Suasana berbeda terlihat di Stasiun Bogor imbas peron jalur 6, 7, dan 8 ditutup sementara, karena proyek pembangunan perpanjangan peron dan pembangunan kanopi, Kamis (16/4).
Di tengah perubahan akses dan kepadatan, para penumpang mulai menyesuaikan ritme harian mereka, dan sebagian masih mencoba memahami situasi, sebagian lain sudah lebih dulu beradaptasi.
Najma (21), mahasiswi yang juga pekerja asal Bogor, termasuk di antara mereka yang langsung merasakan perubahan itu.
Setiap hari, ia bergantung pada Commuter Line dari Bogor menuju Stasiun Pondok Cina untuk kuliah dan Stasiun Cawang untuk bekerja.
“Ini baru pertama kali lihat kondisinya setelah penutupan peron. Jadi agak kaget juga, apalagi tadi lewat pintu Mayor Oking, jalannya jadi lebih sempit karena ada pembangunan,” ujar Najma saat ditemui di lokasi, Kamis (16/4).
Menurutnya, penutupan beberapa peron akan berdampak pada jadwal perjalanan kereta. Dengan jumlah peron yang berkurang, kemungkinan besar frekuensi atau pengaturan jadwal akan berubah.
“Mungkin jadwal keretanya bakal lebih padat. Karena biasanya kan banyak, sekarang peronnya jadi lebih sedikit. Jadi kayak harus lebih antisipasi aja ke depannya,” katanya.
Meski antrean masuk yang ia alami pagi itu tidak terlalu panjang, Najma mulai mempertimbangkan untuk mengatur ulang waktu keberangkatan agar tidak terlalu mepet.
“Kayaknya ke depan harus lebih diperhatiin lagi waktunya. Jangan datang mepet, karena kita juga belum tahu nanti jadwalnya bakal berubah atau nggak,” tambahnya.
Cerita serupa datang dari Samantha (21), mahasiswi asal Bogor yang setiap hari menuju Stasiun UI di Depok. Ia mengaku baru mengetahui adanya penutupan peron dalam beberapa waktu terakhir.
“Aku biasanya masuk dari pintu Alun-alun, karena lebih dekat. Tadi sih nggak padat, memang biasanya juga nggak terlalu ramai kalau pagi. Tapi kalau jam pulang, pasti beda,” ujarnya.
Namun, Samantha menaruh perhatian pada potensi kepadatan ke depan. Dengan berkurangnya jumlah peron aktif, ia memperkirakan lonjakan penumpang akan lebih terasa, terutama saat jam sibuk.
“Biasanya 8 peron aja sudah ramai banget. Sekarang tinggal 5 peron, pasti bakal lebih padat lagi sih. Bisa jadi jadwal kereta juga lebih lama,” katanya.
Kondisi ini membuatnya merasa perlu mengantisipasi waktu perjalanan lebih matang.
“Kayaknya harus berangkat lebih awal lagi dari biasanya. Soalnya kalau makin padat, waktunya juga harus lebih diperhitungkan,” lanjutnya.
Sementara itu, Salma (20), mahasiswi yang rutin bepergian ke Stasiun Universitas Pancasila, mengaku belum terlalu merasakan lonjakan kepadatan. Namun, ia menyadari kondisi itu bisa berbeda jika berangkat di jam yang lebih pagi.
“Karena aku nggak berangkat pagi-pagi banget, jadi belum terlalu padat. Tapi kayaknya kalau pagi banget pasti lebih ramai,” ujarnya.
Berbeda dengan Najma dan Samantha, Salma mengaku sudah lebih dulu mengetahui informasi penutupan peron. Hal itu membuatnya bisa melakukan penyesuaian sejak awal.
“Udah tahu sebelumnya, jadi aku sekarang berangkat lebih awal. Udah atur waktunya biar nggak kepepet,” katanya.
Penutupan peron di Stasiun Bogor memang menjadi fase transisi yang menuntut penyesuaian, baik dari sisi operator maupun penumpang.
Di tengah pembangunan yang berlangsung, rutinitas harian para komuter perlahan berubah dan penuh perhitungan.





