Diblokade AS, Pengamat sebut Iran Tidak Mudah Menyerah, Sudah Terbiasa Hadapi Tekanan Ekonomi

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat (AS) mengerahkan belasan kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengintai untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di perairan Selat Hormuz.

Langkah militer ini bertujuan memotong ekspor minyak yang menjadi urat nadi ekonomi Teheran, guna memaksa Iran tunduk pada tuntutan Washington.

Meski dipastikan akan kian mencekik ekonomi Iran yang sudah melemah, para analis meragukan blokade ini akan efektif memaksa konsesi dari Teheran.

Sebaliknya, strategi berisiko tinggi ini justru berpotensi mengganggu pasokan energi global, memicu lonjakan harga minyak, dan mendorong Iran untuk kembali menyerang negara penghasil energi di sekitarnya. 

Iran sendiri telah mengancam akan membalas dengan menutup lalu lintas pelayaran di luar Selat Hormuz.

Laporan dari The New York Times menyebutkan, target utama blokade ini adalah sektor minyak, yang menyumbang lebih dari 40 persen total pendapatan ekspor Iran pada 2023. Pemutusan ini akan sangat berdampak pada hubungan dagang Iran dengan China.

Masih dari laporan tersebut, berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), China menyerap 90 persen ekspor minyak Iran pada 2024. Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China juga mengestimasi bahwa nilai pembelian minyak oleh Beijing mencapai 31,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang menopang 45 persen anggaran pemerintah Iran.

Meski ditekan secara ekonomi, pakar menilai Iran tidak akan mudah menyerah. CEO Bourse & Bazaar Foundation, Esfandyar Batmanghelidj, menyebut bahwa dalam kondisi perang, fokus Iran bukanlah memaksimalkan pendapatan, melainkan sekadar menjaga perekonomian tetap berjalan.

Para pemimpin Iran juga dinilai telah terbiasa menghadapi tekanan sanksi bertahun-tahun. Secara militer, Teheran terbukti mampu mengganggu ekonomi global dan melawan balik menggunakan taktik asimetris berbiaya murah, seperti penggunaan drone dan ranjau bawah laut.

Dampak blokade ini dipastikan meluas melampaui sektor minyak. Penutupan akses laut akan menghentikan masuknya barang-barang impor krusial, yang akan memperparah kelangkaan barang, lonjakan inflasi, dan pengangguran di Iran

Padahal, perdagangan non-minyak Iran masih mencatat perputaran hingga 109,6 miliar dolar AS dalam 12 bulan terakhir untuk komoditas seperti suku cadang, beras, hingga kedelai.

Kondisi ini semakin diperparah oleh kerusakan infrastruktur domestik. Serangan udara AS dan Israel selama hampir tujuh pekan pertempuran telah menghancurkan banyak pabrik, jaringan transportasi, dan pembangkit listrik.

Hancurnya kapasitas produksi lokal yang ditambah dengan terputusnya pasokan bahan baku impor akibat blokade AS, menempatkan ekonomi Iran di ambang krisis yang lebih dalam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Marapi Erupsi Lagi, Kolom Abu Menjulang 1,6 Km
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Berkas Perkara Penyiraman Andrie Yunus Masuk Pengadilan Militer, Pelaku Dijerat Pasal Penganiayaan
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Presidium Anti Provokator Nasional Pasang Badan untuk JK, Muchtar Dg Lau: Tuduhan Penistaan Itu Salah Kaprah!
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Cek Harga Yamaha Fazzio Hybrid per April 2026, Tersedia 4 Varian
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Jadwal BRI Super League Pekan Ini dan Klasemen Sementara: Dewa United vs Persib, PSM vs Borneo
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.