Daya Dukung Lingkungan Tergerus, Bencana di Lampung Terus Merenggut Korban

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Hujan deras disertai angin kencang dan petir di Lampung kembali memicu korban jiwa. Daya dukung lingkungan yang semakin rapuh dan lemahnya kesiapsiagaan bencana kian memperbesar risikonya.

Di Lampung, cuaca ekstrem terjadi sejak Senin (13/4/2026). Pada pagi hingga siang, cuaca panas terik.

Sementara pada sore hingga malam hari, hujan deras mengguyur disertai angin kencang dan petir. Perubahan cuaca yang drastis itu memicu peristiwa tragis di Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Di sana, suami istri, Pratikno (55) dan Wiwik Widayati (52), tersambar petir saat melintas di area persawahan. Insiden memilukan itu terjadi di area persawahan di Dusun Bagelen V, Desa Bagelen, Kecamatan Gedung Tataan, Senin sore.

Kejadian berawal saat keduanya hendak pulang ke rumah seusai bertani di sawah. Mereka pulang berboncengan sepeda motor. Saat melintas di area persawahan, tiba-tiba hujan deras mengguyur disertai angin kencang dan petir.

”Di tengah perjalanan, petir menyambar dan mengenai kedua korban yang saat itu berada di lahan terbuka,” kata Kepala Polres Pesawaran Ajun Komisaris Besar Alfie Granito, Kamis (16/4/2026).

Akibat kejadian itu, Wiwik meninggal di lokasi kejadian. Sementara Pratikno terluka bakar. Pratikno kini dirawat di RSUD Pesawaran.

Keesokan harinya, Selasa (14/4/2026), giliran Kota Bandar Lampung dilanda hujan deras dan angin kencang. Hujan memicu banjir di sejumlah lokasi. Satu warga meninggal dan 109 warga dievakuasi akibat terjebak banjir.

Korban tewas bernama Dewi Melani (31), warga Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumiwaras. Dewi tenggelam saat tanggul sungai jebol dan luapan Sungai Garuntang menghantam rumahnya dan menyeret tubuh Dewi.

Andri Sepdianto (35), suami korban, menceritakan, tempat tinggal mereka yang berada di bibir sungai memang rawan banjir. Berulang kali rumah mereka terendam banjir saat hujan deras mengguyur cukup lama.

Rumah mereka hanya berjarak sekitar 50 meter dari Sungai Garuntang. Di sisi sungai, terdapat tanggul penahan air setinggi 3 meter yang kini sudah ambruk. Belasan pohon pisang di pinggir sungai juga roboh akibat banjir.

Saat kejadian, Andri dan Dewi sedang membereskan perabotan rumah dan siap-siap mengungsi. Namun, tiba-tiba tanggul jebol dan banjir menghantam rumahnya. Istrinya pun tenggelam. Kedua anak mereka beserta anggota keluarga yang lain selamat karena lebih dulu mengungsi dan menyelamatkan diri.

Wahyu Hidayat dari bagian Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung mengatakan, ada 21 titik banjir di Bandar Lampung yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Banjir tidak hanya merendam permukiman warga, tapi juga menggenangi jalan-jalan utama di Bandar Lampung. Salah satunya adalah Jalan Teuku Umar yang merupakan jalan protokol utama di Bandar Lampung.

Bahkan, sejumlah kendaraan yang nekat menerjang banjir akhirnya mogok. Banjir juga merendam sejumlah fasilitas publik, seperti area parkir supermarket dan area parkir rumah sakit. 

Dinamika atmosfer

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto mengatakan, berdasarkan dinamika atmosfer dan pengamatan permukaan, hujan deras disertai petir dan angin kencang yang mengakibatkan banjir dipicu beberapa faktor.

Pertama, adanya pola sirkulasi siklonik di Samudra Hindia di barat daya Lampung yang menyebabkan belokan angin dan konvergensi yang terpantau di wilayah Lampung. Kondisi ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan secara signifikan.

Kedua, suhu muka laut di sekitar perairan Lampung yang relatif hangat turut mendukung peningkatan suplai uap air pada atmosfer di wilayah Lampung. Kondisi itu membuat pertumbuhan awan hujan.

Menurut dia, kondisi lingkungan saat akan terjadi cuaca ekstrem dapat dikenali dari perubahan cuaca yang terjadi mendadak. Pada pagi hari, cuaca biasanya panas terik. Namun, pada siang dan sore hari, cuaca bisa berubah secara tiba-tiba menjadi hujan deras disertai petir dan angin kencang.

Masyarakat juga dapat mengecek peringatan dini cuaca esktrem yang dikeluarkan BMKG Lampung setiap hari. Saat cuaca buruk melanda, masyarakat sebaiknya tidak beraktivitas di ruang terbuka.

Mitigasi bencana dapat dilakukan dengan berlindung di dalam bangunan yang kokoh. Warga juga perlu menghindari pohon besar karena dikhawatirkan akan tumbang atau tersambar petir saat hujan.

Sementara masyarakat yang bermukim di dekat aliran sungai juga perlu memperhatikan debit air. Masyarakat harus segera mengungsi saat air sungai semakin naik karena berpotensi meluap dengan cepat.

Dia menambahkan, cuaca ekstrem diprediksi masih akan terjadi selama beberapa hari ke depan. Setelah masa pancaroba, wilayah Lampung akan dilanda kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.

Lingkungan rusak

Direktur Eksekutif Walhi Lampung Irfan Tri Musri berpendapat, banjir bukan lagi sekadar persoalan cuaca ekstrem atau curah hujan tinggi.

Peristiwa ini adalah bukti nyata kegagalan pemerintah daerah mengelola ruang hidup dan ekologi.

”Setiap tahun, masyarakat dipaksa menanggung kerugian yang sama. Rumah terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, serta keselamatan warga terancam dan terulang secara terus-menerus tanpa ada penyelesaian terhadap substansi akar permasalahan yang menyebabkan banjir,” katanya.

Sejak awal 2026, Bandar Lampung berulang kali diterjang banjir. Pada Jumat (6/3/2026), banjir juga menerjang 47 titik di Bandar Lampung dan merenggut dua korban jiwa. Adapun sepanjang 2025, delapan nyawa warga Bandar Lampung melayang akibat banjir dan longsor (Kompas.id, 21/4/2025).

”Kondisi ini menegaskan bahwa banjir bukan lagi kejadian insidental, melainkan krisis ekologis yang terjadi secara sistematis dan terus berulang,” ucap Irfan.

Irfan menilai, Pemerintah Kota Bandar Lampung belum mempunyai upaya serius untuk menanggulangi banjir. Selama ini, alokasi anggaran untuk penanganan banjir, seperti normalisasi sungai dan pembenahan drainase, masih minim.

”Fakta di lapangan menunjukkan banjir terjadi di titik yang sama. Genangan justru semakin meluas dan dampak sosial ekonomi semakin besar,” ujarnya.

Menurut dia, banjir yang berulang kali terjadi di Lampung terjadi akibat alih fungsi kawasan resapan air menjadi permukiman dan kawasan komersial secara masif. Selain itu, terjadi kerusakan di wilayah perbukitan dan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kota.

Dari 33 bukit di Bandar Lampung, hanya tiga bukit yang kondisinya masih utuh dan terjaga. Sebanyak 30 bukit sisanya sudah dikeruk atau berubah menjadi permukiman.

Persoalan lainnya adalah penyempitan dan pencemaran sungai akibat lemahnya pengawasan. Pemerintah juga membiarkan pembangunan di daerah rawan bencana.

Bencana yang terjadi saat masa pancaroba ini seharusnya menjadi peringatan agar pemerintah serius memperbaiki tata kelola lingkungan dan memperkuat mitigasi. Pemerintah daerah harus segera menghentikan izin pembangunan di kawasan resapan air, perbukitan, dan daerah rawan banjir.

Pemerintah daerah juga perlu menyiapkan anggaran untuk pemulihan lingkungan hidup dan penanganan banjir. Tanpa perbaikan tata kelola lingkungan, hujan deras akan selalu menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Minyakita Sempat Seret, Pemkot Kediri Pastikan Distribusi Tetap Berjalan
• 18 jam lalurealita.co
thumb
I.League Buka Komunikasi dengan PSBS Biak Atas Kondisi Finansial Tim
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Bea Cukai Bebaskan Pajak Oleh-oleh Haji 2026, Ini Syaratnya
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Asmo Sulsel Gelar Honda Premium Matic Day 2026 di Maros Selama Tiga Hari
• 4 jam laluterkini.id
thumb
Menteri Pertanian Ancam Cabut Izin Importir Nakal yang Naikkan Harga Kedelai Secara Tidak Wajar
• 16 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.