Aksi Grup Bakrie: BNBR, JGLE, dan VKTR Rights Issue, UNSP Private Placement

idxchannel.com
17 jam lalu
Cover Berita

Grup Bakrie melalui sejumlah emiten, tengah menyiapkan aksi korporasi berupa rights issue hingga private placement untuk memperkuat struktur permodalan.

Aksi Grup Bakrie: BNBR, JGLE, dan VKTR Rights Issue, UNSP Private Placement. (Foto: Bakrie & Brothers)

IDXChannel - Grup Bakrie melalui sejumlah emiten, tengah menyiapkan aksi korporasi berupa rights issue hingga private placement untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi usaha.

Langkah ini ditempuh di tengah kebutuhan perbaikan neraca keuangan dan optimalisasi aset, dengan mayoritas dana difokuskan untuk pelunasan utang, penguatan modal kerja, hingga ekspansi melalui akuisisi dan pengembangan proyek baru.

Baca Juga:
Saham Bakrie & Brothers (BNBR) Reli 7 Hari di Tengah Rencana Rights Issue

BNBR

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana melakukan penambahan modal melalui skema rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) tahap V dengan menerbitkan hingga 86,7 miliar saham baru.

Baca Juga:
Konservatif, PANI Bidik Marketing Sales Rp4,3 Triliun pada 2026

Dalam dokumen ringkasan prospektus, perseroan akan menawarkan saham baru seri E dengan nilai nominal Rp12 per saham. Setiap pemegang 2 saham lama berhak atas 1 HMETD yang dapat digunakan untuk membeli 1 saham baru.

Aksi korporasi ini berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan hingga maksimal 33,33 persen bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya.

Baca Juga:
Bursa Asia Naik di Tengah Harapan Damai AS-Iran, Nikkei Jepang Rekor

HMETD dijadwalkan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 26 Mei hingga 4 Juni 2026, dengan recording date pada 22 Mei 2026.

BNBR masih menanti tanggal efektif pernyataan pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 8 Mei 2026.

Manajemen BNBR mengungkapkan, sebagian besar dana hasil rights issue akan digunakan untuk memperbaiki struktur keuangan, terutama melalui pembayaran utang.

Sekitar Rp4,36 triliun akan disalurkan sebagai pinjaman ke anak usaha, PT Bakrie Teknologi Investasi (BTI), yang kemudian digunakan untuk melunasi kewajiban kepada Hartman International Pte Ltd dan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Selain itu, sekitar Rp1,09 triliun akan digunakan langsung oleh perseroan untuk membayar utang ke PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA).

Sementara Rp300 miliar akan dialokasikan untuk mendukung pembangunan rest area Tol Cimanggis–Cibitung melalui entitas anak. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja.

Per akhir 2025, total liabilitas BNBR tercatat mencapai Rp18,89 triliun, melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan ini terutama berasal dari peningkatan pinjaman jangka panjang, seiring ekspansi bisnis dan akuisisi aset, termasuk proyek jalan tol.

Di sisi lain, total aset perseroan naik tajam menjadi Rp23,56 triliun, sementara ekuitas tercatat Rp4,67 triliun.

Secara kinerja, BNBR mencatat laba bersih Rp502,7 miliar pada 2025, naik sekitar 49,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, laba usaha justru turun tajam akibat penurunan pendapatan dan kenaikan beban operasional.

Pendapatan perseroan tercatat Rp3,74 triliun, sedikit turun dari 2024. Penurunan ini terutama berasal dari melemahnya kinerja salah satu entitas anak.

Untuk memastikan seluruh saham terserap, BNBR juga menyiapkan pembeli siaga yang akan menyerap sisa saham yang tidak diambil investor.

Langkah ini memberi kepastian bahwa target pendanaan tetap tercapai, sekaligus memperkuat struktur permodalan perseroan.

JGLE

PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) berencana melakukan penambahan modal melalui rights issue senilai sekitar Rp414 miliar guna memperkuat bisnis dan mengambil alih mayoritas saham PT Jungleland Asia (JLA).

Dalam keterbukaan informasi, perseroan akan menerbitkan maksimal 8,28 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp50 per saham. Aksi korporasi ini setara 26,83 persen dari modal ditempatkan setelah rights issue.

Dana yang dihimpun hampir seluruhnya akan digunakan untuk mengakuisisi 61,86 persen saham JLA milik PT Adiprotek Envirodunia (AE), sementara sisanya dialokasikan untuk modal kerja.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi JGLE untuk kembali mengonsolidasikan JLA, pengelola Jungleland Adventure Theme Park di Sentul.

Sebelumnya, kepemilikan perseroan terdilusi akibat masuknya investor strategis saat pandemi, yang membantu memperbaiki struktur keuangan anak usaha tersebut.

Manajemen menilai akuisisi ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan.

Perseroan memperkirakan adanya keuntungan akuntansi hingga Rp570,8 miliar dari transaksi, yang berasal dari selisih nilai wajar aset dan penyesuaian investasi.

Selain itu, ekuitas diproyeksikan meningkat tajam dan rasio utang terhadap modal membaik.

Dari sisi bisnis, JLA memiliki aset strategis berupa lahan sekitar 35 hektare di kawasan Sentul. Lahan tersebut direncanakan untuk dikembangkan menjadi proyek residensial hingga 2031, dengan potensi pendapatan kumulatif mencapai sekitar Rp938 miliar.

Perseroan menilai pengembangan properti di atas lahan tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru, di tengah pemulihan sektor rekreasi pascapandemi.

Meski demikian, realisasi proyek tetap bergantung pada pendanaan dan kondisi pasar properti.

Rights issue ini tidak akan mengubah pengendali perseroan. AE akan bertindak sebagai pembeli siaga yang menyerap saham tidak diambil investor, sekaligus berpotensi menjadi pemegang saham baru setelah transaksi rampung.

VKTR

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) berencana melakukan penambahan modal melalui skema rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 21,87 miliar saham baru.

Langkah ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei 2026.

Manajemen menyebut, seluruh saham baru tersebut akan memiliki hak yang sama dengan saham lama, termasuk hak atas dividen, dan akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

Dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk memperkuat modal kerja serta penyertaan modal ke entitas anak guna mendukung pengembangan bisnis ke depan. Rinciannya akan disesuaikan dengan kondisi saat pelaksanaan.

Perseroan memperkirakan aksi korporasi ini akan berdampak positif terhadap kondisi keuangan, terutama melalui peningkatan ekuitas dan penguatan struktur permodalan. Hal ini diharapkan mendorong pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas dalam jangka panjang.

Namun, bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya, potensi dilusi kepemilikan bisa mencapai maksimum 33,33 persen.

Jika seluruh saham baru terserap, jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh VKTR akan meningkat dari 43,75 miliar menjadi 65,62 miliar saham.

Perseroan menargetkan proses rights issue ini dapat rampung pada kuartal III 2026, setelah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

UNSP

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) melalui skema private placement guna memperbaiki kondisi keuangan.

Aksi korporasi ini akan dilakukan dengan mengonversi sebagian utang perseroan menjadi saham baru.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen menyebutkan total utang yang akan dikonversi mencapai sekitar Rp4,35 triliun.

Nilai tersebut akan ditukar menjadi sekitar 14,5 miliar saham baru seri B dengan nilai nominal Rp100 per saham dan harga pelaksanaan Rp300 per saham.

Langkah ini diambil seiring tekanan keuangan yang dihadapi perseroan, di mana liabilitas tercatat jauh melebihi total aset dan modal kerja bersih berada di posisi negatif.

Melalui konversi utang menjadi ekuitas, UNSP menargetkan struktur permodalan yang lebih sehat, penurunan beban bunga, serta perbaikan arus kas ke depan.

Sejumlah kreditur yang terlibat dalam skema ini antara lain Poseidon Corporate Services Limited, Pacific Harbor Advisors Pte. Ltd., serta pemegang surat utang seperti Unbounded Opportunities Fund SPC dan Drake Private Investments LLC. Selain itu, entitas afiliasi seperti Bakrie Capital Indonesia juga ikut berpartisipasi. 

Setelah transaksi rampung, struktur kepemilikan saham akan berubah signifikan. Pemegang saham lama diperkirakan mengalami dilusi hingga sekitar 85,3 persen, sementara kreditur akan menjadi pemegang saham baru dengan porsi kepemilikan besar.

Meski demikian, manajemen menegaskan tidak akan terjadi perubahan pengendalian atas perseroan pasca aksi ini. PMTHMETD tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 25 Mei 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Songkran di Thailand Berujung Duka, 154 Orang Meninggal Dunia Dalam 4 Hari
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo dan Dasco Bertemu Empat Mata di Istana, Ada Apa?
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Jemaah yang Bawa Uang Rp100 Juta Atau Lebih Wajib Lapor Bea Cukai
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Lulus Kuliah Banting Setir, Jalan Terjal Sarjana Tembus Kerja di Sektor Formal
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Titik Heli Jatuh di Kalbar Ditemukan, Kondisi 8 Penumpang Belum Diketahui
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.