Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menilai perekonomian AS secara mendasar tetap kuat dan pertumbuhan masih dapat melebihi 3 persen atau 3,5 persen pada 2026, meski ada dampak perang AS-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Bloomberg, Bessent menganggap pemangkasan perkiraan pertumbuhan global dan proyeksi inflasi yang lebih tinggi oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sebagai reaksi berlebihan.
IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi AS karena lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang Iran.
"Saya pikir perekonomian secara mendasar tetap kuat. Saya pikir pertumbuhan dapat dengan mudah melebihi 3 persen, 3,5 persen tahun ini," kata Bessent, dikutip pada Rabu (16/4).
Serangan AS dan Israel terhadap Iran telah menaikkan harga minyak dan mengguncang pasar global. Perang tersebut menyebabkan blokade Selat Hormuz, jalur yang dilewati sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas alam global.
Bessent juga mengomentari tarif AS terhadap negara lain. Ia mengatakan bahwa tarif tersebut dapat kembali ke tingkat sebelumnya pada Juli setelah Mahkamah Agung memutuskan pada Februari bahwa Presiden AS Donald Trump melampaui wewenangnya dalam memberlakukan bea masuk global yang luas berdasarkan undang-undang darurat.
"Tarif tersebut dapat kembali ke tingkat sebelumnya pada awal Juli," kata Bessent, merujuk pada opsi yang sedang diupayakan oleh pemerintahan Trump seperti penyelidikan berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974.





