investor hanya perlu membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten dalam mencetak keuntungan.
IDXChannel - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang masih terus tertekan di tengah tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus jadi sorotan publik dan pelaku pasar.
Pasalnya, saham perbankan tersebut sebelumnya bisa dianggap sebagai salah satu idaman investor (investor darling) yang hampir selalu jadi sasaran borong saham, manakala harganya sedikit melandai.
Namun, anomali pun terjadi ketika saham BBCA justru sudah cukup lama tertekan oleh aksi jual, sehingga harganya betah berada di level bawah. Misalnya pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (17/6/2026), saham BBCA dibanderol Rp6.425 per saham, atau turun 18,41 persen dibanding harga pada hari sebelumnya.
Padahal jika ditarik ke belakang hingga enam bulan terakhir, harga saham BBCA pernah mencapai Rp8.700 per saham pada 5 November 2025 lalu. Atau bahkan dalam setahun ke belakang, harga saham bank milik Grup Djarum ini bahkan sempat menyentuh Rp9.700 per saham pada 21 Mei 2025 lalu.
"Makanya jangan heran jika direksi Perseroan justru konsisten beli saham BBCA, di tengah tekanan jual yang ada. Maka ini jelas momentum langkah, di tengah fluktuasi pasar, petinggi BBCA bukannya defensif, tapi malah agresif dengan borong sahamnya sendiri," ujar Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, dalam keterangan resminya, Minggu (19/4/2026).
Aksi borong sebagaimana disampaikan Rendy tersebut, mengacu pada data per Triwulan I-2026, di mana sejumlah Direksi BBCA memang terlihat aktif memborong saham emiten tersebut. Sebut saja Sang Presiden Direktur, Hendra Lembong, yang terpantau telah belanja saham BBCA hingga Rp7,93 miliar.
Selain itu juga Wakil Presiden Direktur John Kosasih yang juga telah membeli saham BBCA hingga Rp4,37 miliar pada Maret 2026 lalu. Kemudian Direktur Keuangan, Vera Eve Lim, yang telah menambah koleksi saham BBCAnya senilai RP3,84 miliar pada Maret 2026.
Lalu Direktur Manajerial, Frenkie Chandra, yang telah mengakumulasi saham BBCA senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2026 lalu. Tak ketinggalan juga Direktur BBCA lainnya, Santoso dan Lianawaty, yang masing-masing telah membeli saham BBCA dari pasar senilai Rp3,46 miliar dan Rp2,1 miliar.
"Ini tentu bukan aksi beli biasa, tapi eksekusi strategi buy on weakness, yaitu membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Ini bukti kuat bahwa pihak-pihak yang paling paham kondisi 'dapur' perusahaan punya keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA," ujar Rendy.
Keyakinan manajemen ini, dalam pandangan Rendy, sejalan dengan realitas valuasi saham BBCA saat ini. Dengan menggunakan pendekatan Price Earning Ratio (PER), misalnya, saham BBCA saat ini hanya diperdagangkan di kisaran PER 15 kali.
Itu artinya, investor hanya perlu membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten dalam mencetak keuntungan, di tengah ketatnya persaingan industri perbankan nasional.
Posisi PER BBCA tersebut, bahkan berada jauh di bawah saham ARTO, dengan posisi PER mencapai 64 kali, atau dengan kata lain, investor harus membawah empat kali lipat lebih mahal dari saham BBCA, untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.
"Padahal kalau kita bandingkan kemampuan mencetak labanya, kedua bank ini jelas sangat berbeda. BBCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat. Dari segi kemampuan memperbesar laba, BBCA juga berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO, karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun," ujar Rendy.
Dengan beragam pertimbangan dan perbandingan data inilah, menurut Rendy, fenomena yang terjadi pada saham BBCA adalah 'salah harga', dengan pasar justru seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA, yang notabene memiliki potensi demikian besar.
Dengan ketimpangan yang terjadi, maka peluang yang bakal terjadi terhadap saham BBCA ke depan adalah nilai valuasinya yang bakal kembali naik menuju level yang lebih wajar. Momen inilah yang sedang ditunggu oleh jajaran manajemen BBCA, dengan konsisten memborong saham emitennya sendiri tersebut.
"Mereka sedang pasang kuda-kuda, sedang bersiap untuk menyambut momen rebound kencang. Jadi membeli saham BBCA saat ini bisa diibaratkan membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual dengan diskon besar-besaran," ujar Rendy.
(taufan sukma)





