Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kita langsung percaya sebuah informasi di media sosial tanpa mengeceknya lebih dulu. Mungkin soal obat herbal yang katanya bisa menyembuhkan penyakit tertentu, atau klaim soal suatu kebijakan yang viral di Twitter. Kita baca sekilas, lalu merasa sudah tahu. Padahal, yang sebenarnya terjadi bisa jadi jauh berbeda dari apa yang kita sangka.
Fenomena ini dalam kajian psikologi kognitif dan filsafat dikenal sebagai illusion of knowledge atau ilusi pengetahuan, yaitu kondisi ketika seseorang merasa memahami sesuatu padahal pemahamannya masih sangat dangkal. Dan di era media sosial seperti sekarang, ilusi ini tumbuh subur.
Kenapa Sering Melihat Tidak Sama dengan Memahami?Reber dan Unkelbach (2010) dalam jurnal Review of Philosophy and Psychology menemukan bahwa semakin mudah otak kita memproses sebuah informasi, semakin besar kecenderungan kita untuk menganggap informasi itu benar. Efek ini disebut processing fluency. Artinya, informasi yang sering muncul, mudah dibaca, dan dikemas menarik akan terasa lebih valid. Bukan karena isinya sudah kita verifikasi, tapi karena otak kita terbiasa dengannya.
Ini persis yang terjadi saat kita scroll media sosial. Dalam hitungan menit, kita terpapar puluhan konten dari berbagai topik. Kita tidak punya cukup waktu atau mungkin tidak merasa perlu untuk benar-benar menggali setiap informasi yang lewat. Hasilnya, kita merasa tahu banyak hal, padahal yang kita miliki hanya sekumpulan kesan.
Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan "Tahu"?Di sinilah epistemologi masuk. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempertanyakan hakikat dan batas-batas pengetahuan manusia, bagaimana kita bisa tahu sesuatu dan seberapa yakin kita bahwa yang kita tahu itu benar.
Dalam dialog Theaetetus, Plato mengajukan pertanyaan mendasar: kapan sebuah keyakinan bisa disebut pengetahuan? Ia mengeksplorasi gagasan bahwa pengetahuan sejati bukan sekadar keyakinan yang kebetulan benar, melainkan harus disertai dengan justifikasi atau alasan yang sah.
Konsep ini dalam tradisi epistemologi kemudian dikenal sebagai justified true belief, yaitu sebuah kerangka yang menegaskan bahwa seseorang baru bisa dikatakan benar-benar tahu sesuatu apabila keyakinannya benar dan ia memiliki dasar yang memadai untuk mempercayainya (Ichikawa & Steup, 2018).
Dua jalan utama untuk sampai pada pengetahuan itu adalah rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme menekankan peran akal dan penalaran logis, sementara empirisme menekankan pengalaman dan observasi yang dapat diuji. Keduanya punya satu kesamaan: pengetahuan membutuhkan proses, bukan sekadar paparan berulang.
Masalahnya, media sosial tidak dirancang untuk mendukung proses itu. Platform digital justru didesain untuk membuat kita terus menggulir, bukan berhenti dan berpikir.
Algoritma yang Mengunci Kita dalam Gelembung SendiriSatu faktor yang memperparah ilusi pengetahuan adalah cara kerja algoritma media sosial. Alih-alih menampilkan informasi yang beragam, platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan apa yang sudah sering kita konsumsi.
Sunstein (2017) dalam bukunya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media menggambarkan bagaimana media sosial mampu menyortir penggunanya ke dalam kelompok-kelompok yang berpikiran serupa, menciptakan echo chamber yang terus memperkuat pandangan yang sudah ada. Kita makin sering terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinan kita, sementara perspektif yang berbeda makin jarang masuk.
Dalam kerangka epistemologis, ini adalah masalah serius. Pengetahuan yang tidak pernah diperhadapkan dengan bukti yang bertentangan adalah pengetahuan yang rapuh. Ia hanya akan bertahan selama tidak ada yang mempertanyakannya.
Skeptisisme Sebagai Keterampilan, Bukan Sikap NegatifLalu apa yang bisa kita lakukan? Chalmers (2013) dalamnce? What Is This Thing Called Science? mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang baik dibangun di atas kebiasaan mempertanyakan asumsi-asumsi dasar, bukan hanya menerima apa yang sudah ada. Skeptisisme bukan berarti kita tidak percaya siapa-siapa, melainkan kita tidak langsung percaya tanpa alasan yang cukup.
Dalam praktiknya, ini bisa sesederhana menanyakan tiga hal sebelum meneruskan sebuah informasi: Dari mana sumbernya? Apakah ada bukti yang mendukung? Dan apakah kita benar-benar mengerti apa yang kita baca, atau sekadar merasa familiar? Pertanyaan-pertanyaan kecil ini adalah wujud nyata dari penalaran epistemologis dalam kehidupan sehari-hari.
PenutupDi era banjir informasi ini, masalah terbesarnya bukan ketiadaan pengetahuan. Justru sebaliknya: terlalu banyak informasi yang membuat kita merasa sudah tahu segalanya. Padahal, merasa tahu dan benar-benar tahu adalah dua hal yang sangat berbeda.
Epistemologi mengajarkan kita untuk tidak berhenti bertanya. Bukan karena kita tidak percaya apa-apa, tapi karena kita tahu bahwa pengetahuan yang baik memang layak diperjuangkan. Dan di tengah riuhnya notifikasi dan konten yang tak pernah habis, mungkin kemampuan paling berharga yang bisa kita latih adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, dan bertanya: apa yang sebenarnya aku tahu?





