Kesatria dari Negeri Rempah-Biografi Kapitan Pattimura

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Begitulah sumpah dari seorang perwira gagah berani berdarah Maluku sebelum ajal hidupnya di tangan penjajah. Niscaya, beliau telah tiada, jasadnya telah lenyap tanpa jejak, namun nama dan jiwa semangatnya selamanya hidup bagi sanubari Indonesia.

Dapat dipastikan bahwa masyarakat Indonesia sudah familiar dengan sosok pemuda berkharisma dengan parang digenggam bangga yang ada di uang seribu rupiah keluaran tahun 2000. Kapitan Pattimura, seorang pahlawan dari Maluku. Tetapi tahukah Anda siapakah sosok di balik pria berkharisma itu?

Thomas Matulessy, seorang perwira tangguh yang bertarung gagah dengan parang dan salawaku. Ia lahir di negeri Haria, Saparua, Maluku pada tahun 1783.

Dikenal sebagai Kapitan Pattimura. Kapitan merujuk pada perannya sebagai pemimpin, sementara Patti/Patih artinya pemimpin atau pangeran, dan Mura mencerminkan kemurahan hatinya dalam membela hak saudara-saudara setumpah-darahnya.

Julukan itu diberikan kepada Tuan Matulessia atas gelarnya sebagai seorang patih kemurahan-hatian. Julukan Pattimura sendiri merupakan simbol perjuangan rakyat Maluku.

Mungare dari Lease ini lahir dari pasangan Nazrani, Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Dari pernikahan kedua pasangan ini pula lahir adik laki-laki Thomas yang bernama Johannis Matulessia. Thomas memang tidak sempat menikah dan memiliki keturunan, sehingga sampai saat ini keturunan-keturunan Matulessia diteruskan dari Johannis. Johannis pula yang menjadi kawan seperjuangan Thomas dalam aksi perlawanan terhadap penjajah.

Kabarnya, setelah terjadinya Perang Pattimura di bawah kepemimpinan sang Kapiten Matulessia itu, Belanda sempat tidak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang berfam (marga) Matulessia. Alhasil, mereka yang memiliki fam Matulessia berganti nama menjadi Matulessy. Oleh sebab itu, sampai saat ini, fam Matulessia lebih dikenal dengan nama Matulessy. Kebijakan tersebut ditetapkan sampai tahun 1920, akhirnya dihapus kembali oleh Gubernur Jenderal van Limburg.

Masa kecil Thomas di Pulau Saparua dihabiskan dengan menyaksikan ayah dan saudara-saudaranya mengalami kerja rodi dari Belanda. Kesaksiannya tersebut melahirkan gejolak perlawanan terhadap kejamnya penjajahan. Di bawah kepemimpinannya pada tahun 1817, Kapitan berhasil membangkitkan gejolak api perlawanan masyarakat Maluku saat itu untuk melawan Belanda. Mereka pun berhasil merebut benteng Duurstede dari tangan Belanda. Aksi tersebut menjadi simbol persatuan dan persaudaraan rakyat Maluku.

Kewibawaan dan kecerdikannya itu terbentuk dari pengalamannya sebagai tentara cadangan pasukan Inggris. Pada tahun 1810, pasukan Inggris memasuki Teluk Ambon. Satu kesatuan mendarat di Wainitu, yang lainnya bergerak ke Batu Gantung. Keesokan harinya, terkibarlah bendera putih di Benteng Victoria sebagai tanda bahwa Belanda telah menyerah. Di waktu yang bersamaan, Belanda sedang dalam penjajahan Prancis sehingga pulau Maluku berpindah kekuasaan ke Inggris.

Hal ini pula diterima baik oleh Thomas dan kawan-kawannya, di mana pada saat kekuasaan Inggris, mereka memperoleh kesejahteraan. Tunggakan para pekerja segera dibayar, rempah-rempah dibayar, harga bahan pakaian diturunkan, dan kerja rodi diringankan.

Dalam buku berjudul “Sedjarah Perdjuangan Pattimura” yang ditulis oleh M. Sapija dikatakan bahwa ada sebuah rumor tentang Thomas yang saat itu menjadi bagian dari Britische in Militarie (Tentara Pasukan Inggris) berpangkat menjadi sersan mayor dalam pasukan itu. Nyatanya hal tersebut hanyalah keliru. Memang benar bahwa Thomas bergabung sebagai tentara pasukan Inggris, akan tetapi jabatannya tidak setinggi itu.

M. Sapija mengutarakan bahwa seorang penjajah pada tanah kolonialnya tidak akan bermurah hati kepada seorang lokal seperti Thomas.

Menurut Thomas dan kawan-kawannya, bekal ilmu dalam menjadi tentara pasukan Inggris ini akan bermanfaat bagi mereka untuk memimpin pasukan dalam melawan Belanda. Sang Kapitan pun terlatih untuk menjadi pribadi nan tangguh dalam memimpin perlawanan itu.

Saat memasuki Tentara Pasukan Inggris, Thomas baru saja berusia 27 tahun dan bekerja selama 7 tahun lamanya. Di saat yang bersamaan, ia bertemu dengan pujaan hatinya bernama Elisabeth Gassier, seorang yang memiliki darah Eropa mengalir di tubuhnya. Lisbeth adalah istri dari seorang serdadu pasukan Belanda bernama Eliza Titaley yang bekerja di Pulau Jawa. Namun, mereka terpaksa berpisah akibat angkatan laut Inggris yang memutuskan semua hubungan antara Jawa dan Ambon.

Saat Thomas dan Lisbeth berkenalan, saat itu Lisbeth adalah pembantu rumah tangga dari keluarga White. Pertemuan kedua orang ini terjadi secara intens di kemudian harinya. Tanpa adanya status pernikahan, Lisbeth menjadi wanita yang setia menemani dan mendorong Thomas dalam misi perlawanannya terhadap Belanda. Dukungan itu didorong oleh rasa dendam Lisbeth terhadap Belanda karena telah memutuskan hubungannya dengan sang suami secara paksa.

Pada bulan Maret tahun 1817, Maluku telah berpindah tangan kembali kepada Belanda. Serah terima penurunan bendera Inggris dan dinaikannya bendera triwarna Belanda di Benteng Victoria, Ambon, disaksikan oleh banyak rakyat Maluku. Ada hal yang membuat gempar: gubernur saat itu mengabarkan bahwa tentara-tentara eks-Inggris harus mencari pekerjaan di Ambon atau masuk tentara Belanda atau pulang ke negeri masing-masing. Kalau tidak, mereka akan diangkut ke Banda untuk menjadi budak di perkebunan pala dan mengalami kerja paksa.

Hal tersebut tentunya membuat gempar Thomas dan kawan-kawannya. Di sanalah mereka tersadar untuk tidak lagi diam dan memulai merencanakan perebutan kekuasaan dengan kekerasan senjata. Dengan senjata api, parang, dan salawaku.

Musyawarah para pasukan Pattimura dilaksanakan pada 3 Mei. Dihadiri oleh ratusan orang yang penuh kebencian terhadap kekuasaan Belanda. Ratusan orang itu termasuk Thomas, Johannis, dan kawan-kawan Lease yang lainnya. Dengan tekad dan tanggung jawab yang kuat, didasari oleh rasa benci mereka terhadap Belanda. Di sanalah mereka bersumpah untuk setia, sebab mereka percaya akan kutukan "tete nenek moyang” yang akan menimpa barangsiapa pun yang mengingkari janji itu.

Benteng Duurstede di Saparua, lambang kekuasaan Belanda, menjadi keputusan mereka bersama sebagai lokasi untuk dihancurkan. Benteng tersebut pula menjadi kediaman residen van den Berg, sang istri, serta ketiga anaknya. Barang siapa yang mengingkari keputusan itu akan dibunuh beserta keluarganya.

Subuh tanggal 16 Mei, pasukan rakyat telah siap sedia untuk menyerang benteng. Tetapi siapakah yang memimpin mereka? Pada saat itu, Thomas sedang berada di tanah Haria yang berjarak 5 km dari Saparua.

Dalam musyawarah mendadak itu, 50 orang memilih Thomas Matulessia untuk menjadi kapitan pasukan. Karena ia telah memimpin rapat-rapat sebelumnya, mempunyai kecakapan militer, berani, perkasa, jujur, dan beriman kuat. Akhirnya, utusan mengemukakan putusan itu dan mengajak Thomas untuk kembali ke Saparua untuk segera memimpin penyerangan.

Di wilayah benteng, terdapat sumur yang biasanya menjadi tempat bagi para serdadu Belanda untuk mendapatkan air. Tempat itulah yang menjadi lokasi strategis bagi Thomas dan pasukannya untuk menewaskan prajurit-prajurit Belanda yang berjaga di sana.

Kapitan Pattimura bersama pasukannya berhasil menewaskan residen dan istrinya, namun tidak dengan anak-anaknya. Seorang anak diperintahkan oleh kapitan untuk dibawa dan dibesarkan baik-baik.

Kematian sang residen menjadi simbol kemenangan Thomas dan pasukannya, dengan benteng menjadi milik mereka. Sesudah benteng itu dibersihkan, bedil-bedil dan peluru dibagi-bagikan, dan gudang yang penuh cengkih tertutup. Cengkih yang sangat berharga saat itu kemudian dipergunakan untuk membiayai peperangan.

Namun, kemenangan itu tidak berlangsung lama. Hal itu justru membangkitkan amarah Belanda.

Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, Belanda kembali datang untuk menumpas kemenangan. Pertempuran demi pertempuran itu terjadi tanpa dapat dihindari. Dalam tekanan yang semakin menghimpit, pasukan Pattimura mulai kehilangan kekuatan.

Hingga pada akhirnya, lewat tipu daya dan pengkhianatan, Kapitan Pattimura ditangkap oleh Belanda.

Pada saat itu, Thomas telah diangkat sebagai panglima perang dengan jabatan Kapitan Pattimura oleh raja-raja patih. Diusianya yang telah matang itu, ia tidak memiliki pemikiran untuk segera menikah dan membentuk keluarga. Ia terlalu sibuk memikirkan perang dan nasib rakyat. Memang, ia memiliki seorang kekasih bernama Elisabeth Gassier di Saparua, namun mereka tidak bisa mengikat pernikahan. Karena Elisabeth saat itu masih dalam ikatan perkawinan dengan suaminya dahulu, Eliza Titaley.

Pada suatu malam kegelapan, 11 November 1817, ketika Kapitan Pattimura sedang duduk termenung di dalam sebuah rumah di hutan booi, memikirkan nasib rakyatnya, nasib yang akan dihadapi para pejuang jika kalah perang, tiba-tiba pintu terbuka oleh beberapa orang. Seorang opsir berteriak, mengancam dengan senjata, disambut dengan Raja Booi, “Thomas, menyerahlah engkau. Tidak ada gunanya melawan. Rumah ini sudah dikepung. Empat puluh serdadu siap sedia menembak mati kalian.” “Terkutuklah engkau, pengkhianat,” Geram Pattimura. Kemudian digiringlah Sang Kapitan menuju negeri Booi.

Pengkhianatan yang dilakukan oleh sang Raja Booi didasari oleh rasa dendamnya terhadap sang kapitan karena telah menurunkan jabatannya.

Pada awal Desember, Thomas dan kawan-kawannya tiba di Ambon dan dikurung di dalam sel. Di saat ia diinterogasi oleh Belanda, Kapitan memilih untuk bungkam. Pernah ada seorang serdadu Belanda yang membujuk Sang Kapitan untuk mengakui kesalahannya. Ia bertanya kepada Thomas tentang mengapa ia begitu berani mengangkat senjata menghadapi kekuasaan Kompeni yang begitu kuat. Hal itu hanya dibalas dengan pandangan dari Thomas yang penuh penghinaan, sehingga serdadu itu mundur penuh malu.

Thomas bersama tiga pemimpin lainnya dijatuhi hukuman mati di Benteng Victoria di Ambon. Khusus untuk Thomas, ia dijatuhi hukuman tambahan. Selain divonis hukuman gantung, jenazahnya tidak akan disemayamkan. Melainkan tubuhnya akan digantung di dalam kurungan besi untuk dipertontonkan oleh rakyat. Agar rakyat merasa takut untuk mengulangi perlawanan pada Belanda. Suatu pelajaran yang menakutkan secara turun-temurun.

Pagi-pagi benar pada tanggal 16 Desember 1817, pukul tujuh, keempat pemimpin dibawa menuju lokasi eksekusi. Di antara keempat pemimpin itu, Kapitan Pattimura menjadi orang terakhir yang dieksekusi. Dengan tegas, tanpa ragu-ragu, ia menaiki tiang gantungan. “Selamat tinggal, tuan-tuan.” Begitulah kata-kata terakhir Pattimura sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

Selamat tidur, pangeran kemurahan hati. Engkau telah menyelesaikan baktimu. Perjuanganmu bukanlah sia-sia. Biarlah ragamu beristirahat, namun izinkan jiwa semangatmu terus hidup dalam kami—para Pattimura-Pattimura muda—untuk bangkit dan meneruskan teladan perjuanganmu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baleg DPR Buka Peluang Otsus Aceh Naik Jadi 2,5%
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
81 Persen Warga Optimistis Arah Pembangunan Kota Bandung Berjalan Lebih Baik
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Terima Laporan Pembangunan 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Terdampak Bencana
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Akuisisi Kapal Offshore, ELPI Kantongi Pinjaman Rp633,4 Miliar
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
ICP Masih US$77 per Barel, Bahlil Pastikan Harga BBM Tak Naik hingga Akhir 2026
• 23 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.