Garda Senyap untuk Negeri, itulah tema yang diusung Komando Pasukan Khusus atau Kopassus di Hari Ulang Tahun ke-74 yang jatuh pada 16 April 2026. Kata senyap mengungkap salah satu kemampuan Pasukan Baret Merah ketika berada di medan operasi.
Tujuh puluh empat tahun yang lalu, 16 April 1952, Kopassus dibentuk dengan nama Kesatuan Komando (Kesko) Teritorium Tentara III Siliwangi atau disingkat Kesko III. Saat itu, Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono IX menetapkan Mayor Mochammad Idjon Djanbi menjadi perwira Angkatan Darat dengan nomor registrasi prajurit (NRP) 17665.
Gagasan pembentukan pasukan khusus dengan kualifikasi komando oleh Kolonel Alex Evert Kawilarang dan Letnan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi akhirnya terwujud. Idjon Djanbi pun ditunjuk menjadi komandan pertama satuan tersebut.
Satuan tersebut kemudian berganti nama menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD) pada 1953. Namanya kemudian berubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (SPKAD) pada 1955.
AM Hendropriyono dalam buku "Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin" (2017) menuturkan, ia pertama kali mengalami penugasan sebagai perwira remaja Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD) pada 1968. Puspassus AD sebelumnya bernama RPKAD yang kemudian berganti nama menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) pada 1972. Nama itu bertahan sampai 1982 ketika kemudian diubah menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) hingga sekarang.
Hendropriyono menuturkan, operasi para komando adalah operasi militer fisik yang dilakukan satuan tentara terlatih dan diperlengkapi secara khusus. Sasaran para komando adalah personel kunci musuh atau material kunci milik musuh.
"Maka, sasaran operasi para komando yang juga disebut obyek vital itu bernilai strategis, yang artinya merupakan kunci untuk memengaruhi keadaan pertempuran dalam merebut kemenangan," tutur Hendropriyono.
Harian Kompas mencatat, doktrin Kopassus mengharuskan prajurit Kopassus memiliki kemampuan melaksanakan Operasi Para Komando (Parako), yakni pasukan terjun yang terlatih bertempur di semua medan, kemudian Operasi Sandi Yudha, dan Operasi Penanggulangan Teror.
Sebagai perbandingan dengan struktur militer AS, para komando setara dengan pasukan Ranger, penanggulangan teror setara dengan Delta Force, dan Sandi Yudha setara dengan Special Force. Sementara, The United States Army Special Operations Command (USASOC) adalah organisasi yang setara dengan Kopassus.
Beberapa tahun yang lalu, Kopassus mengubah organisasi dalam rangka penyesuaian untuk menghadapi tantangan perang modern. Awalnya, organisasi Kopassus terdiri dari Grup 1 Para Komando (Parako) di Serang, Grup 2 Parako di Solo, Grup 3 Sandi Yudha, Satuan-81 Penanggulangan Teror di Jakarta, dan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar.
Setelah reorganisasi, Grup 2 yang tadinya berkualifikasi Parako dengan kemampuan seputar penghancuran musuh, perebutan, dan penculikan diubah menjadi Sandi Yudha. Dengan demikian, saat ini Kopassus memiliki dua grup Sandi Yudha dan satu grup Parako. Sandi Yudha memiliki kualifikasi intelijen, seperti perang rahasia, infiltrasi, dan kontragerilya dengan metode perang psikologi memenangi hati dan pikiran masyarakat.
Hendropriyono dalam bukunya menuturkan, selain sasaran berupa personel dan materiil, informasi intelijen juga merupakan obyek vital yang bernilai strategis. Di sini, operasi para komando meluas ke operasi yang disebut Sandi Yudha sebagai sebuah operasi intelijen strategis.
Tugas operasi Sandi Yudha adalah melaksanakan perang inkonvensional, yaitu perang yang tidak tunduk pada hukum internasional. "Unconventional warfare yang pernah kita lakukan di medan pertempuran Kalimantan Utara (Inggris) dan kemudian di Kalimantan Barat (Indonesia)," ujar Hendropriyono.
Dalam konteks masa depan, keunggulan Kopassus bukan hanya pada keahlian spesifik, tetapi pada profesionalisme, adaptabilitas, dan kemampuan bekerja dalam operasi tertutup secara efektif dan lincah.
Operasi lain yang mengangkat nama Kopassus adalah operasi pembebasan sandera pesawat Garuda DC-9 ”Woyla” yang tengah dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada 1981. Pesawat Woyla dengan nomor penerbangan 206 tersebut dibajak pada pukul 10.10 WIB, 25 mil sebelum Pekanbaru.
Hanya dalam waktu tiga menit, Kopassandha berhasil melumpuhkan lima pembajak dan menyelamatkan puluhan sandera baik penumpang maupun kru pesawat. Musril Hanafiah, salah satu sandera, menuturkan, Kopassandha sangat berhati-hati dan tepat sasaran saat melakukan penyerbuan.
Operasi singkat itu membuat decak kagum para wartawan yang meliput. ”Seperti di film saja,” ujar Terry Schmit, wartawan foto Sygma yang meliput operasi ini sebagaimana diberitakan Harian Kompas.
Setiap prajurit Kopassus mesti melalui tiga tahapan pendidikan yang terbagi menjadi tahap basis, tahap gunung hutan, dan tahap rawa laut. Tahap basis merupakan ilmu dasar yang wajib dimiliki prajurit komando, baik secara perorangan maupun kelompok. Para prajurit diharapkan mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat baik dalam kondisi stres maupun lelah. Tahap basis diakhiri dengan uji kompetensi komando (UKK) dan tes psikologi khusus.
Tahap gunung hutan mengaplikasikan semua materi teknik dan taktik yang diterima prajurit sewaktu tahap basis. Tahapan ini menempa para prajurit untuk mampu bertahan di berbagai medan dan cuaca ekstrem hingga kekuatan tekad dalam mempertaruhkan nyawa. Tahap gunung hutan ditutup dengan long march siang dan malam dari Bandung ke Cilacap yang berjarak 455 kilometer dengan 10 titik perhentian.
Rangkaian pendidikan ditutup dengan tahap rawa laut yang menuntut prajurit untuk menghadapi gelombang, arus dan pasang surut air laut, serta lumpur daerah rawa hingga sungai. Seluruh tantangan harus dilalui prajurit dengan kombinasi teknik dan taktik khusus.
Pada Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi membentuk 6 grup Kopassus. Hal itu tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI nomor Kep/1033/VIII/2025 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.
Keenam grup tersebut ditempatkan di beberapa titik di Indonesia, yakni Grup 1 bermarkas di Banten, Grup 2 di Surakarta (Jawa Tengah), Grup 3 di Dumai (Riau), Grup 4 di Penajam (Ibu Kota Nusantara), Grup 5 di Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Grup 6 di Timika (Papua Tengah). Adapun markas utama Kopassus (Mako Kopassus) tetap berada di Jakarta.
Dihubungi secara terpisah, pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, berpandangan, peringatan HUT ke-74 Kopassus menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali relevansi Kopassus sebagai pasukan elite TNI AD ini dalam menghadapi spektrum ancaman yang semakin kompleks.
Di tengah perubahan karakter perang modern, kapasitas Kopassus tidak cukup hanya diukur dari kemampuan tempur konvensional, tetapi juga dari kesiapan menghadapi operasi khusus yang bersifat cepat, senyap, presisi, dan berisiko tinggi.
Menurut Beni, ancaman terorisme, sabotase, pembajakan, infiltrasi, separatisme, hingga operasi hibrida menuntut Kopassus untuk memiliki keunggulan dalam intelijen lapangan, mobilitas, interoperabilitas, dan penguasaan teknologi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas Kopassus harus diarahkan pada modernisasi alutsista pendukung, penguatan latihan bersama, penguasaan operasi urban dan maritim, termasuk kemampuan siber dasar.
"Dalam konteks masa depan, keunggulan Kopassus bukan hanya pada keahlian spesifik, tetapi pada profesionalisme, adaptabilitas, dan kemampuan bekerja dalam operasi tertutup secara efektif dan lincah," ujar Beni.
Dengan bekal pendidikan yang keras serta pengalaman operasi yang teruji, selama 74 tahun Kopassus menjadi kekuatan strategis yang diandalkan negara. Sebagai "garda senyap untuk negeri", Kopassus diharapkan tetap bekerja dalam senyap, namun memberi dampak besar bagi bangsa. Komando!





