Dunia Kehilangan 500 Juta Barel Minyak karena Perang, Kerugian Tembus Rp 859,4 T

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dunia kehilangan lebih dari USD 50 miliar minyak mentah yang tak sempat diproduksi sejak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pecah hampir 50 hari lalu. Nilai tersebut setara Rp 859,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.188 per USD.

Analis Reuters pada Minggu (19/4) menyebut dampak lanjutan dari krisis ini bakal terasa dalam beberapa bulan bahkan hingga bertahun-tahun ke depan. Sejak krisis dimulai pada akhir Februari 2026, berdasarkan data Kpler, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari pasar global. Angka ini menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.

Jika dirinci, kehilangan 500 juta barel minyak setara dengan:

Di samping itu, negara-negara Arab di Teluk kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret, hampir setara dengan produksi gabungan Exxon Mobil dan Chevron.

Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman anjlok dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April sejauh ini, menurut data Kpler. Penurunan ini setara dengan bahan bakar untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi rute New York (JFK)–London Heathrow, menurut estimasi Reuters.

Dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar USD 100 per barel sejak konflik berlangsung, volume yang hilang tersebut setara dengan sekitar USD 50 miliar pendapatan, kata analis Kpler Johannes Rauball. Nilai ini setara dengan pemangkasan 1 persen produk domestik bruto (PDB) tahunan Jerman, atau kira-kira sebesar PDB negara kecil seperti Latvia atau Estonia.

Pemulihan Bisa Memakan Waktu Lama

Meski Selat Hormuz telah dibuka, pemulihan produksi dan distribusi energi diperkirakan berjalan lambat.

Data Kpler menunjukkan, persediaan minyak mentah global di darat sudah turun sekitar 45 juta barel sepanjang April. Sejak akhir Maret, gangguan produksi tercatat mencapai sekitar 12 juta barel per hari.

Ladang minyak berat di Kuwait dan Irak diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali normal, yang berpotensi memperpanjang penurunan stok hingga musim panas, ujar Rauball. Selain itu, kerusakan pada kapasitas kilang serta kompleks LNG Ras Laffan di Qatar membuat pemulihan penuh infrastruktur energi kawasan diprediksi bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tips Diet untuk Perempuan Usia 40-an
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Sebut AS Langgar Kesepakatan
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Kisah Mbah Kibar, Pelukis di Sleman yang Berjuang Lunasi Utang Rp 500 Juta
• 7 jam laludetik.com
thumb
6 Fakta Kebakaran di Jakbar Tewaskan Sekeluarga
• 11 jam laludetik.com
thumb
Operasi SAR Dihentikan, Korban Tenggelam di Air Terjun Situmurun Belum Ditemukan
• 23 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.