REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pelaku usaha mulai didorong beralih ke sistem isi ulang untuk menekan limbah plastik sekaligus biaya operasional. Tren ini muncul di tengah kebutuhan efisiensi dan tekanan isu lingkungan yang semakin kuat.
Model konsumsi sekali pakai dinilai tidak lagi relevan karena memicu pemborosan dan meningkatkan beban limbah kemasan di berbagai sektor.
Sampah Masih Membanjiri Pesisir Pantai Satelit Banyuwangi
Pengelolaan Sampah Diperketat, Open Dumping di TPA Harus Dihentikan
Perusahaan ritel berkelanjutan Siklus menawarkan solusi melalui teknologi dispensing berbasis Internet of Things atau IoT. Sistem ini memungkinkan penggunaan produk pembersih dipantau secara real-time sehingga lebih terkontrol.
Co Founder Siklus Laksamana Sakti mengatakan, distribusi konvensional masih menyisakan banyak inefisiensi. Penggunaan produk yang tidak terukur kerap berujung pada pemborosan dan peningkatan limbah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Dengan sistem dispensing dan pemantauan berbasis teknologi, penggunaan bisa lebih terkontrol. Di saat yang sama, ketergantungan pada kemasan sekali pakai juga bisa dikurangi,” ujar Laksamana, Jumat (17/4/2026).
Masalah ini banyak terjadi di sektor dengan kebutuhan kebersihan tinggi seperti rumah sakit, hotel, hingga bisnis makanan dan minuman. Selain biaya yang membengkak, limbah kemasan juga menjadi tantangan tersendiri.
Melalui model berlangganan, Siklus menggabungkan mesin dispensing pintar dengan pasokan produk dalam kemasan besar. Skema ini dinilai mampu memangkas biaya distribusi sekaligus menekan penggunaan kemasan sekali pakai.
Siklus juga menggandeng Snap Clean untuk memperluas penerapan sistem ini di sektor komersial. Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan kontrol penggunaan produk dan efisiensi distribusi.
Chief Commercial Officer Siklus Dicky Sukarmadji menilai efisiensi tidak bisa hanya bergantung pada kedisiplinan operasional. Sistem yang terbangun dinilai lebih konsisten dalam menjaga penggunaan tetap optimal.
“Kalau efisiensi hanya bergantung pada manusia, hasilnya tidak konsisten. Dengan sistem, kontrol bisa lebih stabil dan terukur,” kata Dicky.
Ke depan, sistem isi ulang diperkirakan semakin banyak diadopsi pelaku usaha. Perubahan ini didorong kebutuhan efisiensi sekaligus upaya menekan limbah plastik di sektor komersial.