Saat riset dan industri mulai berjalan seiring

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Ada banyak cerita tentang inovasi di negeri ini yang berakhir terlalu cepat, bukan karena idenya lemah, tetapi karena sulit menemukan jalan keluar dari ruang laboratorium.

Hasil riset seperti benih yang tumbuh sehat di dalam pot, tetapi tak pernah dipindahkan ke tanah yang sesungguhnya.

Semua bisa memahami bahwa persoalan riset di Indonesia bukan semata soal kemampuan mencipta, melainkan keberanian menghubungkannya dengan kebutuhan nyata.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memang tak diam saja mendapati kenyataan itu. Dalam beberapa waktu terakhir ini misalnya, melalui program BRIN Goes to Industry, lembaga ini mempertemukan 74 pelaku industri dalam satu ruang dialog.

Bukan sekadar forum seremonial, tetapi sebuah eksperimen untuk memaksa dua dunia (riset dan bisnis) saling mendengar dengan lebih jujur.

Di dalamnya hadir berbagai entitas, mulai dari PT Berdikari Persero, PT Enzym Bioteknologi Internus, hingga PT Eagle High Plantations Tbk, yang masing-masing membawa kebutuhan, kepentingan, sekaligus peluang.

Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan sesuatu yang sebetulnya sederhana, tetapi selama ini sering terlewat, bahwa riset harus berorientasi pada dampak.

Bukan hanya menghasilkan laporan atau publikasi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan pasar.

Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya mempercepat hilirisasi inovasi melalui penguatan engagement dengan industri. Kata “engagement” di sini penting, karena menandakan perubahan pendekatan dari yang sebelumnya cenderung satu arah menjadi relasi timbal balik.

Selama bertahun-tahun, relasi antara peneliti dan industri berjalan seperti dua garis paralel. Peneliti bekerja dalam logika akademik, mengejar temuan baru dan publikasi ilmiah.

Sementara industri bergerak dalam logika pasar, mencari efisiensi, kecepatan, dan profitabilitas. Keduanya sama-sama penting, tetapi jarang bertemu dalam titik yang produktif.

Akibatnya, banyak inovasi yang sebenarnya potensial tidak pernah benar-benar digunakan, sementara industri terus bergantung pada teknologi yang dikembangkan di luar negeri.

Baca juga: Kemdiktisaintek dan BRIN dorong penguatan peta jalan riset nasional



Ruang Dua Arah

Forum yang dibangun BRIN mencoba memecah pola lama itu. Dengan membuka ruang dua arah, di mana industri tidak hanya menjadi penerima hasil riset, tetapi juga pemberi arah.

Dalam forum tersebut, pelaku industri didorong untuk menyampaikan kebutuhan teknologi yang mereka hadapi secara konkret.

Sebaliknya, peneliti didorong untuk memahami bahwa relevansi adalah bagian dari kualitas. Sebuah inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihannya, tetapi juga dari kemampuannya menjawab masalah nyata.

Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika masyarakat bisa melihat dinamika sektor industri yang bergerak cepat. Salah satu contoh yang disampaikan Arif Satria adalah pertumbuhan industri kosmetik yang mencapai 77 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan refleksi dari perubahan gaya hidup, meningkatnya kesadaran konsumen, dan terbukanya pasar yang luas.

“Ini menunjukkan bahwa market untuk industri ini sejatinya sangat tinggi dan market ini hanya bisa kita penuhi kalau kita punya inovasi-inovasi yang unggul. Kita punya teknologi yang bagus, sehingga itu bisa diterapkan di industri dan bisa menjadi mesin pertumbuhan bagi Indonesia,” kata Arief Satria.

Namun, pertumbuhan yang tinggi tanpa dukungan inovasi akan cepat menemui batasnya. Industri membutuhkan teknologi, formulasi, hingga pengembangan bahan baku yang lebih efisien dan berkualitas.

Oleh karena itu peran riset menjadi strategis. Ketika inovasi mampu masuk ke dalam rantai produksi, tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperkuat daya saing industri nasional.

Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar, tetapi juga produsen yang memiliki kendali atas nilai tambah. Dalam hal ini, hilirisasi bukan sekadar proses teknis, melainkan transformasi ekonomi.

Namun, membangun jembatan antara riset dan industri tidak cukup hanya dengan pertemuan atau forum. Tetapi membutuhkan perubahan cara pandang yang lebih mendasar.

Peneliti perlu melihat industri bukan sebagai entitas yang “mengomersialkan” ilmu, tetapi sebagai mitra yang memperluas dampak pengetahuan. Sebaliknya, industri perlu melihat riset bukan sebagai biaya tambahan, tetapi sebagai investasi jangka panjang.

Baca juga: BNN: Kolaborasi dengan BRIN akselerasi riset respon narkoba baru

Baca juga: BRIN kembangkan material penahan tanah ramah lingkungan untuk pesisir



Kolaborasi Konkret

Ada pula tantangan struktural yang tidak bisa diabaikan. Sistem insentif di dunia riset masih banyak bertumpu pada publikasi, sementara kebutuhan industri sering kali menuntut solusi yang cepat dan aplikatif.

Tanpa penyesuaian kebijakan, kolaborasi akan sulit berkelanjutan. Karena itu, langkah BRIN seharusnya tidak berhenti pada mempertemukan, tetapi juga merancang mekanisme yang memastikan kolaborasi tersebut menghasilkan sesuatu yang konkret.

Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara yang mampu menghubungkan riset dengan industri akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Inovasi bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi inti dari pertumbuhan ekonomi.

Negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah umumnya memiliki ekosistem inovasi yang kuat, di mana riset, industri, dan kebijakan berjalan dalam satu arah yang saling memperkuat.

Indonesia memiliki potensi besar untuk itu. Bangsa ini memiliki sumber daya manusia yang semakin terdidik, pasar yang besar, serta kebutuhan yang beragam.

Hal yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menyatukan semua itu dalam satu ekosistem yang produktif. Upaya memperluas kemitraan industri yang dilakukan BRIN dapat dilihat sebagai salah satu langkah menuju ke sana.

Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa langkah ini tidak berhenti sebagai inisiatif sesaat. Ini harus menjadi bagian dari perubahan sistemik yang terus diperkuat.

Kolaborasi perlu diperluas ke lebih banyak sektor, dari pertanian hingga energi, dari kesehatan hingga teknologi digital. Setiap sektor memiliki kebutuhan spesifik yang dapat menjadi ruang bagi inovasi untuk tumbuh.

Maka, keberhasilan sebuah riset tidak terletak pada seberapa canggih di atas kertas, tetapi seberapa jauh mampu mengubah kehidupan.

Ketika inovasi benar-benar hadir di tengah masyarakat, menjelma menjadi produk yang digunakan, layanan yang dirasakan, dan teknologi yang mempermudah kehidupan, maka di situlah riset menemukan maknanya yang paling utuh.

Pada titik itu pula, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, bangsa ini dapat melihat jalan ke arah tersebut terbuka dengan lebih terang.

Baca juga: BRIN bidik riset strategis untuk genjot industri kosmetik dalam negeri

Baca juga: BRIN soroti adaptasi teknologi pertanian untuk hadapi perubahan iklim

Baca juga: Danantara dan Kemdiktisaintek perkuat riset industri semikonduktor RI


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bangkit atau Tenggelam! Persik Kediri Dibayangi Tekanan Besar Jelang Lawan Persita
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Mantan Pejabat CIA Soroti Langkah Trump: Jika China Ikut, Perang Bisa Tamat
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
DPR Tekankan Keamanan dan Transparansi dalam Persiapan Haji 2026 di Tengah Geopolitik Global
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Politik sepekan, Prabowo ketemu Putin hingga JK minta maaf
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Yoshimi Ogawa Ketua Komite Wasit PSSI Tekankan Peran Media dalam Sepak Bola Indonesia
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.