Layakkah Jusuf Kalla Disebut Negarawan? Efriza: Dia Rela Tidak Populer Demi Lindungi Presiden

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sosok Jusuf Kalla (JK) kerap mengundang polemik lewat pernyataan-pernyataannya yang tajam. Namun, di balik itu, rekam jejak panjang sang "Raja Maros" di panggung pemerintahan sulit untuk diabaikan.

Peneliti senior Citra Institute, Efriza, menilai sebutan negarawan bagi JK memiliki dasar yang kuat jika merujuk pada kontribusinya menyelesaikan berbagai konflik besar di tanah air.

BACA JUGA: Hubungan JK dan Simpatisan Jokowi-PSI Memanas, Efriza: Gibran Bisa Kena Getahnya

"Jika melihat rekam jejaknya, sebutan negarawan itu punya dasar. Di era JK, berbagai konflik daerah berhasil diselesaikan, seperti MoU Helsinki antara Pemerintah dan GAM, hingga kasus Poso dan Ambon," ujar Efriza kepada JPNN.com, Senin (20/4).

Efriza menilai JK memiliki keterampilan khusus sebagai penengah konflik dan selalu mendorong konsensus demi kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

BACA JUGA: Efriza Sebut JK Tak Bisa Diam Kayak SBY, Masih Dibutuhkan untuk Penyeimbang

Bahkan, Efriza mengingatkan kembali peran dominan JK saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga sempat dijuluki sebagai The Real President. Begitu pula saat periode pertama bersama Jokowi.

"Kehadiran JK sebagai wakil presiden saat itu membuat Jokowi cenderung lebih berpihak kepada rakyat dibandingkan periode keduanya," lanjutnya.

BACA JUGA: JK Ungkit Jasanya terhadap Karier Politik Jokowi, Efriza: Itu Akumulasi Emosi karena Dilecehkan

Salah satu catatan unik yang diingat Efriza adalah keberanian JK pada Pemilu 2009. Saat itu, Indonesia mencetak sejarah dengan metode mencontreng (centang), bukan mencoblos.

"Itu didasari pandangan JK bahwa rakyat kita jangan dinilai bodoh atau terbelakang pendidikannya. Meskipun ada juga kebijakan kontroversial seperti konversi minyak tanah ke gas," paparnya.

Satu hal yang paling menonjol dari sisi "pasang badan" seorang JK adalah terkait kebijakan ekonomi yang pahit. Efriza mencatat, saat dua presiden yang didampinginya memutuskan menaikkan harga BBM, JK-lah yang cenderung tampil mengumumkannya ke publik.

"JK bersedia menjadi pelindung presiden. Dia siap mengambil peran yang tidak populer di mata masyarakat demi menjaga wibawa presidennya. Itu salah satu kualitas negarawan," tegas Efriza.

Meski demikian, Efriza memaklumi jika kelompok 'Termul' (Ternak Mulyono) saat ini kurang setuju dengan label negarawan bagi JK, terutama karena sikap kritis JK yang kerap menyerang Jokowi.

"Wajar jika ada yang tidak setuju, tergantung perspektif politiknya. Namun, catatan penting bagi Pak JK, status negarawan itu harus terus dijaga melalui sikap, narasi, dan keteladanan. Jangan sampai 'terpeleset' di kemudian hari," pungkasnya.(mcr8/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Kenny Kurnia Putra


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Unggul Telak di Pemilihan Dekan, Petahana Dekan FISIP Unhas Ajak Semua Elemen “Jalan Bareng”
• 5 jam laluharianfajar
thumb
Ibu Korban Penyiraman Air Keras Murka karena Penahanan Pelaku Ditangguhkan, Begini Jawaban Polisi
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Bhayangkara FC Ungkap Dugaan Ucapan Rasis di Balik Tendangan Kungfu Fadly Alberto
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Musimin, Tiga Dekade Menjaga Anggrek Tetap Lestari di Merapi
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Wamenhaj Sebut Persiapan Keberangkatan Jemaah Haji Sudah 100% | SAPA PAGI
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.