EtIndonesia. Saat Presiden AS Donald Trump memusatkan perhatian pada konflik AS-Iran, Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara aktif merangkul negara-negara lain, khususnya Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, dalam empat tahun terakhir telah mengunjungi Tiongkok untuk keempat kalinya. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah Spanyol bisa menjadi celah dalam pertahanan NATO dan Uni Eropa dalam menghadapi ancaman dari PKT.
“Kabinet Sánchez, yaitu Perdana Menteri Spanyol ini, saya pikir kunjungannya ke Tiongkok memiliki tujuan khusus. Pertama adalah untuk menarik kerja sama ekonomi dengan PKT, karena saat ini Spanyol mengimpor dalam jumlah besar kendaraan energi baru dari Tiongkok, seperti mobil listrik Xiaomi dan lainnya,” kata Su Tzu-yun, Direktur Institut Strategi Pertahanan dan Sumber Daya di Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan.
“Bahkan pangsa pasar ponsel Tiongkok di Spanyol telah mencapai sekitar 30%, sehingga Spanyol berupaya mendekati Beijing demi kepentingan ekonomi,” tambahnya.
Su Tzu-yun mengatakan: Kedua, apakah hal ini akan menjadi celah bagi NATO di masa depan? Memang ada potensi ancaman, tetapi dampaknya relatif kecil. NATO sebelumnya juga pernah menghadapi situasi serupa, ketika Turki ingin mengimpor sistem rudal HQ-9 dari Tiongkok, dan NATO dengan tegas menentangnya.
‘Saya pikir jika Spanyol ke depan menunjukkan sikap yang lebih pro-Tiongkok, hal itu masih bisa berubah sewaktu-waktu. Terlebih, kita melihat contoh terbaru—Hungaria yang sebelumnya pro-Tiongkok, dengan pemerintahan yang lama berkuasa, kini tiba-tiba berganti menjadi pemerintahan baru yang lebih pro-Eropa. Jadi saya kira ini lebih merupakan fluktuasi taktis,” katanya.
Laporan NTDTV Asia Pasifik /Lu Yongxin





