Cerita Pedagang Cendol di Kudus Menjaga Asa di Tengah Hujan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Mendung menggantung di langit atas Kudus pagi itu. Di pinggir jalan dekat Terminal Jetak, So’un tetap mendorong gerobak es cendolnya, berharap ada pembeli datang.

Cuaca mendung sering kali membuatnya waswas. Sebab, dagangannya berpotensi minim pembeli. Sepekan ini dagangannya sepi karena mendung dan hujan. Ia tak menampik cuaca berpengaruh pada hasil penjualan es cendol dawet buatannya.

"Kalau tidak ada yang terjual, cendolnya saya makan sendiri untuk mengganjal perut. Karena kalau beli lauk, harganya sekarang mahal, sedangkan jualan saya belum laku," katanya, Kamis (16/4).

Pria 50 tahun itu sudah lama berjualan es cendol dawet. Ia sempat berjualan es cendol dawet di Jakarta, lalu beralih profesi menjadi sopir bus mini dan angkutan. Namun, pekerjaan menyopir mulai sepi. Akhirnya, ia kembali berjualan es cendol dawet.

Ia biasa berjualan es cendol dawet di kawasan sekitar Terminal Jetak, Kabupaten Kudus. Sasaran pembelinya adalah karyawan buruh rokok di dekat Terminal Jetak. Dahulu ia sering berkeliling, namun usianya yang tak lagi muda menjadi alasan ia tidak lagi berkeliling.

Kalau sedang sepi, ia hanya mampu menjual dua plastik es cendol dawet. Apabila sedang beruntung, ia dapat menjual 20 plastik es cendol sejak pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB.

Harga es cendol dawetnya terjangkau, berkisar Rp 5 ribu, Rp 7 ribu, dan Rp 10 ribu. Harga per porsi bergantung pada kelengkapan varian yang diinginkan pembeli. Es cendol dawet harga Rp 10 ribu dilengkapi dengan alpukat dan susu cokelat.

"Jualan es cendol dawet di Kudus sudah berjalan setahun, tetapi sering sepi, terutama sepekan ini akibat hujan," terangnya.

Ia terbiasa membawa lima toples es cendol dawet di atas gerobak setiap harinya. Satu toples bisa untuk membuat sepuluh porsi es cendol dawet.

"Sepekan ini sepi pembeli. Hanya ada satu dua pembeli saja seharian, dari pagi sampai sore," ujarnya.

Kalau sedang sepi pembeli, ia mengaku kesulitan untuk membeli bahan baku. Alhasil, ia harus libur berjualan. Ia menjelaskan, dalam sekali berjualan, ia membutuhkan modal Rp 200 ribu.

Apabila dagangannya tidak habis sampai malam hari, mau tak mau ia harus membuangnya karena es cendol dawetnya sudah berbau. Kerugian dialaminya, namun ia tak punya pilihan lain.

"Kalau disimpan lagi tidak bisa. Pasti sudah berbau tidak enak. Ya rugi pasti, tetapi mau gimana lagi," imbuhnya.

Meski begitu, So'un tetap tak patah arang. Dia yakin rezeki sudah ada yang mengatur asal terus berusaha, bekerja keras dan berdoa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Holding Perkebunan Nusantara Terus Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat melalui Seminar RS Sri Pamela Torgamba
• 18 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Penyuap Hakim PN Depok Segera Disidang
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Korsel Amankan Pasokan Minyak Mentah dan Nafta dari Jalur Non Selat Hormuz
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Menbud tegaskan Dana IndonesiaRaya terbuka untuk komunitas adat
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
MINI 1965 Victory Edition, Produksi Terbatas 16 Unit di Indonesia
• 5 menit lalumedcom.id
Berhasil disimpan.