Canberra: Pemerintah Australia resmi menyepakati impor pupuk urea sebanyak 250 ribu ton dari Indonesia. Kesepakatan impor pupuk urea dari Indonesia diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese sebagai langkah mitigasi atas gangguan rantai pasok global imbas eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melansir Xinhua, Sabtu, 18 April 2026, Albanese bersama Menteri Luar Negeri Penny Wong dan Menteri Pertanian Julie Collins mengonfirmasi kerja sama pengadaan dengan Indonesia tersebut melibatkan perusahaan pemasok Incitec Pivot Fertilizers dengan produsen PT Pupuk Indonesia (Persero).
Albanese mengatakan volume impor berskala besar tersebut mampu menyuplai sekitar 20 persen dari total kebutuhan pupuk nasional Australia pada musim tanam tahun ini.
"Ini adalah hasil yang signifikan bagi para petani kita. Kami memahami betapa pentingnya pupuk bagi petani Australia, bagi sistem produksi pangan kita, dan ketahanan pangan di wilayah kita," kata Albanese.
Baca juga: Meski Fundamental Kuat, IMF Wanti-wanti Asia soal Ancaman Inflasi dan Disrupsi Rantai Pasok
(Ilustrasi, pupuk urea buatan Pupuk Indonesia. Foto: Medcom.id)
Hadapi ancaman krisis pupuk
Langkah tersebut diambil menyusul kebijakan dari Menteri Pertanian Julie Collins yang memutuskan untuk menyederhanakan proses impor pupuk. Kebijakan tersebut lahir sebagai respons pemerintah atas ancaman krisis pasokan logistik yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebelum meletusnya konflik Timur Tengah, sekitar 60 persen dari total pasokan impor pupuk urea Australia bergantung pada rute perdagangan yang melintasi Selat Hormuz. Collins menambahkan realisasi kesepakatan dagang ini tidak terlepas dari sinergi bilateral yang antara Pemerintah Australia dan Indonesia dalam memfasilitasi transaksi lintas negara.
Collins menegaskan langkah Australia dapat memperkuat peran dalam mendukung stabilitas ketahanan pangan di Indonesia maupun kawasan regional secara lebih luas tengah tingginya ketidakpastian global saat ini.




