Jakarta, tvOnenews.com - Ketertelusuran atau traceability kini menjadi isu krusial dalam industri kelapa sawit nasional. Bukan sekadar tuntutan administratif, sistem ini menjadi kunci utama untuk menjaga akses pasar global, terutama ke Uni Eropa, sekaligus memperkuat praktik tata kelola berkelanjutan.
Tekanan tersebut muncul seiring diberlakukannya Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EU Deforestation Regulation/EUDR) yang mewajibkan setiap produk berbasis komoditas seperti kelapa sawit dapat dibuktikan bebas dari praktik deforestasi. Tak hanya itu, rantai pasoknya pun harus dapat ditelusuri secara menyeluruh, mulai dari produk akhir di pasar hingga ke lokasi kebun asal.
Strategic Advisor CECT Sustainability Universitas Trisakti, Windrawan Inantha, menilai posisi Uni Eropa dalam perdagangan global telah mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya hanya berperan sebagai pasar, kini kawasan tersebut menjadi penentu standar industri.
Menurutnya, tekanan dari Uni Eropa justru lebih dominan dalam mendorong penerapan traceability dibandingkan permintaan dari pasar domestik. Selama ini, konsumen dalam negeri belum menuntut transparansi asal-usul bahan baku minyak sawit secara detail.
“Traceability sawit saat ini lebih banyak didorong oleh tuntutan pasar global, bukan dari kebutuhan konsumen domestik,” ujar Windrawan di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia, terutama dalam menyesuaikan standar global yang semakin ketat.
Petani Kecil Jadi Titik Paling RentanSalah satu hambatan terbesar dalam penerapan traceability adalah struktur industri sawit nasional yang didominasi oleh petani kecil. Tercatat sekitar 42 persen lahan sawit di Indonesia dikelola oleh petani swadaya.
Dalam konteks ini, petani kecil menjadi titik paling rentan dalam rantai pasok. Ada sejumlah kendala utama yang menghambat implementasi sistem ketertelusuran di tingkat akar rumput, antara lain:
-
Legalitas lahan yang belum jelas
-
Kapasitas teknis yang terbatas
-
Insentif ekonomi yang belum menarik
-
Biaya sertifikasi dan pengorganisasian yang tinggi
-
Keterbatasan sumber daya manusia pendamping
Sistem traceability sendiri menuntut akurasi data tinggi, termasuk penggunaan geolokasi, pencatatan administratif, serta integrasi digital. Hal ini dinilai lebih mudah diterapkan oleh perusahaan besar dibandingkan petani kecil yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan pengetahuan.




