Hotel mewah Burj Al Arab di Dubai akan ditutup sementara untuk menjalani renovasi besar selama 18 bulan. Penutupan ini menjadi yang pertama sejak hotel ikonik tersebut dibuka pada 1999.
Dilansir New Strait Times, informasi itu dikonfirmasi seorang staf pada Rabu (16/4) waktu setempat. Renovasi dilakukan di tengah perlambatan sektor pariwisata kawasan, yang disebut terdampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pemilik hotel, Jumeirah, sebelumnya menyatakan pekerjaan renovasi akan dilakukan secara bertahap selama sekitar 18 bulan dan dipimpin arsitek interior asal Paris, Tristan Auer.
Namun, dalam pernyataan resmi, perusahaan tidak secara rinci menyebut hotel akan ditutup total selama proses renovasi.
Tamu Dipindahkan ke Hotel LainMenurut sumber staf, pihak hotel menawarkan akomodasi alternatif di hotel sekitar bagi tamu yang sudah memiliki reservasi selama masa pengerjaan. Meski demikian, masa penutupan masih dapat berubah sewaktu-waktu.
Hotel berbentuk layar kapal yang menjadi salah satu landmark paling terkenal di Dubai itu sempat mengalami kerusakan ringan pada awal Maret lalu, setelah serpihan hasil pencegatan drone Iran mengenai bagian fasad bangunan.
Meski begitu, pihak hotel menegaskan renovasi yang telah lama direncanakan itu tidak berkaitan dengan insiden tersebut.
Pariwisata Dubai MelambatWaktu pelaksanaan renovasi ini menjadi sorotan, karena berlangsung saat sektor wisata Dubai tengah menghadapi tekanan.
Gangguan penerbangan di kawasan United Arab Emirates, serta melemahnya permintaan wisatawan disebut berdampak pada industri perhotelan mewah dan keuntungan operator wisata.





