Industri Sawit Nasional Hadapi Tantangan Traceability, Ini Kata Pakar

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan serius dalam penerapan traceability atau ketertelusuran produk, terutama di tengah meningkatnya tuntutan pasar global yang semakin ketat terhadap aspek keberlanjutan. Uni Eropa melalui Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) kini mensyaratkan komoditas seperti sawit dapat dibuktikan bebas deforestasi dan bisa ditelusuri hingga ke kebun asal.

Strategic Advisor CECT Sustainability Universitas Trisakti, Windrawan Inantha, mengatakan Uni Eropa telah berubah peran dalam perdagangan sawit global.

Baca Juga :
Negara Tetangga RI Ini Ngebut Olah Sawit Jadi BBM, 19 Pabrik Disiapkan untuk Produksi 1,5 Juta Liter per Bulan
Didominasi Segmen Korporasi, Kredit Nasional Tumbuh 10,42 Persen di Kuartal I-2026

“Uni Eropa melalui Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EU Deforestation Regulation/EUDR) menuntut komoditas seperti kelapa sawit dapat dibuktikan bebas deforestasi hingga bisa dilacak perjalanan produk mulai dari produk akhir di supermarket hingga kembali ke lokasi kebun asal,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Senin, 20 April 2026.

Ia menilai Uni Eropa kini tidak lagi sekadar pasar, tetapi juga penentu arah industri sawit global. “Dalam ranah perdagangan sawit global Uni Eropa telah beralih dari pasar atau pembeli produk menjadi penentu arah industri," sambungnya. 

Ia menjelaskan, tekanan Uni Eropa ini menjadi tantangan besar bagi industri sawit nasional. "Karena selama ini pasar domestik hampir tidak pernah meminta informasi kebun asal CPO dalam botol minyak goreng atau produk turunan.”

Menurutnya, dorongan traceability lebih banyak datang dari tekanan pasar global. “Traceability sawit hari ini lebih banyak lahir dari tekanan akses pasar dan tata kelola global daripada dari dorongan konsumen domestik,” tambahnya. 

Windrawan menjelaskan, salah satu tantangan utama traceability di Indonesia adalah struktur kepemilikan kebun sawit, di mana sekitar 42 persen dikelola oleh petani kecil. Kondisi ini membuat petani menjadi titik paling rentan dalam rantai pasok.

Ia menyebut ada lima tantangan utama di level petani, yakni legalitas lahan, kapasitas teknis, insentif ekonomi yang lemah, biaya sertifikasi dan pengorganisasian, serta keterbatasan SDM pendamping.

“Sistem yang menuntut geolokasi presisi, dokumen legal, pencatatan administrasi, dan koneksi digital akan selalu lebih mudah dijalankan oleh perusahaan besar daripada oleh petani swadaya,” tegasnya.

Windrawan menilai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) perlu berperan lebih kuat sebagai katalis transformasi industri sawit nasional, termasuk dalam penguatan sistem traceability.

Baca Juga :
Pemerintah Blak-blakan Penyebab Rendahnya Produktivitas Tebu Nasional, Ini Alasannya
Klaim Carbon Sink Sawit Jadi Sorotan, Pemerintah Perkuat Standar ISPO
Negara Tetangga RI Ini Gaspol Biodiesel B30, Permintaan Sawit Diproyeksi Naik hingga 1,5 Juta Ton

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketika Billie Eilish Jadi "One Less Lonely Girl" Justin Bieber di Coachella 2026
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Tantangan Baterai dan Jaringan Transmisi di Balik Era Energi Surya
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Satgas PKH Terapkan Denda Triliunan Dinilai Bermanfaat bagi Negara
• 49 menit laluokezone.com
thumb
Kebut Proyek Tol, Emiten Jusuf Hamka (CMNP) Mau Rights Issue 2,23 Miliar Saham
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Polisi Xinjiang Melarikan Diri ke Jerman, Ungkap Dugaan Penyiksaan Mematikan Muslim Uighur di “Kamp Konsentrasi”, Ia Pernah Bertugas di Kamp Selama 9 Tahun 
• 15 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.