JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi menuai keluhan dari sejumlah masyarakat.
Lonjakan harga ini terjadi bersamaan dengan kenaikan BBM dan sejumlah komoditas pangan, sehingga semakin menekan kondisi ekonomi warga.
Salah satunya dirasakan Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat.
Baca juga: Harga Gas Elpiji 12 Kg Naik, Agen: Pelanggan Ngeluh Mahal tapi Tetap Beli
"Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya," kata Michael kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026).
Michael mengaku baru sekitar satu tahun menggunakan elpiji nonsubsidi.
Sebelumnya, ia memakai gas subsidi 3 kg, namun beralih karena kerap kesulitan mendapatkan gas melon yang semakin langka.
Meski demikian, ia mengaku sudah memperkirakan kenaikan harga tersebut, mengingat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang belum mereda.
"Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul," ucap Michael.
Baca juga: Gas 12 Kg Makin Mahal, Warga Kelas Menengah Terjepit: Tak Bisa Subsidi, Tak Kuat Harga Pasar
Ia menilai kenaikan harga gas akan berdampak langsung pada pengeluaran hariannya.
Apalagi, lonjakan harga ini terjadi bersamaan dengan naiknya harga BBM dan bahan kebutuhan pokok.
Menurut dia, kenaikan harga energi biasanya diikuti kenaikan harga kebutuhan lainnya, sehingga beban pengeluaran semakin berat.
Michael pun mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi sebagai alternatif yang lebih murah.
Namun, ia mengaku terkendala ketersediaan yang sering kosong.
Baca juga: Harga Gas Elpiji 12 Kg Naik, Warga Mampu Mulai Lirik Tabung 3 Kg
"Karena punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg," tuturnya.