Terkini, Makassar – Irwan Bachri Syam membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan.
Sebelum menjabat sebagai Bupati Luwu Timur, ia pernah berada di titik paling sederhana dalam hidupnya, menjadi sopir pete-pete demi melanjutkan kuliah.
Kini, ia resmi menyandang gelar Magister Teknik (M.T) dengan predikat cumlaude dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah capaian yang menjadi simbol dari perjalanan panjang penuh perjuangan.
Perjalanan tersebut tidak ia tempuh dengan mudah. Di masa lalu, keterbatasan biaya memaksanya menunda pendidikan.
Untuk bertahan sekaligus mengumpulkan biaya kuliah, Irwan bekerja sebagai sopir angkutan kota (pete-pete) selama kurang lebih satu tahun.
Usaha itu akhirnya membawanya kembali ke bangku kuliah. Tidak hanya aktif sebagai mahasiswa, ia juga dipercaya memimpin organisasi kampus sebagai Ketua Himpunan menandai awal kiprahnya dalam kepemimpinan.
Namun, ujian kembali datang saat ia menyelesaikan pendidikan sarjana (S1). Alih-alih merayakan kelulusan, ia justru memilih pulang kampung secara sederhana bersama ibu dan kakaknya usai prosesi wisuda.
“Dulu selesai wisuda S1, saya langsung pulang kampung. Saya hindari acara makan-makan karena kita tahu kondisi ekonomi saat itu,” ujar orang nomor satu di Kabupaten Luwu Timur ini.
Momen tersebut menjadi luka yang membekas—sebuah pencapaian yang seharusnya dirayakan, tetapi harus dilewati dalam kesederhanaan.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan berbalik. Irwan berhasil menuntaskan pendidikan magister dengan capaian akademik terbaik.
Gelar cumlaude yang diraihnya menjadi simbol dari perjalanan panjang yang ditempa oleh keterbatasan, kerja keras, dan ketekunan.
Lebih dari sekadar pencapaian pribadi, pengalaman hidupnya mendorong lahirnya kebijakan yang berdampak luas.
Ia menggagas Program Beasiswa Luwu Timur sebagai upaya membuka akses pendidikan bagi generasi muda, khususnya mereka yang menghadapi kendala ekonomi.
Program tersebut diharapkan menjadi solusi agar tidak ada lagi anak muda yang harus menunda pendidikan karena persoalan biaya sesuatu yang pernah ia alami sendiri.
Dalam suasana santai usai wisuda, Irwan sempat melontarkan refleksi ringan yang disambut tawa.
“Kalau sekarang ada yang mau makan-makan setelah wisuda, ayo. Kita balaskan yang dulu,” kata suami dr Ani Nurbani tersebut.
Kisah Irwan Bachri Syam menjadi gambaran bahwa jalan sunyi penuh keterbatasan dapat berujung pada pencapaian besar.
Dari sopir pete-pete hingga magister cumlaude, ia tidak hanya menuntaskan mimpinya, tetapi juga membuka jalan bagi generasi muda untuk bermimpi lebih jauh.




