Acara ini berlangsung di Queens Head, Kemang, dan berhasil menghadirkan pengalaman yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga partisipatif bagi para pengunjung.
Baca juga: Surplus Indonesia Gandeng Artotel Group Dorong Gerakan Penyelamatan Makanan di Industri Hospitality
Mengusung pesan Help Our Planet Revive, 9 to 5 mengajak masyarakat untuk melihat
kembali kebiasaan konsumsi fashion sehari-hari. Melalui rangkaian kegiatan seperti talkshow, fashion show, hingga workshop interaktif, pengunjung diajak memahami perubahan kecil dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan.
Dalam rangkaian acara “9 to 5”, salah satu pembicara, Dino Augusto, menyoroti isu kritis
dalam industri fashion: meningkatnya limbah tekstil akibat pola konsumsi yang tidak
berkelanjutan.
Dalam sesi talkshow, Dino menyampaikan bahwa limbah tekstil saat ini merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran di dunia, bahkan disebut sebagai yang terbesar kedua setelah limbah industri lainnya. Ia juga mengungkapkan produksi pakaian saat ini telah melampaui kebutuhan, bahkan diperkirakan cukup untuk memenuhi hingga sembilan generasi ke depan. Pernyataan ini menekankan bahwa dunia tidak kekurangan pakaian, melainkan menghadapi masalah overproduksi dan overkonsumsi yang terus berlanjut.
Melalui pandangan tersebut, Dino mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara
pandang terhadap fashion. Bukan lagi sebagai barang sekali pakai, tetapi sebagai aset yang
memiliki nilai dan umur panjang. Prinsip ini sejalan dengan konsep circular economy yang
diangkat dalam acara 9 to 5, di mana praktik seperti reuse, repair, dan repurpose menjadi
langkah nyata dalam mengurangi limbah.
Sejumlah pengunjung juga mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti sesi
ini. “Very insightful, apalagi buat aku yang sebelumnya sering beli baju tanpa pikir panjang.
Penting banget datang ke acara seperti ini biar jadi lebih sadar,” ujar Aisha.
Pengunjung lainnya, Andien, juga menyampaikan antusiasmenya “Sekarang jadi lebih
paham apa saja yang bisa dipertimbangkan untuk fashion ke depannya, termasuk
bahan-bahan yang sebaiknya dihindari.”
Sementara itu, Keysha menambahkan, “Acaranya seru banget, banyak activations yang
bikin aku jadi terinfluence untuk mulai menerapkan slow fashion dari sekarang. Ternyata kita
sebenarnya nggak butuh baju sebanyak itu, kita harus mulai dari refuse, menolak membeli
dan mulai kreatif untuk mix & match”
Kehadiran Dino Augusto dalam acara ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga
memperkuat pesan utama 9 to 5 bahwa perubahan dalam industri fashion dapat dimulai dari
kesadaran individu.
Dengan semakin meningkatnya urgensi isu ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak
dalam mengkonsumsi fashion, serta berkontribusi dalam menciptakan sistem yang lebih
berkelanjutan.
Tak hanya menjadi ruang belajar bagi peserta, acara ini juga mendapat perhatian dari para
dosen LSPR Institute of Communication & Business yang menilai pentingnya membangun
kesadaran sejak dini dalam memilih dan mengkonsumsi fashion secara bijak.
Dosen LSPR Institute of Communication & Business, Ms. Revy Marlina, S. Sos, MA juga
turut mengapresiasi konsep yang diangkat dalam acara ini. “Implementasinya keren, tidak
hanya berhenti di 3R tetapi berkembang hingga 9R. Karena kalau bukan kita sebagai
generasi muda yang mulai sadar, lalu siapa lagi?” ujarnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





