Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mencatatkan kinerja positif pada tiga bulan pertama tahun ini, bahkan lebih baik dari target perseroan untuk 2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan kinerja perseroan pada kuartal I/2026 seperti, laba, total aset, dana pihak ketiga (DPK), kredit, dan cost of fund, masih sesuai rencana bahkan lebih baik dari target yang tercantum dalam Rencana Kerja Perusahaan (RKP).
“Saya berani bilang bahwa hasil dari transformasi yang kita lakukan sudah mulai kelihatan. Artinya bank ini sudah on track menuju sesuatu yang jauh lebih baik,” kata Nixon dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan BTN Kuartal I/2026 di Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Pada kuartal I/2026, perseroan membukukan laba bersih Rp1,10 triliun, meningkat 22,6% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp904 miliar.
Direktur Finance & Strategy BTN Nofry Rony Poetra mengungkapkan, pertumbuhan laba bersih yang tetap solid itu ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 13% YoY menjadi sekitar Rp4,3 triliun.
“Peningkatan NII ini mencerminkan kemampuan BTN dalam menjaga margin dan optimalkan fungsi intermediasi,” ungkap Nofry.
Baca Juga
- Bank Tabungan Negara (BBTN) Raup Laba Bersih Rp1,1 Triliun per Kuartal I/2026
- Intip Kinerja BTN (BBTN) per Februari 2026 jelang Rilis Laporan Keuangan Kuartal I/2026
- BTN JAKIM Hadirkan 40 Ribu Pelari, Perkuat Sport Tourism Jakarta
Dari sisi intermediasi, perseroan mencatatkan penyaluran kredit senilai total Rp400,63 triliun atau naik 10,3% YoY dari Rp363,11 triliun pada kuartal I/2025.
Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR Subsidi, BTN mencatat telah menyalurkan kredit senilai Rp193,55 triliun per kuartal I/2026 atau naik 7,7% YoY dari Rp179,70 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemudian, untuk segmen KPR Non-Subsidi, posisi kredit telah mencapai Rp112,56 triliun per kuartal I/2026 atau naik 5,4% YoY dari posisi Rp106,81 triliun pada kuartal I/2025.
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, total DPK BTN juga tumbuh positif. Hingga bulan ketiga 2026, BTN mencatat pertumbuhan DPK sebesar 9,9% YoY menjadi Rp422,63 triliun per kuartal I/2026 dari Rp384,70 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Current account and savings account (CASA) BTN juga terus menunjukkan peningkatan sejalan dengan transformasi di segmen retail dan kehadiran bale by BTN. Per kuartal I/2026, CASA BTN tercatat tumbuh 7,9% YoY menjadi Rp212,11 triliun atau menempati porsi 50,2% dari total DPK. Cost of Fund (CoF) BTN pun membaik ke level 3,0% per kuartal I/2026 atau turun dari 4,0% di periode yang sama tahun lalu.
Dia menjelaskan, kinerja kredit dan DPK tersebut juga ikut menopang peningkatan aset BTN sebesar 10,5% YoY menjadi Rp517,54 triliun per kuartal I/2026 dari Rp468,53 triliun pada kuartal I/2025.
Sementara itu, secara keseluruhan Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memproyeksikan kinerja bank-bank BUMN akan rebound setelah pada 2025 relatif melambat. Sebagai pengingat, laba bersih Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) rata-rata turun sekitar 2—9% YoY lantaran tekanan Net Interest Margin (NIM) dan provisi.
“Kuartal II/2026 kami lihat sebagai positif dan mendukung target full-year 2026 yang lebih cerah dibanding 2025,” ujar Myrdal kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).
Secara detail, dia memperkirakan pertumbuhan kredit bank pelat merah akan tumbuh di kisaran 10—15% YoY, didukung oleh penugasan pemerintah dan sinergi Danantara, perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp200 triliun hingga September 2026, serta pemulihan permintaan kredit UMKM dan korporasi.
NIM juga diprediksi stabil hingga sedikit membaik di kisaran 4,0—4,5% tergantung bank, seiring BI Rate yang masih ditahan pada level 4,75%. Kualitas aset dan cost of credit (CoC) juga diperkirakan membaik, dengan Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali.
Kemudian dari sisi profitabilitas, dia memperkirakan laba bersih pada kuartal II/2026 tumbuh pada kisaran 8—15% YoY secara agregat untuk Himbara, dengan kontribusi terbesar dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), diikuti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan BBTN yang lebih bergantung pada pemulihan segmen masing-masing.
Kendati begitu, Myrdal juga mengungkapkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai pada kuartal II/2026. Di antaranya, persaingan ketat untuk DPK, utamanya dana murah serta volatilitas rupiah dan risiko global.





