Sensasi Awak Artemis II Saksikan Gerhana dari Bulan Hingga Cuci Rambut di Kapsul Orion

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Penerbangan misi Artemis II ke luar angkasa telah usai. Awak telah kembali ke Bumi dengan selamat. Namun banyak kisah, capaian, hingga pelajaran dari perjalanan mereka ke sisi belakang Bulan yang menarik untuk diceritakan. Salah satunya, tentang perjuangan keempat astronot tinggal dalam kapsul Orion yang serba terbatas dan tidak nyaman sambil melakukan banyak tugas selama 10 hari.

Meski cukup menantang, namun dari kapsul itu pula para awak mengamati permukaan bulan, dan bahkan menyaksikan gerhana Matahari.

Program Artemis II diluncurkan dari Bandar Antariksa Kennedy, Amerika Serikat pada 1 April 2026. Selama peluncuran, keempat antariksawan diletakkan dalam kapsul Orion yang dinamai Integrity dan diletakkan di pucuk roket terkuat yang dimiliki Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) Space Launch System.

Mereka sampai dan terbang melintas di sisi belakang Bulan pada 6 April 2026. Selama hampir tujuh jam, mereka mengamati kondisi geologi permukaan Bulan, menyaksikan gerhana Matahari selama 53 menit dari balik Bulan, hingga melakukan sejumlah eksperimen kesehatan. Setelah itu, mereka langsung kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik di lepas pantai San Dieogo, AS pada 10 April 2026.

Baca JugaSejarah Baru Manusia di Bulan Tercipta
Baca JugaKe Bulan, Manusia Akan Kembali

Ini adalah perjalan manusia pertama ke Bulan setelah perjalanan terakhir kali manusia ke Bulan pada 1972. Keempat antariksawan yang terdiri atas Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen juga memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dari Bumi yaitu sejauh 406.771 kilometer (km).

Selama perjalanan itu, keempat antariksawan harus hidup dalam ruang kapsul yang sangat sempit dan terbatas. Orion atau dinamai Integrity oleh awak Artemis II memiliki lebar 5 meter (m), tinggi 4,8 m, dan volume layak huni sebesar 9,3 meter kubik.

Bukan hanya ruangan yang sempit, hidup dalam kapsul dan wahana luar angkasa juga memiliki tantangan yang unik. Hal-hal yang terasa sepele di Bumi, seperti mandi, makan, hingga tidur menjadi lebih kompleks di luar angkasa.

Dilengkapi toilet

Kapsul Orion dalam Artemis II adalah wahana pertama ke Bulan yang memiliki toilet. Dalam misi Artemis I pada 2022, Orion yang terbang tanpa awak tidak membawa toilet. Toilet ini menjadi satu-satunya tempat dalam kapsul yang memiliki privasi dan bisa digunakan awak Artemis II untuk menyendiri sesaat.

Sementara pada misi Apollo ke Bulan tahun 1969-1972, kapsul yang digunakan juga tidak memiliki toilet. Astronot dalam misi Apollo harus menempelkan plastik ke pantat mereka untuk buang air besar. Setelah hajat mereka tertunaikan, seperti ditulis BBC Sky at Night Magazine, 30 Maret 2026, mereka harus menggulung kantung plastik tersebut dan membawanya kembali ke Bumi.

Toilet yang dimilikip dalam kapsul Orion ini berbeda dengan yang ada di rumah-rumah di Bumi. Toilet ini merupakan versi ringkas dari toilet yang digunakan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan disebut Sistem Pengelolaan Limbah Universal (SPLU). Toilet ini bisa digunakan untuk buang air kecil maupun buang air besar.

Toilet ini menggunakan aliran udara untuk menyedot urin dan feses menjauh dari tubuh.

Baca JugaMengapa Manusia Kembali ke Bulan?
Baca JugaPecahkan Rekor Apollo, Artemis II Mendarat di Bumi Seusai Rampungkan Misi ke Bulan

Toilet ini menggunakan aliran udara untuk menyedot urin dan feses menjauh dari tubuh. Sistem ini digunakan karena dalam kondisi tanpa bobot di luar angkasa, tidak adanya gravitasi akan membuat limbah manusia tidak bisa langsung jatuh ke bagian bawah kloset seperti di Bumi, tetapi melayang. Karena itu, butuh sistem untuk langsung menyedot limbah yang dihasilkan manusia.

Bedanya, SPLU di kapsul Orion tidak akan mendaur ulang urin astronot menjadi air minum seperti sistem yang digunakan di ISS. Model ini dipilih karena misi dalam Artemis II hanya berlangsung singkat, sekitar 10 hari, sedangkan SPLU di ISS sudah beroperasi lebih dari 25 tahun di ketinggian sekitar 400 km dari Bumi.

Sistem SPLU di kapsul Orion dirancang untuk memisahkan antara urin dan feses antariksawan. Urin akan dibuang ke luar angkasa, sedangkan feses akan ditampung untuk dibawa pulang dan dibuang di Bumi.

Masalahnya, selama misi Artemis II berlangsung, toilet ini rusak alias tidak berfungsi. Seperti dikutip Space, 2 April 2026, kerusakan toilet itu sudah terdeteksi beberapa jam setelah peluncuran. Kerusakan terjadi pada pengontrol toilet yang membuat toilet itu hanya bisa digunakan untuk buang air besar.

Meski bermasalah, Wiseman selaku komandan misi dalam taklimat media yang diselenggarakan Kamis (16/4/2026) lalu, membela persoalan ini yang telah menjadi perhatian dunia selama misi berlangsung. Menurutnya, para teknisi yang menciptakan, mendukung, dan membantu memperbaiki toilet tersebut dari Bumi telah berupaya maksimal agar toilet tetap berfungsi.

“Saya ingin mengatakan tanpa ragu sedikit pun bahwa itu adalah toilet yang luar biasa,” katanya. Kesalahan yang terjadi bukan terletak pada toilet tersebut karena fungsi penyiraman toilet berjalan baik. Namun saat cairan tersebut ke luar melalui bagian bawah toilet, cairan tersebut menyumbat saluran.

Baca JugaMenstruasi di Luar Angkasa

Semestinya, saluran ventilasi itu mengalirkan urin dari toilet ke lambung kapsul untuk dikeluarkan ke luar angkasa. Saat cairan urin dibuang ke luar angkasa, akan menciptakan pemandangan yang indah karena miliaran serpihan es kecil menjadi melayang-layang di antariksa.

Penyumbatan pengeluaran air kencing melalui saluran ventilasi itu membuat toilet, seperti ditulis Space, 16 April 2026, tidak dapat  digunakan secara penuh selama misi. Terlebih, tangki toilet hanya dapat menampung kurang lebih 10 kali buang air kecil dari selruh awa.

Kalaupun toilet gagal total untuk digunakan, NASA telah memiliki rencana cadangan, yaitu awak Artemis II akan buang air kecil dengan menampung air kencingnya melalui kantung dan membuangya ke luar angkasa. Sementara untuk buang air besar tetap bisa dilakukan di toilet, tetapi dengan sistem pengolah limbah yang tidak berfungsi sempurna.

Kebersihan diri

Toilet itu sejatinya terletak di ‘bilik kebersihan’ di dalam kapsul Orion. Bilik ini tidak hanya digunakan untuk buang air kecil dan buang air besar semata, tetapi juga untuk mandi, menggosok gigi, hingga mencukur kumis dan cambang. Namun karena tidak ada gravitasi, hal-hal sederhana itu menjadi rumit saat dilakukan di luar angkasa.

Untuk mandi, astronot dalam misi Mercury yang merupakan penerbangan berawak ke luar angkasa pertama NASA pada 1958-1963, misi Gemini (1965-1966), dan Apollo (1961-1975), mereka mandi dengan spons sederhana dan tidak mengganti pakaian mereka sama sekali. Akibatnya, saat mereka kembali ke Bumi dan pintu kapsul di buka, bau menyengat langsung menguar.

Kini di ISS, antariksawan mandi dengan tisu basah dan sampo tanpa bilas. Pengembangan produk-produk kebersihan diri yang lebih efisien dan berteknologi tinggi cukup membantu antariksawan untuk sedikit merasakan kenyamanan Bumi. Namun karena tidak ada pancuran dalam wahana, sebenarnya mereka tetap mandi menggunakan spons atau yang mirip dengannya.

Baca JugaBercinta di Luar Angkasa

Odol yang mereka gunakan antariksawan adalah pasta gigi khusus, yaitu odol yang bisa ditelan sehingga antariksawan tidak perlu meludahkannya.

Meski demikian, kapsul di luar angkasa adalah lingkungan yang sangat dijaga kebersihannya dan hampir steril. Antariksawan juga tidak akan sekotor kita yang tinggal di Bumi, karena mereka tidak kehujanan, terpapar asap knalpot, atau tertempel debu-debu jalanan. Suhu di dalam kapsul atau wahana juga dijaga secara ketat sehingga mereka tidak akan banyak berkeringat. Namun karena mereka diwajibkan berolahrga tiap hari dan kulit tetap memproduksi sebum alias minyak alami kulit sehingga mereka tetap perlu mandi teratur.

Selanjutnya, untuk menyikat gigi, cara yang digunakan hampir mirip seperti di Bumi meski tidak ada wastafel di wahana. Untuk menyikat gigi, antariksawan harus memeras sedikit air dari kantung minum ke bulu sikat gigi. Air tersebut akan membentuk gumpalan yang mengambang di luar angkasa. Gumpalan air itu akan ditangkap oleh bulu sikat gigi hingga bulu tersebut menjadi lebih lembap.

Odol yang mereka gunakan antariksawan adalah pasta gigi khusus, yaitu odol yang bisa ditelan sehingga antariksawan tidak perlu meludahkannya. Setelah selesai menyikat gigi, maka mereka memasukkan kembali air ke mulut dalam jumlah lebih banyak untuk membersihkan sisa odol, sekaligus membersihkan sikat gigi yang digunakan, dan menelan air yang digunakan untuk membersihkan gigi tersebut.

Makan minum

Sama seperti sistem pembuangan limbah manusia, pola konsumsi awak Artemis II juga jauh berbeda seperti model makanan dan minuman astronot era Apollo. Pasta instan yang sempat menjadi makanan utama para awak dalam misi Apollo, sudah lama hilang dalam menu makanan untuk antariksawan. Antariksawan di ISS, kini sudah bisa menikmati roti lapis  (sandwich) dan kopi panas.

Bahkan, awak ISS saat ini bisa rutin mengonsumsi buah segar yang dikirim dengan wahana kargo dari Bumi setiap beberapa bulan sekali. Pasokan buah segar itu menjadi sumber vitamin C yang penting bagi kesehatan antariksawan, sekaligus menjadi penambah semangat mereka selama bertugas berbulan-bulan di ISS sebagai pengingat akan ‘rumah’ mereka di Bumi.

Sementara awak Artemis II memiliki menu makan yang lebih terbatas dibanding antariksawan yang bertugas di ISS. Namun, keempat astronot dalam misi Artemis II sudah diberi pilihan menu makanan apa yang ingin mereka bawa selama misi 10 hari ke Bulan. Pilihan menu itu antara lain kari ayam, koktail udang, hingga puding coklat.

Selain itu, awak Orion juga memiliki persediaan air minum yang cukup dalam kapsul. Mereka juga memiliki alat penghidrasi dan alat pemanas makanan.

Baca JugaSecangkir Kopi untuk Antariksawan
Kebugaran

Sesaat setelah antariksawan meninggalkan lingkungan Bumi menuju luar angkasa, maka tarikan gravitasi Bumi pun berkurang. Mereka pun akan menjadi lebih mudah bergerak kesana kemari meski kondisi itu juga menyulitkan. Tidak adanya gravitasi yang menarik antariksawan menuju lantai atau bagian dasar kapsul membuat mereka sulit menjaga keseimbangan.

Tak hanya itu, tidak adanya tarikan gravitasi Bumi juga akan membuat otot dan tulang akan semakin cepat memburuk. Kondisi itu membuat antariksawan yang bertugas di ISS diwajibkan berolahraga minimal dua jam per hari selama misi yang rata-rata memakan waktu enam bulan. Meski awak Artemis II hanya 10 hari di luar angkasa, mereka tetap diwajibkan olahraga setiap hari. Namun latihannya tidak seberat antariksawan di ISS, tetapi cukup 30 menit saja.

Olahraga astronot dalam kapsul Orion dilakukan dengan menggunakan flywheel, yaitu alat seukuran koper kecil yang bisa digunakan untuk latihan mendayung, squat (menekuk kaki seperti hendak jongkok), dan deadlift (gerakan mengangkat beban dari lantai ke posisi berdiri tegak) untuk menjaga otot dan tulang mereka agar tetap kuat dan sehat.

Tak hanya itu, tidak adanya tarikan gravitasi Bumi juga akan membuat otot dan tulang akan semakin cepat memburuk.

Selain itu, untuk menjaga tubuh mereka tetap bugar, antariksawan juga diwajibkan tidur delapan jam setiap hari. Tidur malam yang nyenyak itu penting karena besarnya tekanan mental dan fisik yang dihadapi antariksawan selama perjalanan pergi-pulang dan memutari Bulan.

Masalahnya, tidur dalam kondisi tanpa gravitasi itu juga tidak mudah. Mereka tidak bisa naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di atas kasur seperti yang dilakukan saat akan tidur di Bumi. Untuk tidur, antariksawan harus masuk dalam kantung tidur yang diikatkan ke pegangan tertentu hingga kantung tidur itu tidak melayang-layang. Untuk awak Artemis II, mereka umumnya akan tidur pada waktu yang sama, dengan kantung tidur diikatkan pada dinding kapsul Orion.

Dengan segala ketidaknyamanan hidup di luar angkasa yang serba menantang, masih tertarik menjadi antariksawan, minimal turis antariksa?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Anung Hadiri Halalbihalal IOM ITB dan Paparkan Program
• 24 menit lalutvrinews.com
thumb
Kasus Andrie Yunus, Komisi I Usul Aturan Peradilan Militer di UU TNI Direvisi
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Dugaan Parkir Liar Dilegalkan di Lebak Bulus, DPRD DKI: Harusnya Dipasang Rambu Dilarang, Justru Dibolehkan
• 14 jam laluliputan6.com
thumb
Selat Hormuz Dinamis, Pertamina Terus Koordinasi ke Iran soal 2 Kapal Tanker Tertahan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Tampil di SUGBK, Legenda Barcelona Vitor Baia Bicara Jujur soal Kualitas Irfan Bachdim hingga Arthur Irawan
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.