JAKARTA, KOMPAS - Digitalisasi pendidikan dilakukan pemerintah melalui pengadaan interactive flat panel atau papan interaktif digital di sekolah-sekolah. Hal ini membuka ruang bagi revitalisasi muatan lokal. Selama ini muatan lokal kerap terpinggirkan dalam arus modernisasi pendidikan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq mengatakan teknologi ini menjadi medium untuk menghidupkan kembali konteks lokal mulai dari kebudayaan, sejarah, hingga potensi daerah. Materi tidak lagi sekadar teks, tetapi hadir dalam bentuk visual, interaktif, dan dekat dengan pengalaman siswa.
"Transformasi digital tidak boleh mencabut akar lokal. Justru di sinilah teknologi bekerja, menguatkan identitas, bukan menggantikannya,” kata Fajar saat mengunjungi SD Kanisius Wonogiri, Jawa Tengah dalam keterangan pers, Kamis (16/4/2026).
Dia menegaskan, kunci perubahan bukan pada perangkat, melainkan pada manusia yang menggunakannya. Guru dituntut bukan hanya melek teknologi, tapi mampu merancang pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Fajar mendorong semua satuan pendidikan untuk terus memperkuat pendidikan karakter melalui implementasi nilai-nilai kebajikan di sekolah. Sebab, pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.
"Kita ingin sekolah menjadi ruang yang memanusiakan manusia, tempat anak-anak tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Di kelas-kelas yang kini terang oleh layar digital, masa depan itu mulai dibangun—perlahan tetapi pasti,” ucapnya.
Melalui flat panel ini, kami bisa mengajarkan pengenalan aksara Jawa dan sekaligus mempraktikkannya.
Pada tahun 2025 lalu, pemerintah telah menyalurkan sebanyak 288.865 sekolah, masing-masing sekolah satu unit. Dukungan ini dilengkapi dengan penyediaan akses internet dan listriknya.
Kemudian pada tahun 2026 ini, setiap sekolah direncanakan menerima tambahan tiga unit papan interaktif digital atau PID. Pemerintah merencanakan setiap sekolah akan ada enam unit PID pada tahun 2027.
Penyaluran ini berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Instruksi itu mengenai Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan dan Revitalisasi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Pembangunan dan Pengelolaan Sekolah Menengah Atas Unggul Garuda, dan Digitalisasi Pembelajaran.
Instruksi itu menegaskan perintah presiden untuk menyediakan media yang membangun ekosistem ruang kelas digital dan pembelajaran berbasis teknologi sesuai tuntutan zaman. Kemendikdasmen berkomitmen melaksanakan Inpres itu, merealisasikan program ini sebaik-baiknya dengan menyalurkan PID ke seluruh sekolah negeri dan swasta.
Terkait kesiapan guru, pelatihan penggunaan PID telah diberikan kepada para guru agar bisa mengajar dengan optimal sesuai tujuan pembelajaran. Berbagai fitur, seperti papan tulis digital, akses internet, pemutaran video pembelajaran, hingga kemampuan menghubungkan berbagai perangkat, dioptimalkan untuk mendukung proses belajar mengajar.
Pemerintah pun menggandeng para alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar turut terlibat dalam program ini melalui program Alumni Pejuang Digital.
Program tersebut tak hanya memberikan pelatihan teknis penggunaan PID, tetapi juga mendampingi guru dalam menyusun materi ajar digital, menerapkan pembelajaran interaktif, serta membangun kebiasaan belajar berbasis teknologi di sekolah.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait akses jaringan internet yang memengaruhi optimalisasi pemanfaatan PID. Namun, di tangan guru yang kreatif, perkembangan teknologi ini tidak langsung melupakan kearifan lokal yang harus diturunkan kepada generasi penerus.
" Melalui flat panel ini, kami bisa mengajarkan pengenalan aksara Jawa dan sekaligus mempraktikkannya, bahkan pelajaran ini bisa dikemas melalui permainan yang menyenangkan” terang Nina Christantini, Kepala Sekolah Sekolah Dasar (SD) Kanisius Wonogiri.
Di SMA Negeri 1 Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, PID juga digunakan untuk memahami materi pelajaran yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Pembelajaran sains di sekolah selama ini hanya menghafal rumus antara lain memahami konsep abstrak misalnya teori kinetik gas, yang menjelaskan hubungan tekanan, volume, dan suhu. Kini pembelajaran sains bisa divisualisasikan melalui PID kepada siswa.
“Terkait teori kinetik gas pada hukum Boyle misalnya, siswa kini tak lagi sekadar mengabstraksi kaitan antara tekanan, volume, dan suhu, melainkan bisa melihat visualisasi pergerakan partikel secara langsung melalui papan interaktif digital," kata Kepala SMAN 1 Indralaya Pudyo Laksono.
Saat dihubungi secara terpisah, pengamat pendidikan Ina Liem menilai, pengadaan PID ini belum terlalu urgen, banyak hal lain dalam transformasi pendidikan nasional yang lebih penting. Misalnya, pendidikan karakter demi mengatasi tiga dosa besar pendidikan yakni perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
” Apa gunanya sekolah mempunyai IFP, laptop (komputer jinjing), atau perangkat canggih lainnya kalau rapor pendidikan menunjukkan masih banyak kekerasan, pelecehan, dan intoleransi di lingkungan pendidikan serta integritas di sekolah belum terbangun?” kata Ina.





