Persaingan strategis jangka panjang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini menjadi fokus utama kesiapan militer AS. Mulai dari isu Selat Taiwan, ketergantungan rantai pasok, hingga ketertinggalan dalam kapasitas produksi seperti perkapalan, militer AS menjadikan Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebagai target strategis sambil memperkuat kemampuannya sendiri.
EtIndonesia. Baru-baru ini (15 April), seorang jenderal senior AS dalam sidang dengar pendapat di Kongres secara tegas menyatakan bahwa di antara negara-negara yang dianggap sebagai lawan, PKT adalah yang paling perlu mendapat perhatian.
“PKT sedang dengan cepat mengembangkan kemampuan militernya di semua domain tempur, dengan tujuan merebut Taiwan secara paksa sekaligus mencegah intervensi Amerika,” ujar Direktur Defense Intelligence Agency (DIA) James Adams.
Su Ziyun, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan di Institute for National Defense and Security Research, menyatakan: “PKT adalah negara daratan yang otoriter. Ekspansinya akan mengancam kelangsungan dan stabilitas sistem demokrasi. Terutama dengan pembangunan angkatan laut samudra jauh, yang berpotensi mengancam rantai pulau pertama dan kedua.”
Pada saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan juga meningkatkan ancaman dari pihak Tiongkok terhadap AS.
James Adams menambahkan: “Tiongkok telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem tanpa awak, dukungan pengambilan keputusan, intelijen, pengawasan dan pengintaian, serta operasi siber.”
Pembawa acara kanal militer “Mark Space”, Mark, mengatakan: “Selain drone di udara, kini juga ada kendaraan tempur tanpa awak di darat, kapal tanpa awak di permukaan laut, serta kapal selam tanpa awak di bawah laut. Ke depan, operasi militer di darat, laut, dan udara akan semakin ditentukan oleh robot tanpa awak dan AI.”
Selain itu, penguasaan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir terhadap industri perkapalan, pasokan material, dan logistik internasional juga mendorong militer AS untuk menyesuaikan strateginya.
Angkatan Udara AS kini meningkatkan pelatihan pilot, memperkuat penyebaran pasukan secara terdispersi, serta meningkatkan fasilitas pangkalan di kawasan Pasifik. Angkatan Darat menekankan penguatan basis industri militer dan kapasitas produksi amunisi. Sementara itu, Angkatan Laut—yang menghadapi tekanan terbesar—berupaya mempertahankan setidaknya 31 kapal amfibi serta memperbaiki sistem logistik dan pemeliharaan.
Mark menambahkan: “Alasan Amerika terus menekankan ancaman dari PKT adalah karena harus melakukan persiapan lebih awal. Mengingat skala dan kekuatan ekonomi Tiongkok jauh melampaui negara seperti Rusia dan Iran, maka tantangan dan tekanan yang dihadapi AS juga jauh lebih besar. Karena itu, AS harus mempersiapkan diri dalam berbagai aspek sejak dini.” (Hui)
Dilaporkan oleh Li Jiayin dan Chang Chun, NTD Television, AS





