Kisah Sugiarto, Atlet Tenis Meja Difabel Tegar Di-bully hingga Raih Prestasi

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Kondisi kaki kanannya yang lumpuh sejak usia 5 tahun tak menjadikan Sugiarto (53) menyerah. Ia berdiri tegar, bertekad menjadi seorang atlet cabang olahraga tenis meja.

Sugiarto adalah salah satu atlet disabilitas asal Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Ia bercerita saat berusia lima tahun, mengalami sakit panas. Kemudian dibawa berobat dan disuntik. Namun, kaki kanannya justru mengalami kelumpuhan. Sugiarto kemudian memakai kruk, namun hal itu menjadikannya kerap di-bully.

"Saya memakai kruk untuk alat bantu berjalan ketika duduk di bangku kelas 1 SD sampai kelas 5 SD. Tetapi karena sering di-bully dan kruk saya kerap disembunyikan teman, akhirnya saya tidak menggunakan kruk," kata Sugiarto, Senin (20/4).

Saat bersekolah di bangku kelas 5 SD hingga jenjang SMA dirinya berjalan tanpa kruk, namun ia harus menekan lutut kaki kanannya. Hal itu dilakukan untuk memudahkannya berjalan.

Kemudian pada tahun 2010, Sugiarto mulai menekuni tenis meja sebagai atlet disabilitas. Ia menjatuhkan pilihan ke tenis meja lantaran kecintaannya dengan olahraga itu. Meski ada keterbatasan pada kaki, ia tak mengeluh.

"Saya suka olahraga tenis meja. Menurut saya olahraga ini seru. Berawal dari tenis meja, saya memiliki banyak teman," terangnya.

Pada tahun 2018 ia pernah mengikuti kejuaraan setara tarkam atau antar kampung. Ia berpasangan dengan putranya menghadapi lawan yang kondisinya normal. Hasilnya ia memenangkan kejuaraan tersebut dengan menyabet juara tiga.

Ia sudah mengenal lama olahraga tenis meja. Terkadang ia bertanding dengan orang normal. Menurutnya, kemampuannya masih oke.

Namun, ia tidak menampik, bertanding dengan menggunakan alat bantu kaki (brace, red) sedikit memperlambat gerakan kakinya ketika mengembalikan bola, terutama saat jangkauan bolanya jauh.

"Tetapi saya selalu yakin dan merasa mampu untuk berkompetisi. Terlebih kedua tangan saya dan kaki kiri saya normal," ujarnya.

Jalan terjal yang dialaminya menekuni cabang olahraga tenis meja tidak hanya dalam urusan bertanding di lapangan. Dari segi nonteknis perihal biaya akomodasi untuk bertanding sering dialaminya.

"Setiap ada event tenis meja, saya sering berangkat menggunakan biaya pribadi," jelasnya.

Pada tahun 2020 sampai 2025, Sugiarto memilih rehat dari kesibukan menjadi atlet. Ia memilih untuk melatih. Mulai dari menjadi asisten pelatih untuk Kejuaraan Peparnas di Bandung tahun 2016, menjadi asisten pelatih Kejuaraan Peparnas di Papua tahun 2021 dan menjadi pelatih di National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Jawa Tengah untuk persiapan Peparnas 2024 di Solo.

Kabar terbaru, dia ingin comeback menjadi atlet tenis meja lagi di ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jawa Tengah 2026 di Kota Semarang pada November mendatang. Pria dua anak itu rencananya akan terjun di nomor perorangan TT7 Putra.

Meski terakhir kali memukul bola pada 2019 silam, ia yakin bisa naik podium tahun ini. Tak ingin muluk-muluk, Sugiarto sadar usianya tak lagi muda. Dirinya memilih mengincar perunggu di podium tiga.

"Saya masih menunggu pendaftaran dan informasi lanjutan. Kabar yang ada saat ini baru sebatas lokasi di Semarang dan kemungkinan digelar di bulan November 2026," ucapnya.

Sederet Prestasi

Keinginan meraih prestasi di usia yang tak lagi muda mendorongnya untuk kembali mengikuti kejuaraan. Dia ingin mencoba kemampuannya masih bisa bersaing naik ke podium atau tidak.

Sederet prestasi yang pernah diraihnya menjadi modal untuk bertanding di Peparprov 2026 nanti. Ia pernah meraih juara 3 Peparprov Tenis Meja NPC Jawa Tengah 2014 di Solo, Juara 3 Peparprov 2018 di Solo, dan Juara 3 Peparprov 2019 di Cilacap.

Kini, ia mulai rutin berlatih servis, drilling, dan uji tanding. Latihan itu dilakukannya pada Jumat dan Sabtu. Sementara itu, jadwal latihan fisik dijalaninya setiap Jumat, Sabtu dan Minggu. Ia tak menampik staminanya mengalami penurunan usai vakum lama.

Melihat gaya bermain calon lawan juga dilakoninya. Itu dilakukan agar mengetahui kelebihan dan kelemahan lawannya nanti. Atlet tenis meja asal Solo dan Wonogiri diprediksi bakal menyulitkannya. Ia paham betul performa atlet dari dua daerah tersebut karena sering bertemu di berbagai kejuaraan.

"Target saya di Peparprov 2026 nanti bisa membawa pulang perunggu. Semoga bisa tampil maksimal dan memberikan medali untuk Kabupaten Kudus," imbuhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gambar Balita di Kemasan AMDK Asing Dinilai Langgar Aturan, Ini Kata BPKN dan KPAI
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Petugas UPK Badan Air Temukan Mayat Pria Tanpa Identitas Mengapung di Kali Ciliwung Lenteng Agung
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Selain Skorsing, 16 Mahasiswa IPB Pelaku Pelecehan Dihukum Ikut Kegiatan Sosial
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
”Hutan Perempuan”,  Hak Kolektif yang Terabaikan
• 19 jam lalukompas.id
thumb
JK Vs Termul, Relawan Ungkit soal ‘Hancur Negara Kalau Jokowi Jadi Presiden’
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.