Direkam untuk Diperbudak, Modus Predator Mengendalikan Anak

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Predator seksual menyasar anak-anak kesepian karena mudah didekati lewat media sosial. Tak hanya memerkosa, pelaku juga merekam kejahatan itu, lalu memperbudak dan melacurkan korban.

Kompas mendatangi rumah aman Yayasan Sakura Indonesia di suatu tempat di Jawa Barat pada 18 Maret 2026. Yayasan Sakura adalah lembaga nonprofit yang dikenal aktif mendampingi dan merawat korban kekerasan seksual, juga korban perdagangan orang.

Pendiri Yayasan Sakura Indonesia Suarni Daeng Caya menunjukkan sebuah lemari kayu penuh map besar yang berisi berkas-berkas korban yang pernah mereka dampingi. Ia mengambil dua bundel map yang berisi dua kasus kekerasan berbasis jender online atau daring (KBGO) terhadap anak di bawah umur.

Berkas pertama adalah kasus korban SY (21). Ia merupakan korban kekerasan seksual yang dirujuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk menghuni rumah aman Sakura pada 2022. Menurut Suarni, kasus yang menimpa SY terjadi pada 2020 saat korban masih duduk di kelas X SMA dan usianya baru 15 tahun.

”SY tinggal di Kabupaten Bogor. Ayah dia dipenjara karena kasus narkotika, dan ibunya depresi sehingga sering melakukan kekerasan kepada SY yang merupakan anak tunggal,” kata Suarni.

Baca JugaPredator Anak di Gim Daring

Saat itu, SY kerap menceritakan penderitaan yang dia alami di Facebook. Ada seorang laki-laki yang menunjukkan empati dan intens berkomunikasi lewat pesan Facebook hingga akhirnya berlanjut ke Whatsapp. Singkat cerita, SY merasa nyaman dan bersedia diajak jalan-jalan ke Jakarta oleh orang tersebut.

SY diajak ke sebuah tempat kos di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Itulah awal tragedi bermula. Ia diperkosa beramai-ramai, dan kejadian itu difoto serta divideo oleh seorang pelaku. Materi kekerasan seksual tersebut jadi alat pelaku untuk memaksa SY agar tidak kabur dari tempat itu.

”Namun, suatu hari, dia tetap nekat untuk kabur, dan diselamatkan orang yang mengaku tokoh agama,” ujar Suarni.

Ternyata itu hanya tipu daya dan SY lagi-lagi diperkosa. Dia tak bisa mengingat nama dan tempat. Yang dia bisa ingat hanya angka. Setiap hari, jika malam tiba, matanya ditutup, dan dia diperkosa enam orang. Itu terjadi selama berbulan-bulan.

Oleh pelaku yang mengaku tokoh agama, ia dialihkan kepada seorang bernama Bara yang tinggal di sebuah apartemen di Kota Bogor. Selama sekitar satu tahun di tempat itu, SY bercerita kepada Suarni, dirinya telah dilacurkan kepada lebih dari 180 laki-laki. Setelah hamil, pelaku membuang SY ke jalanan begitu saja.

Baca JugaAnak Korban Kekerasan Seksual Berpotensi Kecanduan Seks dan Menjadi Pelaku Kejahatan Seksual
Diperkosa ayah

Berkas kedua yang dipegang Suarni adalah kasus korban AZ (21). Ia diperkosa pacarnya saat masih duduk di kelas I SMA dan berusia 16 tahun. Kejadian itu divideo oleh pacar AZ dan diancam bakal disebarkan ke ayah korban jika tidak menuruti kemauan pelaku.

”Dia dilacurkan secara online lewat aplikasi kencan oleh pacarnya. Foto-foto bugil AZ dipajang oleh pacarnya di aplikasi itu,” tutur Suarni.

Karena tidak tahan dilacurkan terus-menerus oleh pacarnya, AZ menceritakan kepada ayahnya bahwa dirinya telah diperkosa oleh pacarnya dan diancam videonya akan disebarkan. Bukannya melindungi anaknya, ayah AZ justru memerkosa anak itu setiap hari sampai anak itu dewasa.

”Orangtua AZ sudah bercerai. AZ ikut ayahnya di Kabupaten Bogor, sedangkan ibunya tinggal di Cirebon,” kata Suarni.

Pemerkosaan berkepanjangan oleh ayah AZ itu baru terungkap setelah AZ lulus sekolah dan bekerja di sebuah salon kecantikan. Pemilik salon yang melihat luka-luka di tubuh AZ kemudian mendorong dia untuk melapor ke polisi.

Saat dikonfirmasi pada Selasa (14/4/2026), Kepala Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang Polres Bogor Ajun Komisaris Silfi Adi Putri mengatakan, penyidikan terhadap kasus tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) yang dialami AZ telah selesai. Tersangka dalam kasus itu, yang merupakan ayah AZ bernama Azzy Azharie, dan sejumlah barang bukti sudah dilimpahkan ke jaksa.

Baca JugaJebakan Predator di Ruang Digital, Memalukan dan Memperdaya Korban
Diperdaya selebgram

Selain menyambangi Yayasan Sakura Indonesia, tim investigasi Kompas menemui Direktur Yayasan Jiva Artha Indonesia Endang Supriyati pada 31 Maret 2026. Lembaga nonprofit itu aktif mendampingi anak korban eksploitasi seksual dan korban perdagangan orang.

Endang mempertemukan tim Kompas dengan RA (22). Dia juga anak yang tinggal dalam keluarga yang tidak harmonis. Ibu RA berpisah dengan sang ayah sejak RA masih duduk di sekolah dasar. Karena kerap mengalami kekerasan fisik dan verbal dari sang ibu, RA selalu mencari cara agar bisa menjauh dari rumah.

Tawaran itu datang pada akhir 2017. Kebiasaan RA yang sering mengunggah konten selebgram favorit lewat fitur story Instagram dipantau oleh pelaku bernama Joe (17). Ia mengaku tinggal bersama para selebgram favorit RA di apartemen daerah Kalibata.

”Waktu itu, kan, aku masih bocah (umur 14 tahun), ya jelas mau dong gabung ke tongkrongan selebgram. Aku pengin punya follower banyak kayak mereka,” kata RA saat ditemui.

RA kemudian diajak tinggal oleh Joe di apartemen. Dia mengingat ada 6-8 orang yang tinggal satu unit dengannya. Mereka hidup berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan.

”Joe dan laki-laki di apartemen itu istilahnya joki, kalau aku dan cewek lainnya itu dibilangnya anakan. Semuanya kayak gitu. Mereka saling pacaran, tetapi yang laki-laki ngejual cewek masing-masing,” tuturnya.

RA mau dilacurkan karena Joe mengatakan mereka berdua harus bekerja setiap hari agar bisa menabung untuk menikah. Sebagai anak yang tidak betah di rumah, RA merasa pernikahan bakal jadi jalan keluar terbaik untuk menjauh dari ibu yang sering berlaku kasar kepadanya.

Di luar kami kelihatan senang karena sering ”party,” padahal kami disiksa dan dipaksa ngelayani pria siang-malam.

”Sehari aku ngelayanin 7-10 laki-laki hidung belang. Satu orang bayar Rp 300.000, tetapi aku enggak pernah lihat uang itu karena semua dipegang Joe,” ujar RA yang kini bekerja di bagian pemasaran kendaraan bermotor roda dua.

Salah satu selebgram yang tinggal di unit yang sama dengan RA adalah Ana Yulisanti alias Geby Putri. Geby ditemukan tewas melompat dari lantai 8 apartemen pada April 2018.

RA dilacurkan Joe selama lebih kurang enam bulan di apartemen tersebut. Akhirnya RA pergi dari apartemen itu karena sadar telah ditipu lantaran semua uangnya dibawa kabur oleh Joe yang lebih dulu menghilang dari apartemen.

Baca JugaApa Itu ”Child Grooming” dan Bagaimana Mencegahnya?

”Para perempuan yang tinggal bareng aku dulu nyebut apartemen di daerah Kalibata itu dunia tipu-tipu. Di luar kami kelihatan senang karena sering party, padahal kami disiksa dan dipaksa ngelayani pria siang-malam, meskipun kami capek dan badan penuh lecet,” ucapnya.

Menurut Endang yang sudah 14 tahun mendampingi korban-korban eksploitasi seksual, kasus anak mengalami KBGO terus meningkat. Ia menduga anak-anak menjadi lebih cepat mengakses dunia digital karena dunia pendidikan saat pandemi Covid-19 mengharuskan mereka lebih banyak berinteraksi lewat gawai.

”Orangtua pikir semua berjalan aman saat anaknya main ponsel di dalam kamar. Betul, fisik si anak memang di rumah, tetapi pikirannya terpapar segala macam hal, termasuk risiko bertemu predator seksual,” kata Endang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Judul. BNI Pastikan Selesaikan Pengembalian Dana Paroki Aek Nabara Rp28 Miliar Sesuai Hasil Penyidik
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Shin Tae-yong CLBK PSSI? Erick Thohir Beri Kode Keras! Ini Peluang dan Posisi yang Mungkin Diisi di Timnas Indonesia
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Harga BBM Nonsubsidi Naik, Legislator Soroti Minimnya Sosialisasi
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Kinerja Kuat Anthropic Picu Keraguan Investor terhadap Valuasi OpenAI
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Duel “Formalitas” Jakarta Popsivo Polwan vs Jakarta Electric PLN yang Berubah Jadi Ajang Pembuktian
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.