CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Jepang kembali diguncang gempa kuat bermagnitudo 7,5 yang terjadi di wilayah utara Pulau Honshu pada Senin (20/4) sore waktu setempat.
Gempa tersebut memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah pesisir timur laut, termasuk Prefektur Aomori, Iwate, dan sebagian Hokkaido.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa gempa terjadi di Samudra Pasifik, dengan episentrum sekitar 71 kilometer dari Kota Miyako, Prefektur Iwate. Getaran kuat ini segera diikuti peringatan din tsunami yang membuat otoritas setempat mengeluarkan instruksi evakuasi massal.
Gelombang tsunami pertama setinggi 40 sentimeter dilaporkan telah mencapai pesisir Prefektur Iwate.
Sementara itu, tinggi maksimum tsunami tercatat mencapai 80 sentimeter di wilayah tersebut. Selain itu, gelombang juga terdeteksi di laut sekitar 50 kilometer dari Prefektur Miyagi.
Penyiar publik melaporkan bahwa tsunami terus bergerak menuju wilayah pesisir lainnya, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi.
Sebagai langkah antisipasi, sedikitnya 20.000 warga telah dievakuasi. Rinciannya, sekitar 9.640 orang di Kota Otsuchi dan sekitar 11.000 orang di Kota Kamaishi telah dipindahkan ke lokasi aman.
Di tengah situasi ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan bahwa tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban akibat gempa dan tsunami tersebut.
“Hingga saat ini, belum terdapat laporan terkait WNI yang terdampak gempa,” kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam pernyataan tertulis.
Ia menambahkan bahwa pihak KBRI Tokyo terus melakukan komunikasi intensif dengan komunitas WNI di wilayah terdampak, khususnya di Prefektur Aomori dan Iwate.
“Hingga saat ini, belum terdapat laporan terkait WNI yang terdampak gempa,” tegasnya.
Kemlu juga mengimbau seluruh WNI yang berada di wilayah Aomori, Iwate, dan Hokkaido untuk terus memantau perkembangan situasi serta mengikuti instruksi evakuasi dari otoritas setempat.
Bagi WNI yang membutuhkan bantuan darurat, KBRI Tokyo menyediakan layanan hotline di nomor +81-80-3506-8612 atau +81-80-4940-7419.
Sementara itu, pemerintah Jepang memastikan bahwa tidak ada dampak serius terhadap fasilitas vital. “Tidak ada situasi abnormal terdeteksi di pembangkit listrik tenaga nuklir" di wilayah Aomori dan Miyagi.
Selain itu, operasional kereta cepat sempat dihentikan sementara sebagai langkah pengamanan pascagempa.
Hingga kini, otoritas Jepang masih terus memantau potensi gelombang susulan serta mengimbau masyarakat untuk tetap siaga terhadap kemungkinan tsunami lanjutan.
Sumber: ANTARA-OANA




