Jakarta, VIVA – Indonesia tampil sebagai anomali positif saat hampir seluruh negara dihantam guncangan ekonomi akibat melonjaknya harga energi global.
Keberhasilan pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mempertahankan stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik dinilai sebagai prestasi strategis sekaligus bukti nyata kepedulian negara terhadap rakyatnya.
Hingga 1 April 2026, pemerintah dipastikan tetap menahan harga BBM agar tetap stabil. Harga Pertalite dipertahankan pada angka Rp10.000 per liter tanpa adanya penyesuaian berarti pada jenis BBM lainnya.
Langkah krusial ini berhasil menjaga daya beli masyarakat dan menopang stabilitas perekonomian nasional di tengah dinamika geopolitik yang memanas.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Idrus Marham, menyoroti capaian ini bukan sekadar keberhasilan biasa, melainkan prestasi luar biasa yang kini menjadi sorotan global. Ia menilai ketahanan energi nasional saat ini lahir dari pembagian peran yang solid antara Presiden Prabowo dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
“Hal ini mencerminkan kapasitas Prabowo Subianto sebagai pengambil keputusan sekaligus arsitek kebijakan yang tegas dan visioner, dengan kematangan dalam menetapkan arah strategis mempertahankan stabilitas harga BBM. Pada saat yang sama, Bahlil Lahadalia menjalankan peran eksekutorial secara impresif; dengan patriotisme dan kecakapan manajerialnya yang teruji, ia mampu menerjemahkan arahan presiden ke dalam implementasi kebijakan yang efektif dan terukur,” kata Idrus.
Menurut Idrus, orkestrasi kebijakan antara Istana dan Kementerian ESDM bukan hanya sebatas keselarasan kerja biasa. Terdapat ketegasan arah di tingkat pimpinan dan ketepatan eksekusi di lapangan.
“Dengan demikian, kinerja keduanya tidak hanya ‘klop’ dalam arti koordinatif, tetapi juga produktif dalam menghasilkan stabilitas yang berdampak langsung bagi kepentingan nasional,” tegas Idrus Marham.
Kestabilan harga di dalam negeri rupanya dibarengi dengan manuver diplomasi tingkat tinggi. Sadar akan adanya potensi gangguan distribusi minyak dunia akibat ketidakpastian jalur pelayaran, Presiden Prabowo didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil langkah proaktif melalui lawatan ke sejumlah negara, termasuk Rusia.
Pertemuan strategis dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow menjadi kunci untuk memperdalam kerja sama energi dan mengamankan pasokan minyak mentah bagi Indonesia. Idrus menilai langkah 'gercep' ini membuktikan kesungguhan pemerintah berjuang untuk rakyat.




