Menakar Peluang Kepulauan Seribu sebagai Masa Depan Jakarta

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Kepulauan Seribu mulai diproyeksikan sebagai salah satu wajah baru Jakarta di masa depan. Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi pesisir.

Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, Kepulauan Seribu merupakan salah satu kawasan strategis yang perlu dikelola lebih serius agar mampu menjadi motor baru ekonomi ibu kota.

”Saya selalu mengatakan bahwa salah satu masa depan Jakarta yang harus dikelola, dirawat dengan baik adalah Pulau Seribu. Itu akan menjadi masa depannya Jakarta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Selama ini, pembangunan Jakarta dinilai masih terkonsentrasi di wilayah daratan. Oleh karena itu, Pemprov Jakarta mendorong penguatan Kepulauan Seribu melalui penataan kawasan, penguatan infrastruktur, serta pengembangan citra baru atau rebranding agar semakin dikenal khalayak dan menarik wisatawan.

Menurut Pramono, upaya penguatan kawasan dilakukan melalui penataan lingkungan, mulai dari perbaikan tata ruang, peningkatan kebersihan, dan pembenahan estetika pulau agar lebih nyaman dan menarik bagi wisatawan. Di sisi lain, penguatan infrastruktur juga menjadi fokus, seperti peningkatan fasilitas pelabuhan, transportasi antarpulau, ketersediaan listrik, air bersih, serta sarana publik lainnya.

Adapun rebranding dilakukan melalui penegasan pembagian peran antarwilayah dalam kerangka Jakarta sebagai kota global. Jakarta Pusat diarahkan sebagai pusat pemerintahan dan sejarah, Jakarta Selatan sebagai pusat ekonomi dan gaya hidup modern, sementara wilayah pesisir dan Kepulauan Seribu diposisikan sebagai kawasan unggulan berbasis wisata bahari, konservasi, dan ekowisata berkelanjutan.

Pramono menambahkan, pengembangan Kepulauan Seribu penting karena kawasan ini memiliki kekayaan sejarah dan alam yang bernilai tinggi. Sejumlah situs peninggalan kolonial Belanda masih terjaga, seperti di Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor, yang berpotensi memperkuat wisata sejarah, edukasi, dan budaya.

Baca JugaKepulauan Seribu Melabuhkan Harapan pada Geliat Pariwisata

Selain penguatan konsep pengembangan kawasan, pemerintah daerah juga terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur pendukung. Salah satunya melalui peresmian revitalisasi Pelabuhan Pulau Pari pada Jumat (13/3/2026) yang bertujuan meningkatkan konektivitas antarpulau serta kenyamanan wisatawan.

Meski demikian, Pramono menekankan, seluruh rencana pembangunan daerah tetap harus sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat. Menurut dia, sinkronisasi antara kebijakan daerah dan nasional penting agar pembangunan berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.

”Visi daerah itu sebenarnya harus senada dengan visi pusat. Tidak ada yang kemudian visi pusat A, visi daerah Z,” kata Pramono.

Baca JugaSeribu Satu Langkah Mahariah Selamatkan Kepulauan Seribu (1)

Di lapangan, berbagai upaya penguatan kawasan pesisir juga mulai dilakukan, salah satunya melalui restorasi pantai di sisi utara Jembatan Cinta, Pulau Tidung. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi abrasi sekaligus mempercantik kawasan wisata.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Kepulauan Seribu Mustajab mengatakan, restorasi dilakukan dengan mengembalikan pasir pantai yang terkikis abrasi serta memasang geobag sebagai pelindung garis pantai.

”Kami berupaya mengembalikan pasir pantai yang hilang, sekaligus memperkuat struktur pantai agar tidak mudah terkikis kembali,” ujar Mustajab.

Baca JugaKepulauan Seribu yang Diminati Wisatawan Asing

Mustajab menjelaskan, pengerjaan yang dimulai sejak awal Maret 2026 ini ditargetkan mencakup sepanjang 200 meter. Pemasangan geobag juga dilakukan untuk menahan pergerakan pasir agar lebih stabil.

”Kami berharap ke depan semakin banyak pantai dengan hamparan pasir putih yang bisa dinikmati, sehingga mendukung sektor pariwisata,” tuturnya.

Selain itu, penataan tanggul juga dilakukan di lokasi yang sama. Tanggul yang sebelumnya rusak kini ditata ulang sepanjang sekitar 200 meter. Tanggul akan difungsikan sebagai jalur pejalan kaki sekaligus ruang bersantai bagi warga dan wisatawan.

Hingga saat ini, progres pengerjaan tanggul telah mencapai lebih dari 50 persen atau sekitar 110 meter. Ke depan, area di depan tanggul juga akan ditanami mangrove sebagai perlindungan alami dari abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Baca JugaKepulauan Seribu Menuju Nol Sampah
Memperkuat promosi

Untuk memperkuat promosi wisata bahari sekaligus memperluas jangkauan destinasi unggulan Jakarta di ruang digital, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Jakarta juga menggelar kegiatan Perjalanan Wisata Pengenalan (PWP) bersama para konten kreator di Kepulauan Seribu pada awal April 2026.

Kegiatan ini mengusung konsep wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) dengan destinasi Pulau Onrust dan Pulau Sepa. Sebanyak 34 peserta ikut dalam perjalanan ini, terdiri dari pemenang lomba foto Jakarta Light Festival dalam rangka Tahun Baru Imlek 2026 serta konten kreator dari Jakarta Experience Board (JXB).

Kepala Dinas Parekraf Jakarta Andhika Permata menjelaskan, dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengeksplorasi dua destinasi unggulan, yakni Pulau Onrust dan Pulau Sepa. Di Pulau Onrust, mereka menelusuri jejak sejarah masa kolonial, mulai dari bekas galangan kapal hingga kawasan karantina, yang menghadirkan pengalaman wisata edukatif.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pulau Sepa yang dikenal sebagai pulau resort dengan pantai berpasir putih dan laut jernih. Di lokasi ini, peserta menikmati berbagai aktivitas seperti snorkeling, diving, kayaking, hingga bersepeda keliling pulau.

Baca JugaSeribu Satu Langkah Mahariah Selamatkan Kepulauan Seribu (2)

Selama kegiatan, para peserta juga mendokumentasikan pengalaman mereka dalam bentuk foto, video, dan cerita perjalanan yang dibagikan melalui media sosial.

”Konten tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang daya tarik Kepulauan Seribu sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk berkunjung,” ujar Andhika.

Andhika mengatakan, Jakarta selama ini dikenal sebagai kota urban dan pusat bisnis. Padahal, Jakarta juga memiliki potensi wisata alam yang kuat di Kepulauan Seribu.

Gugusan pulau tersebut bahkan menawarkan keindahan bahari yang masih alami, mulai dari air laut yang jernih, ekosistem bawah laut yang kaya, hingga suasana pulau tropis yang tenang. Tentu saja sangat disayangkan jika dilalui begitu saja.

”Ini menjadi nilai tambah yang memperkaya citra Jakarta sebagai destinasi yang lengkap, tidak hanya modern, tetapi juga memiliki sisi alam yang menenangkan,” kata Andhika.

Andhika juga menekankan, Kepulauan Seribu memiliki keunggulan dari sisi aksesibilitas. Wisatawan dapat mencapainya dalam waktu sekitar 1–2 jam dari pusat kota menggunakan transportasi laut, sehingga cocok untuk short escape atau perjalanan singkat.

”Ini membuat Kepulauan Seribu menjadi pilihan praktis bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari tanpa perlu perjalanan jauh,” ucapnya.

Meski memiliki keunggulan tersebut, penguatan promosi dinilai tetap penting. Sebab, tren kunjungan wisatawan justru menunjukkan penurunan. Sepanjang 2025, Kepulauan Seribu mencatat 398.519 kunjungan, turun dibanding 2024 yang mencapai 411.161 kunjungan.

Dari total kunjungan tersebut, wisatawan nusantara masih mendominasi dengan 384.213 orang atau sekitar 96,4 persen. Sementara wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 14.306 orang atau 3,6 persen.

Berdasarkan sebaran kunjungan, pulau berpenduduk masih menjadi tujuan utama dengan 380.475 wisatawan. Disusul pulau resort sebanyak 13.932 kunjungan, pulau wisata 3.575 kunjungan, serta pulau cagar alam 537 kunjungan.

Adapun destinasi favorit di pulau berpenduduk antara lain Pulau Pari, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Tidung. Sementara di kategori pulau resort, kunjungan terbanyak tercatat di Pulau Bidadari, Pulau Putri, dan Pulau Macan.

Terintegrasi

Warga Jakarta Pusat, Diana (32), menilai, salah satu kendala utama mobilitas menuju Kepulauan Seribu adalah terbatasnya jadwal kapal reguler. Menurut dia, pola keberangkatan yang ada saat ini masih belum fleksibel karena umumnya hanya tersedia pada pagi hari dari daratan dan siang hari dari pulau.

Menurut Diana, kondisi tersebut sering menyulitkan warga dalam situasi mendesak. Misalnya ketika ada anggota keluarga yang sakit pada sore hari. Dalam keadaan seperti itu, pilihan transportasi menjadi terbatas.

Diana berharap ke depan pemerintah dapat menambah dan memperluas jadwal pelayaran reguler, sehingga mobilitas warga antarwilayah menjadi lebih mudah, fleksibel, dan terjangkau tanpa harus bergantung pada layanan kapal sewaan yang biayanya relatif tinggi.

Baca JugaKepulauan Seribu Melabuhkan Harapan pada Geliat Pariwisata

Selain itu, Kartu Multi Trip (KMT) atau sistem pembayaran elektronik terintegrasi yang digunakan pada LRT, MRT, dan Transjakarta juga dinilai berpotensi untuk diintegrasikan dengan layanan transportasi kapal menuju Kepulauan Seribu.

Hal ini diharapkan dapat mendukung mobilitas wisata, termasuk bagi pengunjung yang ingin menjelajahi Jakarta hingga ke kawasan Kepulauan Seribu melalui kombinasi perjalanan darat dan laut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Apa yang Terjadi jika Pesawat Militer AS Bebas Mengakses Ruang Udara Indonesia?
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Mengapa Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditangkap Kejagung?
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Komisi IX DPR Siapkan Pansus Tuntaskan Hak Pekerja Merpati
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
AI Diprediksi Jadi Tulang Punggung Bisnis Kreator
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Nonton Live Streaming Piala AFF U-17 2026: Indonesia Vs Malaysia, di Vidio
• 5 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.