Ada laporan yang menyebutkan bahwa Tesla sedang melakukan ekspansi besar dalam manufaktur tenaga surya di Amerika Serikat. Langkah ini disebut-sebut telah memicu kewaspadaan tinggi dari pihak pemerintah Tiongkok.
EtIndonesia. Pada 15 April, Reuters mengutip sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut, melaporkan bahwa pejabat Tiongkok telah melakukan kontak awal dengan pemasok peralatan panel surya, untuk mempertimbangkan pembatasan ekspor teknologi manufaktur surya paling canggih ke Amerika Serikat. Saat ini, aturan terkait belum difinalisasi dan pembahasan juga belum memasuki tahap konsultasi publik resmi.
Diperkirakan lebih dari 80% komponen panel surya global diproduksi di Tiongkok. Selain itu, sepuluh pemasok peralatan sel surya terbesar di dunia juga berbasis di Tiongkok. Dengan kata lain, Tiongkok tidak hanya menguasai kapasitas produksi, tetapi juga memiliki keunggulan dalam peralatan dan teknologi.
Namun, Musk belakangan ini berupaya mengubah situasi tersebut. Menurut laporan Reuters pada Maret lalu, Tesla berencana membeli peralatan manufaktur panel surya senilai US$2,9 miliar dari pemasok Tiongkok seperti Suzhou Maxwell Technologies, serta menargetkan untuk mencapai kapasitas produksi tenaga surya sebesar 100 gigawatt (GW) di dalam negeri AS sebelum tahun 2028.
Apa arti 100 GW? Angka tersebut kira-kira setara dengan kapasitas terpasang sekitar 100 pembangkit listrik tenaga nuklir. Jika rencana ini berhasil, tidak hanya akan mempercepat lokalisasi industri tenaga surya di AS, tetapi juga berpotensi mengguncang posisi Tiongkok dalam industri surya global.
Perusahaan riset yang berfokus pada kebijakan pemerintah Tiongkok, Trivium China, dalam laporan April ini menyebut bahwa jika Tesla berhasil mencapai kemandirian dalam manufaktur tenaga surya, hal itu akan menjadi “mimpi buruk” bagi produsen surya Tiongkok. Pasalnya, mereka tidak hanya akan kehilangan salah satu calon pelanggan penting, tetapi juga harus menghadapi pesaing baru yang kuat di tengah tekanan keuangan yang sudah besar. (Hui)





