Bisnis.com, CIREBON – Produksi kopi Kabupaten Garut menunjukkan tren meningkat pada 2025 meski luas lahan mengalami penyusutan. Kenaikan produksi yang melampaui 10% dinilai membuka peluang penguatan nilai tambah melalui hilirisasi, ekspor, hingga pengembangan kopi spesialti.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Garut tercatat mencapai 2.844,28 ton pada 2025, naik dari 2.552,50 ton pada 2024. Di sisi lain, luas lahan kopi justru turun dari 3.685,86 hektare menjadi 3.609,36 hektare.
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan peningkatan produksi di tengah penyusutan lahan mencerminkan adanya perbaikan produktivitas di tingkat petani.
“Secara agregat, produktivitas kopi mengalami peningkatan. Ini terlihat dari output yang naik meskipun luas lahan berkurang. Artinya, ada efisiensi dan kemungkinan perbaikan dalam praktik budidaya,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Jika dihitung, produktivitas kopi Garut naik dari sekitar 0,69 ton per hektare pada 2024 menjadi 0,79 ton per hektare pada 2025. Kenaikan ini mengindikasikan adanya intensifikasi produksi, baik melalui penggunaan varietas unggul, perbaikan teknik budidaya, maupun faktor iklim yang lebih mendukung.
Sejumlah kecamatan tercatat menjadi penyumbang utama produksi kopi, di antaranya Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, dan Pamulihan. Wilayah-wilayah tersebut dikenal memiliki karakteristik agroklimat dataran tinggi yang sesuai untuk pengembangan kopi, khususnya jenis arabika.
Menurut Sidik, tren ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan sektor hilir.
"Dengan produksi yang meningkat, peluang untuk masuk ke pasar bernilai tambah seperti specialty coffee atau ekspor semakin terbuka. Ini yang perlu didorong ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, selama ini sebagian besar produksi kopi masih dijual dalam bentuk bahan mentah atau biji kering. Padahal, nilai ekonomi dapat meningkat signifikan jika dilakukan pengolahan lanjutan, seperti roasting, pengemasan, hingga branding produk.
“Kalau hilirisasi berjalan, dampaknya bukan hanya pada harga jual, tapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Meski demikian, Sidik mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama terkait konsistensi produktivitas dan kualitas. Penyusutan lahan, meski relatif kecil, perlu dicermati agar tidak berlanjut menjadi tren jangka panjang.
Selain itu, distribusi produksi yang masih terkonsentrasi di beberapa kecamatan menunjukkan adanya ketimpangan antarwilayah. Beberapa daerah belum optimal dalam pengembangan kopi, baik karena keterbatasan lahan, kondisi geografis, maupun faktor sumber daya manusia.
“Perlu ada intervensi kebijakan yang lebih terarah, terutama dalam hal pendampingan petani, akses terhadap teknologi, dan penguatan kelembagaan,” kata Sidik.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi petani kopi, mengingat sebagian besar pelaku usaha tani masih didominasi kelompok usia lanjut. Tanpa regenerasi, keberlanjutan produksi dalam jangka panjang berpotensi terhambat.
Di sisi lain, tren peningkatan produktivitas dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan di Garut. Dengan strategi yang tepat, kopi berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan yang tidak hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.
“Momentum ini perlu dimanfaatkan. Kenaikan produksi lebih dari 10% bukan sekadar angka, tetapi peluang untuk naik kelas, dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemain dalam rantai nilai yang lebih tinggi,” ujar Sidik.





