JAKARTA, KOMPAS.com — Label “kolot” kerap melekat pada lagu-lagu berbahasa daerah, terutama Jawa.
Dulu, lagu berbahasa Jawa identik dengan alat musik tradisional seperti gamelan, gendang, dan gong.
Alunan musik yang pelan dengan lirik mendayu-dayu membuatnya lebih lekat dengan kalangan usia lanjut karena dianggap menenangkan.
Namun, seiring waktu, lagu-lagu berbahasa Jawa mengalami transformasi, baik dari segi lirik maupun aransemen musik.
Penyanyi legendaris Didi Kempot menjadi salah satu tokoh penting yang mengubah wajah musik Jawa.
Baca juga: Lirik Emosional Lagu Pop Jawa Bikin Gen Z Jakarta Tak Malu Joget Koplo
Ia menghadirkan aransemen campursari modern yang memadukan gamelan dengan instrumen modern seperti keyboard, gitar, dan drum.
Tak hanya itu, Didi Kempot juga membawakan lagu berbahasa Jawa dengan aransemen koplo yang digemari banyak kalangan. Kreativitasnya membuat lagu Jawa tak lagi hanya dinikmati orang tua, tetapi juga anak muda.
Meski demikian, Didi Kempot meninggal dunia secara mendadak pada 2020 akibat dugaan serangan jantung.
Muncul Musisi Jawa Baru
Kepergian Didi Kempot bukan akhir kejayaan lagu berbahasa Jawa. Kini, bermunculan musisi baru seperti Denny Caknan, Happy Asmara, Guyon Waton, NDX AKA, hingga Gilga Sahid.
Para musisi ini mengusung genre Pop Jawa yang memadukan unsur tradisional seperti gamelan, kendang, dan suling dengan instrumen modern seperti gitar listrik dan keyboard.
Bahkan, genre ini juga beririsan dengan dangdut, rock, hingga disko.
Baca juga: Joki Tiket Konser Marak, Sosiolog: Konsumen Kini Kejar Akses, Bukan Sekadar Tiket
Kehadiran Pop Jawa membuat lagu berbahasa daerah yang dulu dianggap “kolot” justru menemukan panggung baru di kalangan Gen Z.
Dari tongkrongan hingga linimasa media sosial, campursari dan lirik berbahasa daerah kembali hidup—bukan sekadar nostalgia, melainkan menjadi identitas baru.
Jika dulu lagu Jawa hanya diputar lewat DVD, kini sudah masuk ke playlist Gen Z dan bersaing di YouTube, Spotify, hingga TikTok.
Salah satu lagu Pop Jawa yang viral adalah “Sanes” yang dibawakan Denny Caknan bersama Guyon Waton. Lagu ini mengisahkan kesedihan akibat cinta bertepuk sebelah tangan.