PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat kenaikan jumlah penumpang berbagai transportasi berbasis rel mulai LRT Jabodebek, Whoosh sampai Commuter Line Jabodebek. Kenaikannya pun beragam bahkan ada yang mencapai 22,77 persen.
Untuk itu, KAI berkomitmen untuk terus memperkuat konektivitas berbagai moda transportasi berbasis rel.
“Konektivitas yang terbangun antar layanan membuat perjalanan terasa lebih efisien. Setiap simpul transportasi saling melengkapi, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam merencanakan perjalanan,” kata VP Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4).
Pada triwulan I 2026, LRT Jabodebek sudah melayani 7.754.946 penumpang. Angka itu meningkat 22,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 6.351.283 penumpang.
Untuk Whoosh, pada periode yang sama sudah melayani 1.408.815 penumpang. Angka itu meningkat 4,07 persen dari 1.353.760 pelanggan pada triwulan I 2025.
Sedangkan Commuter Line Jabodebek, pertumbuhan penumpang pada triwulan I 2026 meningkat menjadi 87.979.372 penumpang atau naik 7,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Terakhir, Commuter Line Basoetta mencatat kenaikan mencapai 634.921 penumpang pada triwulan I 2026m. Angka itu meningkat 22,77 persen dibandingkan 517.166 pelanggan pada triwulan I 2025.
Anne juga memberi contoh soal berbagai moda transportasi berbasis rel yang saat ini sudah saling terkoneksi. Salah satunya LRT Jabodebek yang terhubung langsung dengan layanan kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim.
Sementara untuk jaringan perkotaan, saat ini Stasiun LRT Cikoko sudah terhubung dengan Commuter Line. Kawasan Dukuh Atas juga sudah menjadi simpul integrasi yang mempertemukan LRT dan KRL.
Untuk Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, saat ini juga sudah terhubung dengan KRL Commuter Line melalui Stasiun Manggarai, BNI City, Duri, dan Batuceper.





