Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Ketegangan Meningkat Setelah AS Pertahankan Blokade Laut Meski Jalur Pelayaran Sempat Dibuka
Stabilitas jalur energi global kembali berada di ambang ketidakpastian. Pemerintah Iran memberikan sinyalemen kuat untuk menutup kembali Selat Hormuz jika blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kapal-kapal mereka terus berlanjut.
Pernyataan tegas ini muncul hanya sehari setelah Teheran sempat menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut telah dibuka kembali pasca gangguan akibat eskalasi konflik regional selama beberapa hari terakhir.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa berlanjutnya pembatasan AS terhadap armada Iran akan memicu tindakan balasan yang setara.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada hari Sabtu, Ghalibaf memperingatkan konsekuensi dari blokade yang berkepanjangan tersebut.
"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf. Ia menambahkan bahwa transit melalui perairan tersebut ke depannya mungkin akan bergantung pada otorisasi resmi dari pihak Iran.
Navigasi di Bawah Pengawasan
Sinyalemen penutupan ini menjadi kontras dengan pernyataan Menteri Luar Luar Negeri Abbas Araghchi sebelumnya.
Araghchi mengumumkan bahwa selat yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia tersebut telah dibuka sepenuhnya untuk lalu lintas komersial.
Namun, Araghchi mengindikasikan bahwa pergerakan kapal harus melalui rute yang telah ditentukan melalui koordinasi dengan otoritas Iran.
Hal ini menunjukkan ambisi Teheran untuk tetap memegang kendali penuh atas pengawasan jalur pelayaran internasional tersebut.
Data maritim menunjukkan bahwa meskipun ada pengumuman pembukaan jalur, pergerakan kapal saat ini masih terbatas pada koridor-koridor tertentu yang memerlukan persetujuan Teheran.
Sikap Keras Washington
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyambut baik pembukaan kembali selat tersebut, namun ia segera mempertegas posisi Washington.
Trump menyatakan bahwa blokade Amerika terhadap pelayaran Iran akan tetap "berlaku penuh" hingga tercapainya kesepakatan komprehensif, terutama terkait program nuklir Teheran.
Berdasarkan laporan dari Komando Pusat AS (CENTCOM), setidaknya 21 kapal telah diarahkan kembali menuju Iran oleh pasukan Amerika sejak blokade diberlakukan pada hari Senin lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, melayangkan protes keras terhadap tindakan AS tersebut. Ia menyebut langkah Washington sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
"Iran akan mengambil langkah-langkah timbal balik yang diperlukan jika Washington gagal memenuhi komitmennya," ujar Baghaei.
Dampak Ekonomi Global
Ketidakpastian kontrol atas Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran di pasar energi global. Meski harga minyak sempat melandai karena harapan akan adanya terobosan diplomatik,
para analis memperingatkan bahwa penutupan kembali jalur sempit ini dapat memicu guncangan pasokan yang signifikan di tingkat dunia.
Di Lebanon, gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hizbullah dilaporkan masih bertahan meskipun terjadi beberapa insiden sporadis. Keberhasilan negosiasi jangka panjang ke depan diperkirakan akan bergantung pada tiga isu inti:
1. Program nuklir Iran.
2. Pengaturan keamanan jangka panjang di Selat Hormuz.
3. Kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Sejauh ini, diplomasi tidak langsung antara kedua belah pihak menunjukkan kemajuan yang terbatas. Trump mengisyaratkan bahwa putaran pembicaraan baru dapat segera dilakukan, mencatat bahwa Iran tampaknya mulai mencari kesepakatan, meskipun diskusi sebelumnya selalu menemui jalan buntu pada isu-isu kedaulatan yang krusial.
Editor: Redaktur TVRINews





