Bisnis.com, JAKARTA — Integrasi antarmoda yang terus diperluas KAI Group mendorong lonjakan penumpang angkutan rel perkotaan. Namun, pertumbuhan tersebut sekaligus menegaskan ketimpangan pengembangan transportasi publik yang masih terpusat di Jabodetabek dan Jawa.
Penguatan konektivitas menjadi faktor kunci di balik peningkatan mobilitas penumpang. Integrasi LRT Jabodebek dengan kereta cepat Whoosh di Stasiun Halim hingga keterhubungan antarmoda di Dukuh Atas dan Manggarai memperluas opsi perjalanan masyarakat.
Kondisi ini mempercepat perpindahan moda transportasi dalam satu perjalanan, sekaligus menekan waktu tempuh di tengah kemacetan perkotaan.
Dampaknya tercermin pada lonjakan volume penumpang di berbagai layanan KAI Group sepanjang triwulan I/2026. LRT Jabodebek mencatat 7,75 juta pelanggan, naik 22,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 6,35 juta pelanggan.
Pertumbuhan juga terlihat pada layanan kereta cepat Whoosh yang melayani 1,40 juta pelanggan pada triwulan I/2026, meningkat 4,07% dari 1,35 juta pelanggan pada triwulan I/2025.
Di segmen angkutan komuter, KAI Commuter mencatat 86,86 juta pengguna Commuter Line Jabodetabek pada Januari–Maret 2026, naik 5,7% dari 82,11 juta pengguna pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan lebih tinggi terjadi pada Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta yang melayani 640.510 penumpang, meningkat 23,8% dari 517.166 penumpang pada triwulan I/2025. Sementara itu, Commuter Line Merak mencatat 1,13 juta pengguna, tumbuh 11,7% dari 1,01 juta pengguna.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menyebut pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kapasitas angkut dan penambahan sarana.
“Faktor utama yang mendorong pertumbuhan penumpang karena penambahan kapasitas angkut, di mana program peremajaan sarana KRL telah berlangsung bertahap sejak tahun 2025 sampai dengan saat ini,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Dia menjelaskan, rangkaian baru dengan konfigurasi 12 kereta meningkatkan daya angkut penumpang. Selain itu, pengoperasian stasiun baru seperti Jatake turut memperluas jangkauan layanan.
Karina menambahkan, tren peningkatan tidak hanya terjadi di Jabodetabek, tetapi juga di wilayah operasi lain seperti Yogyakarta, Surabaya, hingga Merak dan Bandara Soekarno-Hatta.
Di sisi pengguna, efisiensi biaya dan waktu menjadi pertimbangan utama yang mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik. Ave (26), pekerja swasta di Jakarta, menilai moda seperti KRL, MRT, dan Transjakarta lebih praktis di tengah kemacetan.
“Saya memilih menggunakan transportasi umum untuk aktivitas kerja sehari-hari karena lebih efisien dan praktis, terutama di tengah kondisi lalu lintas yang padat,” ujarnya.
Dia juga menyoroti penghematan biaya dibandingkan kendaraan pribadi, meski mengakui kendaraan pribadi masih unggul dari sisi fleksibilitas waktu dan rute.
Ketimpangan Luar Jawa MenguatPergeseran preferensi ini turut diamati oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara. Menurutnya, bertambahnya pilihan moda dan integrasi layanan mendorong kelas menengah urban beralih ke transportasi publik.
“Ini yang membuat terjadinya pergeseran, terutama dari kelompok menengah, pekerja urban, itu yang akhirnya memanfaatkan transportasi publik juga,” ujarnya.
Selain faktor efisiensi biaya, transportasi publik dinilai mampu mengatasi kemacetan dan lebih sederhana dalam operasional harian tanpa beban perawatan kendaraan.
Namun, Bhima menilai pengembangan transportasi publik masih timpang karena terkonsentrasi di Jawa, khususnya Jabodetabek.
“Sayangnya masih terkonsentrasi di Jawa. Di beberapa daerah di Jawa pun juga masih sangat kurang transportasi publiknya,” ujarnya.
Dia menekankan perlunya percepatan pembangunan transportasi publik di luar Jawa, termasuk melalui dukungan pendanaan pemerintah dan investasi.
Menurutnya, momentum krisis energi dapat dimanfaatkan untuk mendorong peralihan ke transportasi publik sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai pengembangan transportasi tidak bisa hanya bertumpu pada kereta. Integrasi dengan moda lain seperti bus tetap menjadi kebutuhan, terutama untuk menjangkau kelompok pengguna yang beragam.
Dia menyoroti adanya segmentasi pengguna, termasuk kelompok masyarakat di kawasan perumahan premium yang cenderung memilih layanan bus premium dibandingkan KRL.
Di sisi lain, pengembangan jaringan rel di luar Jabodetabek dinilai membutuhkan investasi besar dan kesiapan elektrifikasi.
Djoko menyebut kota seperti Bandung dan Surabaya memiliki urgensi tinggi untuk pengembangan KRL, sementara daerah lain dapat didorong melalui penguatan layanan bus sebagai langkah awal.
“Untuk ketimpangan bisa dilakukan tanpa harus kereta, mulai dari bus dulu. Kereta khusus perkotaan seperti Bandung dan Surabaya,” ujarnya.
Ekspansi LRT Jabodebek yang direncanakan hingga Baranangsiang juga dinilai dapat membuka alternatif mobilitas baru bagi masyarakat Bogor, sekaligus mengurangi ketergantungan pada jalur jalan raya.
Dengan pertumbuhan penumpang yang terus meningkat, integrasi transportasi publik terbukti menjadi pendorong utama mobilitas perkotaan. Namun, tanpa percepatan pengembangan di luar wilayah inti, risiko ketimpangan akses transportasi dinilai akan semakin melebar.
Pemerintah sendiri menargetkan total panjang rel kereta api yang beroperasi di Indonesia bakal mencapai 12.000 kilometer (km). Saat ini, total panjang rel kereta beroperasi hanya sekitar 7.000 km.
Mengacu data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), tercatat jalur nonaktif beroperasi sebanyak 2.233 km.
Pada tahap awal, KAI berencana untuk mereaktivasi 500 km jalur kereta, khususnya jalur-jalur lama dengan lalu lintas yang saat ini sudah terlalu penuh oleh kendaraan bermotor.




