Lebih dari 2 juta penduduk di Jalur Gaza, Palestina, kini harus berjuang bertahan hidup di tengah kepungan tumpukan sampah yang bercampur dengan reruntuhan bangunan akibat konflik yang berkepanjangan.
Krisis lingkungan ini memicu ancaman kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan. Laporan dari Kota Deir al-Balah menunjukkan bahwa anak-anak Palestina mulai menderita berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit kudis, ruam kulit, hingga infeksi saluran pernapasan akut.
Meski gencatan senjata telah tercapai sejak Oktober 2025, proses pemulihan infrastruktur di Gaza berjalan sangat lambat. Kondisi ini memaksa banyak keluarga tetap tinggal di lingkungan yang tidak layak dan penuh limbah karena tidak memiliki pilihan tempat tinggal lain.
Baca juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 10 Warga Termasuk Dua Balita
Pemandangan memprihatinkan terlihat saat warga yang putus asa terpaksa menggali tumpukan sampah. Mereka mencari potongan kardus atau benda apa pun yang bisa dijadikan bahan bakar untuk menyalakan api demi memasak makanan.
Upaya pembersihan wilayah saat ini sedang diupayakan oleh pemerintah daerah setempat yang bekerja sama dengan Badan Pembangunan PBB, UNDP. Namun, langkah-langkah tersebut menghadapi hambatan besar berupa sangat terbatasnya sumber daya manusia serta minimnya ketersediaan alat berat untuk mengangkut puing dan sampah dalam skala besar.
Hingga saat ini, jadwal pasti mengenai rekonstruksi total wilayah Gaza masih belum jelas. Hal ini menambah panjang daftar ketidakpastian bagi jutaan warga yang masih bertahan di atas reruntuhan, menanti harapan untuk kembali ke kehidupan yang lebih manusiawi.




