, untuk risiko besar dan kompleks, ketergantungan pada pasar internasional masih tinggi sehingga penurunan porsinya bersifat selektif, bukan struktural.

Dia turut menyampaikan pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong kenaikan tarif reasuransi bagi perusahaan asuransi, khususnya pada lini dengan eksposur global tinggi.

“Namun, pada dasarnya adalah besaran kenaikan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar reasuransi global, loss experience, dan daya tawar portofolio masing-masing perusahaan,” ucapnya.

Strategi Mitigasi Volatilitas Kurs

Lebih jauh, Wahyudin mengungkapkan ada lima cara yang bisa dilakukan perusahaan reasuransi untuk memitigasi volatilitas kurs. Pertama, melakukan natural hedging dengan menyelaraskan mata uang premi dan proteksi reasuransi. 

Kedua, memanfaatkan instrumen lindung nilai (financial hedging) seperti forward atau swap valas. Ketiga, mengoptimalkan retensi dan kapasitas reasuransi domestik/regional untuk mengurangi eksposur valas.

Keempat, menyusun struktur program reasuransi yang lebih efisien [layering dan kombinasi treaty dan fakultatif]. Kelima, melakukan penyesuaian tarif premi berbasis risiko dan pergerakan nilai tukar secara disiplin,” jelasnya.

Sementara itu, PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyebut strategi yang dilakukan untuk memitigasi risiko volatilitas nilai tukar adalah menyesuaikan durasi matching pengelolaan asset liabilities management perusahaan untuk menjaga missmatch, penggunaan instrumen lindung nilai secara selektif.

“Kemudian, penyesuaian struktur kontrak reasuransi, termasuk klausul mata uang dan mekanisme pembayarannya, diversifikasi panel reasuradur, baik domestik maupun internasional serta penyesuaian pricing underwriting, untuk mengakomodasi potensi kenaikan biaya,” ucap Presiden Direktur Tugure, Teguh Budiman kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).

Teguh mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah secara langsung meningkatkan biaya retrosesi, khususnya untuk kontrak yang ditempatkan pada reasuradur internasional dengan denominasi dolar AS atau mata uang asing lainnya.

Dengan demikian, lanjutnya, dampak terhadap struktur biaya cukup signifikan, terutama pada portofolio dengan ketergantungan tinggi terhadap kapasitas luar negeri. Adapun, lini bisnis yang paling terdampak antara lain property (khususnya industrial & commercial risks), energy (minyak & gas, pembangkit listrik), marine (cargo & hull), dan ⁠aviation.

“Hal ini karena lini tersebut membutuhkan kapasitas besar dan masih sangat bergantung pada pasar reasuransi global,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan sejauh ini belum terdapat pergeseran signifikan dalam jangka pendek untuk mengurangi porsi penempatan risiko ke reasuradur luar negeri. Teguh menegaskan keputusan penempatan risiko sangat ditentukan oleh ketersediaan kapasitas, pricing, serta rating dan kredibilitas reasuradur.

Namun demikian, Tugure melihat adanya optimalisasi penempatan melalui peningkatan utilisasi kapasitas reasuransi domestik (sepanjang memenuhi appetite dan rating), serta upaya negosiasi struktur treaty yang lebih efisien. 

“Namun, untuk risiko besar, ketergantungan pada reasuradur internasional masih belum dapat dihindari,” tegasnya.

Teguh turut menyampaikan saat ini kapasitas reasuransi domestik memang terus berkembang, tetapi secara umum masih terbatas untuk menggantikan seluruh kebutuhan dari pasar internasional. Adapun, pengetatan kapasitas khususnya terjadi untuk risiko besar (large industrial risks), risiko catastrophe-prone, serta sektor energi.

“Oleh karena itu, tantangan lebih terasa pada kenaikan harga, serta pengetatan terms and conditions, bukan semata-mata ketidaktersediaan kapasitas,” jelasnya.

Lebih jauh, dia mengungkapkan tekanan dari pelemahan rupiah dan ditambah dengan dinamika pasar reasuransi global berpotensi mendorong kenaikan tarif reasuransi dan pada akhirnya penyesuaian tarif premi di tingkat asuransi langsung. 

Namun, lanjutnya, kenaikan ini cenderung selektif karena tergantung dari lini bisnis dan profil risiko, serta mempertimbangkan kondisi persaingan pasar domestik.

“Secara keseluruhan, industri masih dalam kondisi resilien, sehingga memerlukan disiplin underwriting, pengelolaan risiko yang lebih prudent, serta strategi penempatan yang adaptif terhadap dinamika nilai tukar dan pasar reasuransi global,” tutupnya.

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sita 6 Barang Elektronik dari Faizal Assegaf, Termasuk Kamera
• 50 menit lalurctiplus.com
thumb
Prabowo Tiba di Tanah Air, Menlu: Presiden Prabowo dan Putin Bahas Kerja Sama Energi | SAPA MALAM
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkot Bandung Sosialisasikan Proyek BRT, Rampung Awal Mei 2026
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Christina Tekankan Penguatan Perlindungan HAM Awak Kapal Perikanan
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Terekam CCTV! Motor Muadzin di Pasuruan Digondol Maling saat Hendak Adzan Subuh
• 19 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.