Harga Kedelai Naik, Pemerintah Ancam Cabut Izin Distributor & Importir Nakal

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah lonjakan harga kedelai di tengah memanasnya kondisi geopolitik.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan harga kedelai.

Selain itu, pemerintah juga berkoordinasi intensif dengan importir kedelai untuk memastikan tidak ada kenaikan harga kedelai yang terlalu signifikan. Dengan demikian, pengrajin tahu tempe tidak terlalu tertekan.

Dalam pantauan saat ini, Bapanas mengeklaim harga kedelai yang disalurkan sampai di pengrajin tahu dan tempe masih wajar dan sesuai ketentuan Harga Acuan Penjualan (HAP).

"Kami intensif berkoordinasi dengan teman-teman importir. Bagaimana kondisinya saat ini, artinya naiknya tapi masih tidak terlalu signifikan dan dalam kategori sangat wajar. Namun demikian, secara ketentuan harga saat ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," kata Ketut dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Dalam data harga kedelai per 13 April yang diolah Bapanas berdasarkan informasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di DKI Jakarta paling tinggi ada yang mencapai Rp11.000 per kilogram (kg) dan paling rendah di harga Rp10.500 per kg. Secara keseluruhan, rerata harga kedelai di Regional Jawa berada di Rp10.555 per kg.

Baca Juga

  • Harga Kedelai Naik Akibat Konflik Timur Tengah, Produsen Tempe Terjepit
  • Harga Kedelai Naik, Tekanan Global dan Rupiah Jadi Pemicu Utama
  • Harga Kedelai Mulai Meroket, Pelaku Usaha Tahu Tempe Menjerit

Selanjutnya, untuk Regional Sumatra terpantau cukup berfluktuasi di rerata harga Rp11.450 per kg. Rerata harga kedelai di Regional Sulawesi pun tak jauh berbeda yakni sekitar Rp11.113 per kg. Sementara rerata harga di Bali-NTB dan Kalimantan masing-masing berada di Rp10.550 per kg dan Rp10.908 per kg.

"Harga kedelai paling rendah itu Rp10.500 sampai Rp11.000 di Jakarta. Itu harga di tingkat pengrajin tahu tempe. Memang ada yang Rp12.000, itu di Aceh dan Sumut. Namun sebenarnya kondisi harga kedelai di pengrajin tahu tempe ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.

Ketentuan harga kedelai telah diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024. HAP di tingkat konsumen atau pengrajin tahu dan tempe maksimal Rp11.400 per kg untuk kedelai lokal. Sementara HAP kedelai impor maksimal di Rp12.000 per kg dengan asumsi harga kedelai di tingkat importir Rp11.500 per kg.

"Kami sudah memastikan ke importir untuk menjaga agar harga acuan dipastikan diberlakukan. Jangan sampai menaikkan melebihi harga acuan. Kami perintahkan, kami minta, dan ini juga memang amanat dari Bapak Menteri Pertanian sekaligus Bapak Kepala Bapanas," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa jika ada distributor atau importir kedelai yang memainkan harga hingga menyebabkan lonjakan signifikan, maka izinnya bakal dicabut. 

"Bapak Kepala Bapanas sangat tegas. Jadi kalau ada yang melebihi ketidakwajaran, kami bisa mencabut izin distributor, menahan izin importir. Sekali lagi, arahan Bapak Kepala Bapanas, kasih rambu-rambu bagi importir dan distributor sehingga tidak serta-merta menaikkan. Keuntungannya jangan berlebihan sehingga kewajaran perlu dijaga," tegasnya.

Lebih lanjut, Ketut menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga harga kedelai sampai di tingkat pengrajin tahu dan tempe. Menurutnya, apabila harga kedelai telah melampaui HAP tingkat konsumen di Rp12.000 per kg, maka pemerintah akan melakukan intervensi.

"Nah sekarang yang kita harus jagain adalah harga acuan di tingkat pengrajin itu Rp12.000 per kilogram. Ini harus kita jaga dan jangan dilewati. Tatkala melewati Rp12.000, maka pemerintah akan melakukan intervensi. Sekali lagi, kita jaga bareng. Harga saat ini sebagian besar masih di bawah Rp 12.000," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) meminta para importir kedelai agar dapat saling menjaga harga. Amran meminta tidak ada yang mengambil keuntungan secara tidak wajar.

“Terkait kedelai, kami sudah minta teman-teman importir, jangan mengambil keuntungan besar. Naik bolehlah naik tetapi jangan sampai itu menekan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Amran.

Untuk diketahui, dalam Proyeksi Neraca Pangan Kedelai Tahun 2026 yang diampu Bapanas, proyeksi produksi kedelai dalam negeri setahun ini diestimasikan di angka 277.500 ton. Sementara kebutuhan konsumsi kedelai setahun mencapai 2,74 juta ton yang mayoritas untuk kebutuhan pengrajin tahu dan tempe nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KBRI Malaysia ingatkan SPLP bukan dokumen izin kerja
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Aliansi Sipil Sumut Ikut Polisikan Jusuf Kalla Terkait Dugaan Penistaan Agama
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Trump Klaim Xi Jinping Setuju Setop Kirim Senjata ke Iran
• 9 jam laludetik.com
thumb
Ormas Islam Berkumpul, MUI Tekankan Pentingnya Persatuan Bangsa
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Harga Plastik Melejit, Bisnis Ramah Lingkungan Malah Ketiban Untung
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.