REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Di jalan-jalan Teheran yang sunyi, di mana keheningan terpecah oleh deru motor yang dikendarai pembunuh tak dikenal, bab-bab dari salah satu perang bayangan paling rumit di era modern dimulai pada awal milenium baru.
Ini bukan sekadar pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir, melainkan awal dari konflik eksistensial yang melintasi batas negara.
Baca Juga
Setelah Burung Gagak, Kini Puluhan Ribu Lebah Mendadak Kepung Israel Selatan
Hancurnya Doktrin dan Pamor Militer Israel di Tangan Gigih Perlawanan Islam
Ini Senjata Murah Hizbullah Seharga 500 Dolar AS yang Bikin Israel Ketakutan
Di antara ambisi nuklir Iran yang tak tergoyahkan dan doktrin Israel yang menolak melepaskan monopoli kekuatan, film dokumenter "Iran dan Israel: Permusuhan yang Memanas"—yang ditayangkan Aljazeera pada Jumat (17/4/2026) malam—mengungkap rahasia konfrontasi sengit yang membuat dunia menahan napas.
Film ini mengandalkan kesaksian jurnalis dan pejabat Israel, termasuk mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Ehud Barak, mantan Utusan AS untuk Urusan Iran Robert Malley, dan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, serta mantan pemimpin Korps Garda Revolusi Iran dan lainnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Doktrin pencegahan dan efek domino bom
Israel mendasarkan tindakannya pada tradisi lama yang mengharuskan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh sentral di kalangan musuhnya.
Prinsip ini bertujuan untuk mencegah efek "domino" nuklir, karena Tel Aviv khawatir bahwa kepemilikan bom oleh Teheran akan memicu perlombaan senjata yang melibatkan Arab Saudi, Mesir, dan Turki.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)